Jumat, 19 Juli 2013

Metode pembelajaran Sejarah dalam kurikulum 2013

Metode yang tepat dalam Pembelajaran Sejarah 
oleh : Dirgantara Wicaksono (Ketua Pendiri klub Tempo Doeloe)
            Metode yang dipergunakan guru perlu mendapat perhatian agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Misalnya tujuan pembelajaran untuk menjelaskan tentang reformasi di Indonesia. Guru harus memilih metode yang paling tepat digunakan. Apakah tujuan yang akan dicapai pada ranah kognitif, afektif, atau psychomotor perlu dipertimbangkan guru dalam menentukan metode. Sebaiknya tidak semua materi ajar disampaikan dengan metode yang sama sepanjang tahun. Misalnya pembelajaran sejarah yang bertujuan untuk mengembangkan ranah afektif, metode yang digunakan tidak sama dengan metode untuk mencapai tujuan pembelajaran pada ranah kognitif. Perbedaan penggunaan metode untuk mencapai ketiga tujuan itu harus tampak pada hasil yang didapat setelah proses pembelajaran selesai. Untuk mencapai ranah afektif diperlukan metode yang membentuk sikap siswa yang menitikberatkan pada perasaan senang ataupun tidak senang terhadap pelajaran sejarah. Sedangkan pencapaian ranah kognitif lebih kepada pengetahuan yang dimiliki siswa tentang sejarah. Sedangkan untuk ranah psychomotorik dititikberatkan pada minat dan bakat siswa. Metode simulasi cocok untuk ranah afektif, dan metode ceramah cocok untuk ranah kognitif.
            Di samping itu, guru sebagai “pemimpin tertinggi” di kelas harus mampu memotivasi siswa melalui metode yang digunakannya agar aktif dalam proses pembelajaran. Misalnya dalam metode sinektik, siswa diberi kebebasan untuk mengembangkan kreativitasnya. Untuk itu siswa harus diberi kebebasan berbicara agar berpartisipasi dalam memecahkan masalah. Proses pembelajaran seperti itu akan mendorong siswa untuk bersikap positif. Dalam penggunaan metode simulasi, guru tidak dapat memaksakan skenarionya kepada siswa, karena akan mematikan kreativitas siswa yang membentuk robot-robot yang selalu menurut dalam melakukan perintah dan kehendak guru. Akibatnya siswa tidak mau dan tidak mampu berpikir kreatif, karena siswa berpendapat bahwa tugasnya hanyalah melaksanakan semua tugas yang dibebankan guru. Penggunaan simulasi yang dilaksanakan berdasarkan skenario guru, tidak boleh menghilangkan kebebasan melalui suasana bermain, sesuai dengan yang dikehendaki asal jangan keluar dari alur cerita yang telah disusun guru. Baik melalui metode sinektik maupun simulasi, guru sebaiknya mampu menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif agar sejarah diminati siswa.
            Selanjutnya guru dapat memilih satu dan atau beberapa metode
dari metode-metode yang tersedia. Penentuan metode apa yang akan digunakan bergantung kepada beberapa faktor, yaitu: tujuan yang akan dicapai, siswa yang berbagai ragam, besar dan situasi kelas, fasilitas yang tersedia, topik yang akan dibicarakan, dan kemampuan profesional guru.
            Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran khususnya penanaman konsep adalah metode ceramah. Kondisi yang terjadi tetap komunikasi satu arah di mana yang aktif guru menyampaikan informasi, tidak ada umpan balik dari siswa dan siswa pasif. Melalui ceramah guru tidak hanya dapat menyampaikan fakta yang harus dihafalkan, tetapi juga konsep seperti yang dikemukakan oleh Romiszowski (1986) bahwa ceramah yang tepat pemakaiannya adalah efektif untuk menyampaikan informasi faktual dan penanaman konsep. Ini dipertegas lagi oleh Elzey & Browling (n.d.:3). “In a lecture, the instructor can identify difficult concepts and important points that must be clarified and emphasized and channel the thingking of his students in appropriate directions”.
            Metode lain yang dapat digunakan adalah metode tanya jawab, Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memberikan umpan balik. Komunikasi yang terjadi adalah komunikasi dua arah. Dengan umpan balik ini guru dapat mengetahui apakah informasi yang disampaikannya dapat diterima dengan baik oleh siswa dan apakah siswa dapat memahami atau tidak. Guru mengajukan pertanyaan, siswa diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dengan demikian secara mental siswa turut aktif dalam proses pembelajaran. Dari jawaban yang diberikan siswa, guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanya-an yang meminta jawaban lebih lanjut dari siswa (probling questions) baik yang berupa pertanyaan perluasan, klasifikasi, justifikasi, pengalihan, maupun dorongan (Taylor, Verble & Dodd, 1980). Hal ini sangat penting dalam pelajaran sejarah. Dari pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menggali tersebut siswa secara aktif berusaha untuk memperoleh jawabannya dan ini akan membantu siswa untuk memahami informasi atau konsep yang diberikan, karena pertanyaan-pertanyaan menggali itu adalah pertanyaan pancingan agar siswa menemukan sendiri jawabannya.
            Graves yang dikutip oleh Seabrook (1991) mengatakan bahwa awal dari suatu jawaban, pemahaman terhadap suatu informasi atau konsep adalah terdapat dalam formulasi suatu pertanyaan. Taylor, Verble & Dodd (1980) lebih tegas lagi mengatakan bahwa suatu pertanyaan adalah merupakan separuh dari jawaban, dan separuhnya lagi adalah jawaban itu sendiri.
