Jumat, 19 Juli 2013

PENDEKATAN KONTEKSTUAL

PENDEKATAN KONTEKSTUAL
 Oleh : Dirgantara Wicaksono
A. Latar belakang
            Ada kecendrungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan memgetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang
             
            Pendekatan kontektual(Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil

            Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual

B. Pemikiran tentang belajar

            Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecendrungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut.

1.      Proses belajar
·                     Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri
·                     Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru
·                     Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki sesorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan
·                     Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisak, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
·                     Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.
·                     Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi didrinya, dan bergelut dengan ide-ide
·                     Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan sesorang.

2.      Transfer Belajar


·                     Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain
·                     Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi sedikit)
·                     Penting bagi siswa tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu

3.      Siswa sebagai Pembelajar

·                     Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru
·                     Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting
·                     Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui.
·                     Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri.

4.      Pentingnya  lingkungan Belajar

·                     Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari guru akting di depan kelas, siswa menonton ke siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan.
·                     Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka.Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya
·                     Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian yang benar
·                     Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.

C. Hakekat Pembelajaran Kontekstual
           
            Pembelajarn kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)

D.Pengertaian CTL
            1. Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.
            2.  Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata  dan mendorong pebelajar membuat hubungan antara materi yang diajarkannya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat

E. Perbedaan Pendekatan Kontekstual Dengan Pendekatan Tradisional

NO.
CTL
TRADISONAL

2.
Pemilihan informasi berdasarkan kebutuh-an siswa
Pemilihan informasi di-tentukan oleh guru
1.
Menyandarkan pada memori spasial (pemahaman makna)
Menyandarkan pada hapalan
3.
Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran
Siswa secara pasif menerima informasi

4.
Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/-masalah yang disi-mulasikan
Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis

5.
Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa
Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan

6.
Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang
Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu


7.
Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok)
Waktu belajar siswa se-bagian besar dipergu-nakan untuk mengerja-kan buku tugas, men-dengar ceramah, dan mengisi latihan yang membosankan (melalui kerja individual)
8.
Perilaku dibangun atas kesadaran diri
Perilaku dibangun atas kebiasaan
9.
Keterampilan dikem-bangkan atas dasar pemahaman
Keterampilan dikem-bangkan atas dasar latihan
10.
Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri
Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor
11.
Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tsb keliru dan merugikan
Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman
12.
Perilaku baik berdasar-kan motivasi intrinsik
Perilaku baik berdasar-kan motivasi ekstrinsik
13.
Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks dan setting
Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas
14.
Hasil belajar diukur  melalui penerapan penilaian autentik.
Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan.






BAB 2


PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DI KELAS
CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini.
1.      Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya
2.      Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
3.      kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
4.      Ciptakan masyarakat belajar
5.      Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
6.      Lakukan refleksi di akhir pertemuan
7.       Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara
A.    Tujuh Komponen CTL
  1. KONSTRUKTIVISME
l  Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal
l  Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan
      2.  INQUIRY
l  Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman
l  Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis

3.  QUESTIONING (BERTANYA)
l  Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa
l  Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry

4. LEARNING COMMUNITY (MASYARAKAT BELAJAR)
·         Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar
·         Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri
·         Tukar pengalaman
·         Berbagi ide
5.      MODELING (PEMODELAN)
·         Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar
·         Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya
6. REFLECTION ( REFLEKSI)

n  Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari
n  Mencatat apa yang telah dipelajari
n  Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok

7. AUTHENTIC ASSESSMENT (PENILAIAN YANG SEBENARNYA)

n       Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa
n  Penilaian produk (kinerja)
n  Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual
B.     Karakteristik Pembelajaran  CTL 
n    Kerjasama
n    Saling menunjang
n    Menyenangkan, tidak membosankan
n    Belajar dengan bergairah
n    Pembelajaran terintegrasi
n    Menggunakan berbagai sumber
n    Siswa aktif
n    Sharing dengan teman
n    Siswa kritis guru kreatif
n    Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain
n    Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain

MENYUSUN RENCANA PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKSTUAL
            Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessmennya.
            Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya.
Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Sekali lagi, yang membedakannya hanya pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya.
            Atas dasar itu, saran pokok dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut
  1. Nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara Standara Kompetensi, Kompetensi dasar, Materi Pokok dan Pencapaian Hasil Belajar
  2. Nyatakan tujuan umum pembelajarannya
  3. Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu
  4. Buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan siswa
  5. Nyatakan authentic assessmentnya, yaitu dengan data apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran.

Minggu, 16 Juni 2013

Konsep Pembelajaran Sejarah

Konsep  Pembelajaran Sejarah
by: BomBom
Pembelajaran sejarah adalah dua konsep yang sama-sama memiliki arti masing-masing. Istilah sejarah bagi para ahli diartikan berbeda-beda. Perbedaan dalam literatur tentang istilah sejarah akhir-akhir ini pada dasarnya ada dua konsep, yaitu sejarah sebagai peristiwa masa lalu (past event, res gestae); dan sejarah peristiwa sebagaimana diceritakan (historia rerum gestarum).[1] Sejarah dalam arti pertama, sebagaimana dikemukakan oleh Taufik Abdullah, diceritakan atau tidak, peristiwa itu terjadi. Menurut Kuntowijoyo Sejarah seperti itu sebagai peristiwa masa lalu yang terjadi di luar pengetahuan manusia, disebut sejarah objektif.[2]
Sejarah sebagaimana diceritakan adalah peristiwa masa lalu yang diceritakan, memiliki pengertian yang sama sebagai peristiwa yang terjadi atas sepengetahuan manusia, disebut oleh Kuntowijoyo sebagai sejarah subyektif.[3] Sejarah subjektif adalah sejarah sebagai pelaksanaan riset yang dilakukan oleh sejarawan, menghasilkan pernyataan-pernyataan peristiwa-peristiwa masa lalu.
Sejarah dalam arti subjektif adalah terminologi sejarah sebagai disiplin ilmiah. Beberapa ahli, sejarawan, dan filsuf mengartikan sejarah secara beragam. Ada yang mengatakan sejarah sebagai kisah atau narasi seperti yang dikemukakan oleh Voltaire sebagaimana dikutip oleh Kochhar, sejarah adalah narasi fakta-fakta yang diterima sebagai sesuatu yang benar. Sejarah juga diartikan sebagai catatan sebagaimana arti sejarah yang dikemukakan oleh Burckhardt menyatakan bahwa sejarah merupakan catatan tentang suatu masa yang ditemukan dan dipandang oleh generasi dari zaman yang lain.[4] Sejarah juga diartikan sebagai ilmu. Sebagai ilmu sejarah memiliki metodologi penelitian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, seperti dikemukakan oleh Richard E. Evans yang dikutip Sjamsuddin bahwa  “sejarah adalah batang tubuh pengetahuan yang terorganisasi yang diperoleh melalui penelitian yang dilaksanakan sesuai dengan metode-metode yang disepakati umum, dipresentasikan dalam laporan-laporan yang dipublikasikan dan menjadi pokok yang direvie oleh pakar mitra.”[5]
Dari pendapat para ahli tentang definisi sejarah dapat disimpulkan bahwa sejarah adalah peristiwa masa lalu tentang manusia baik individu maupun masyarakat yang dihadirkan pada masa kini baik diceritakan maupun hasil dari penelitian sejarawan.
Kenyataan menunjukkan bahwa sejarah terus diteliti dan ditulis orang serta dipelajari membuktikan bahwa sejarah itu memiliki kegunaan.[6] Selanjutnya, Kuntowijoyo menjelaskan lebih detail, sejarah berguna secara intrinsik dan ekstrinsik.[7] Secara intrinsik sejarah berguna untuk mengetahui masa lampau. Mengapa orang ingin mempelajari masa lampau karena manusia itu ingin memecahkan misteri, ingin tahu tentang apa yang terjadi di masa lampau. Secara esktrinsik sejarah berguna sebagai sarana pendidikan. Menurut Sjamsuddin, guna ekstrinsik sejarah sebagai sarana pendidikan berpangkal dari kebutuhan kehidupan modern dari masyarakat industrialis akan pendidikan non-teknis untuk kembali ke pengetahuan tradisional agar dapat menuntut pada masyarakat yang demokratis.[8]
Kegunaan sejarah sebagai media pendidikan banyak dikemukakan oleh para ahli. Menurut Djoko Suryo posisi sejarah memiliki peran sangat strategis sebagai sarana bagi pendidikan, baik pendidikan intelektual (intelectual training), pendidikan kesadaran-diri kolektif dan pendidikan civil society yang bertanggungjawab terhadap bangsa dan negara.[9] Sejalan dengan pendapat Joko Suryo, Conal Furay dan Michael J. Salevouris seperti yang dikutip oleh Peters N. Stearns, menyatakan “pembelajaran sejarah mengajarkan kemampuan analisis yang sangat bermanfaat dalam bidang akademik dan memelihara rasa identitas.”[10] Carl Becker memperkuat dengan menyatakan bahwa “setiap orang harus keluar dari negeri yang jauh dari masa lalu untuk menginformasikannya ke masa sekarang dan masa depan. Melalui pengetahuan sejarah, hari ini akan menjadi tanpa tujuan dan besok tanpa makna. Sejarah berfungsi sebagai memori kolektif. Tanpa memori kolektif masyarakat akan sama tanpa akar dan hancur sebagai sebuah individu dengan amnesia, sejarah berkontribusi pada makna, tujuan dan kohesi masyarakat.
Sejarah dapat memberikan inspirasi kepada kita tentang gagasan dan konsep yang dapat digunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan masa kini, sebagaimana dikemukakan oleh Taufik Abdullah bahwa dengan mempelajari sejarah orang dapat menghindari kegagalan dan kesalahan yang pernah sebelumnya dilakukan serta menemukan sumber-sumber baru untuk merumuskan visi masa depan.[11]
Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa kegunaan sejarah dari segi pendidikan bahwa sejarah dapat menjadi sumber pengetahuan yang dari sumber itu seseorang dapat mengambil makna dari pengalaman di masa lalu dan menjadi bijak.
Istilah pembelajaran menurut Reigeluth saat ini semakin mengarah pada konstruksi (construction) dan meninggalkan pengajaran (instruction), yang berimplikasi pada peran siswa dalam proses belajar. Pengajaran merujuk apa yang harus dikerjakan oleh siswa, siswa berperan pasif dalam proses belajar. Sedangkan kontruksi merujuk apa yang diselesaikan oleh siswa, siswa berperan aktif dalam proses belajar.[12] Pembelajaran yang mengarah pada konstruktivis, jika yang terjadi dalam pengajaran adalah apa yang siswa lakukan dan apapun yang dilakukan oleh guru yang bertujuan untuk memfasilitasi belajar.
Belajar sendiri menurut Staincok adalah pengaruh yang relatif permanen pada pengetahuan, perilaku dan keterampilan berfikir yang diperoleh melalui pengalaman.[13] Dari pengertian tersebut bahwa belajar sama dengan pengalaman, tetapi pengalaman yang membawa perubahan pada pengetahuan, perilaku dan keterampilan berfikir seseorang. Seseorang yang dikatakan belajar berarti orang yang telah memiliki dan bertambah pada aspek pengetahuan, perilaku dan keterampilan yang sebelumnya tidak dimiliki atau sebelumnya sedikit.
Pembelajaran dalam arti konstrusi, peran guru terjadi ketika guru membantu siswa memperoleh informasi, gagasan, keterampilan, nilai, cara berfikir dan tujuan mengekspresikan diri mereka sendiri. Peran guru dalam pembelajaran adalah melibatkan siswa dalam tugas-tugas yang syarat muatan kognitif dan sosial, mengajari bagaimana mengerjakan tugas-tugas secara produktif, mengajari bagaimana siswa  menyerap dan menguasai informasi. Sedangkan peran murid dalam pembelajaran adalah mampu menggambarkan informasi dan gagasan; menggunakan sumber-sumber belajar.[14]  Pembelajaran yang efektif akan terjadi apabila guru dan siswa sama-sama memainkan peran masing-masing.
Dalam kaitannya dengan pembelajaran sejarah, menurut Stearn, pembelajaran sejarah bertujuan untuk “… membantu siswa memahami bagaimana dunia bekerja dan bagaimana manusia berperilaku, pengetahuan tentang masa lalu diperlukan untuk memahami kenyataan hari ini.”[15] Agar pembelajaran sejarah dapat memberikan dampak pada siswa, Stearn menyarankan pembelajaran sejarah harus mengembangkan keterampilan untuk menilai bukti, keterampilan untuk berinterpretasi dan keterampilan untuk menilai contoh perubahan.
Lebih luas, Kochhar mengatakan bahwa pembelajaran sejarah di sekolah harus mencapai empat belas sasaran yang mencakup dimensi kognitif, afektif dan psikomotor. Termasuk dalam dimensi kognitif, yaitu: 1) mengembangkan pemahaman tentang diri sendiri; 2) memberikan gambaran yang tepat tentang konsep waktu, ruang dan masyarakat; 3) membuat masyarakat mampu mengevaluasi nilai-nilai dan hasil yang telah dicapai oleh generasinya; 4) memperluas cakrawala intelektualisme; 5) memberikan pelatihan mental; 6) melatih siswa menangani isu-isu kontroversial. Sedangkan dimensi afektif dari pembelajaran sejarah, yaitu 1) mengajarkan toleransi; 2) menanamkan sikap intelektual; 3) mengajarkan prinsip-prinsip moral;  4) menanamkan orientasi ke masa depan; 5) membantu mencarikan jalan keluar bagi masalah sosial dan perseorangan; 6) memperkokoh rasa nasionalisme, dan; 7) mengembangkan pemahaman internasional. Dimensi psikomotor adalah mengembangkan keterampilan yang berguna seperti keterampilan membaca, menyatakan pendapat, menggunakan peta, diagram, timeline dan sebagainya.



[1] Helius Sjamsuddin, Metodologi Sejarah (Yogyakarta: Ombak, 2007), h. 9
[2] Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, (Yogyakarta: Bentang Budaya, 1999), h. 9.
[3] Ibid.
[4] S.K. Kochhar, Pembelajaran Sejarah, terjemahan Purwanta dan Yovita Hardiwati (Jakarta: Grasindo, 2008), h. 2.
[5] Helius Sjamsuddin, Metodologi Sejarah, (Yogyakarta: Ombak, 2007), h. 9
[6] Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah (Yogyakarta: Bentang Budaya, 1999), h. 19.
[7] Ibid.
[8] Helius Sjamsuddin, Metodologi Sejarah, (Yogyakarta: Ombak, 2007), h. 278.
[9] Djoko Surjo, “Pelajaran Sejarah yang Baik, Sebuah Catatan”, makalah yang disampaikan pada Simposium Pengajaran Sejarah, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sukabumi, 8-11 Agustus 1993.
[10] Peter N. Stearnes, “The uses of history”, www.studentsfriend.com/onhist/uses/html.
[11] Taufik Abdullah, “Sejarah Menentukan Masa Depan”, makalah yang disampaikan pada Konferensi Pers pada Konferensi IAHA ke-15, Jakarta, 1998.
[12] Charles M. Reigeluth dan Alison A. Carr-Chellman (Editor), Instructional Design Theory and Models: Building a Common Knowledge Base, Volume III (New York: Routledge, 2009), h. 6.
[13] John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, terjemahan Tri Wibowo B.S. (Jakarta: Kencana, 2010), h. 265.
[14] Bruce Joyce, Marsha Weil, dan Emilyy Calhoun, Model-Model Pembelajaran, Edisi Kedelapan, terjemahan Achmad Fawaid dan Ateilla Mirza (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 7.
[15] Peter N. Stearn, “The Uses of History”, h. 2, 2011, www.studentsfriend.com/onhist/uses/html.

Kamis, 09 Mei 2013

sejarah un


Sejarah Ujian Nasional ( 1965 – 2013 )
BY :  {bOMbOM}

Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, sistem ujian nasional telah mengalami beberapa kali perubahan dan penyempurnaan. Perkembangan ujian nasional tersebut, yaitu:
1. Periode 1965 - 1971
Pada periode ini, sistem ujian akhir yang diterapkan disebut dengan Ujian Negara, berlaku untuk hamper semua mata pelajaran. Bahkan ujian dan pelaksanaannya ditetapkan oleh pemerintah pusat dan seragam untuk seluruh wilayah di Indonesia.
2. Periode 1972 - 1979
Pada tahun 1972 diterapkan sistem Ujian Sekolah. Dengan penerapan ini, setiap atau sekelompok sekolah menyelenggarakan ujian akhir masing-masing. Soal dan pemprosesan hasil ujian semuanya ditentukan oleh masing-masing sekolah/kelompok sekolah. Pemerintah pusat hanya menyusun dan mengeluarkan pedoman yang bersifat khusus.
3. Periode1980 - 2000
Untuk meningkatkan dan mengendalikan mutu pendidikan serta diperolehnya nilai yang memiliki makna yang "sama" dan dapat dibandingkan antar-sekolah, maka sejak tahun 1980 dilaksanakan ujian akhir nasional yang dikenal dengan sebutan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas). Dalam Ebtanas dikembangkan sejumlah perangkat soal yang "parallel" untuk setiap mata pelajaran dan penggandaan soal dilakukan di daerah.
4. Periode 2001 - 2004
Sejak tahun 2001, Ebtanas diganti dengan penilaian hasil belajar secara nasional dan kemudian berubah nama menjadi Ujian Akhir Nasional (UAN) sejak 2002. Perbedaan yang menonjol antara UAN dengan Ebtanas adalah dalam cara menentukan kelulusan siswa, terutama sejak tahun 2003. Dalam Ebtanas, kelulusan siswa ditentukan oleh kombinasi nilai semester I (P), nilai semester II (Q), dan nilai Ebtanas murni (R), sedangkan pada UAN ditentukan oleh nilai mata pelajaran secara individual.
5. Periode 2005 - sekarang
Untuk mendorong tercapainya target wajib belajar pendidikan yang bermutu, pemerintah menyelenggarakan Ujian Nasional (UN) untuk SMP/MTs/SMPLB dan SMA/SMK/MA/SMALB/SMKLB.


6. Periode 2008 - sekarang
Untuk mendorong tercapai target wajib belajar pendidikan yang bermutu, mulai tahun ajaran 2008/2009 pemerintah menyelenggarakan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) untuk SD/MI/SDLB.
7. Periode  2013 ?
Semoga Tidak ada lg ujian Nasional, dengan mempercayakan keberhasilan hasil belajar siswa kepada para pendidik / Guru.