              Menurut Reigeluth metode pembelajaran sebagai istilah umum adalah cara untuk menolong seseorang dalam belajar. Dalam arti luas, metode pembelajaran sama dengan strategi pembelajaran disebut taktik pembelajaran. Di sisi lain, teori-teori pembelajaran merupakan panduan mengenai kapan menggunakan dan kapan tidak menggunakan metode pembelajaran yang berbeda, baik strategi maupun taktik pembelajaran. Teori-teori pembelajaran berorientasi pada tujuan pembelajaran dan menawarkan bantuan tentang bagaimana mencapai tujuan yang berbeda sebagaimana dibedakan dengan teori-teori deskriptif yang berorientasi pada kesimpulan dan menawarkan deskripsi mengenai proses alam. Dengan demikian menurut Reigeluth teori-teori pembelajaran harus mengkhususkan pada tiga hal, yaitu: 1) tujuan-tujuan yang berbeda yang mungkin dipilih seseorang untuk dikejar; 2) metode-metode berbeda yang dapat digunakan untuk menolong pembelajar mencapai setiap tujuan dan; 3) kondisi-kondisi berbeda yang mempengaruhi kapan menggunakan dan kapan tidak menggunakan setiap metode untuk menolong mencapai tujuan.
Metode pembelajaran mencakup tiga strategi pokok yaitu strategi pengorganisasian materi ajar, strategi penyampaian materi ajar, dan strategi pengelolaan pembelajaran. Hasil pembelajaran dapat berbentuk penguasaan yang seharusnya dicapai dan penguasaan yang dapat dicapai siswa.
Pendapat lain tentang tiga komponen pokok pembelajaran yang dikemukakan Reigeluth yaitu kondisi pembelajaran, metode pembelajaran dan hasil pembelajaran terikat dalam satu sistem. Metode pembelajaran, terutama dalam aspek strategi pengorganisasian materi ajar, terikat pada karakteristik materi yang diajarkan, yang dapat diorganisasikan pada tahap (level) mikro atau makro. Strategi mikro merupakan metode pembelajaran untuk mengajar ide tunggal, dan strategi makro merupakan metode pembelajaran untuk mengajar beberapa ide. Landa, Scandura dan Reigeluth-Stein semuanya cenderung untuk menekankan pada strategi makro. Sedangkan Gropper, Collins-Stevens and Merrill cenderung untuk memfokuskannya pada strategi mikro. Metode pembelajaran juga ditentukan oleh hasil belajar yang diharapkan.
Hasil ditentukan oleh kondisi dan metode pembelajaran. Metode pembelajaran dapat membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tersedia berbagai ragam metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran sejarah. Guru dapat memilih satu metode atau lebih diantara metode-metode yang tersedia. Tidak ada keterbatasan dalam menggunakan metode tertentu untuk mata pelajaran tertentu. Penggunaan suatu metode harus relevan dengan tujuan yang akan dicapai. Pada dasarnya semua metode baik, jangan tanyakan mana yang terbaik atau tidak perlu membandingkannya satu sama lain. Setiap metode mempunyai kekuatan dan kelemahan. Metode apapun yang digunakan, dipengaruhi oleh kesungguhan seorang guru dalam melaksanakan program dan kegiatan pembelajaran atau tergantung pada kesungguhan guru dalam menggunakan metode yang dipilihnya.
Sikap seorang guru di kelas juga ikut menentukan sikap siswa selama dan setelah selesai pembelajaran. Seorang guru yang sikapnya bersahabat  dengan siswa, mungkin lebih disukai daripada sikap guru yang acuh pada siswa. Tugas-tugas dari guru yang disampaikan pada siswa secara bertubi-tubi mungkin akan dirasakan sebagai beban yang tidak disukai dan tidak mendorong siswa untuk belajar. Oleh karena itu sikap guru dan metode yang digunakan guru ikut mewarnai sikap siswa. Tidak ada satupun metode yang cocok untuk semua mata pelajaran,  karena dipengaruhi oleh siapa dan untuk apa metode itu digunakan. Guru tidak boleh fanatik pada satu metode, karena akan menimbulkan kebosanan, baik bagi guru, apalagi bagi siswa. Dengan demikian pemilihan dan penentuan untuk menggunakan suatu metode, selain bergantung pada tujuan yang akan dicapai ,juga dipengaruhi oleh siswa sebagai individu yang beragam,  situasi dan ukuran kelas, fasilitas yang tersedia, topik yang akan dibicarakan dan kemampuan profesional guru.
            Kemudian, metode sinektik dapat menjadi salah satu alternatif dalam kegiatan pembelajaran sejarah. Gordon menyebut metode sinektik sebagai metode untuk meningkatkan kreativitas dengan meningkatkan penggunaan analogi dalam berpikir kreatif. Metode tersebut meliputi beberapa analogi sebagai berikut:
1.      Analogi pribadi yang dapat membawa seseorang ke dalam situasi yang dihadapi secara langsung.
2.      Analogi yang langsung membantu seseorang untuk menemukan pemecahan masalah yang sedang dihadapi sekaligus solusi yang disarankan.
3.      Analogi simbolik yang menggunakan penilaian objektif, impresional atau imajinasi yang positif untuk menggambarkan suatu masalah.
            Peso, dkk. dalam Joice and Weil mengembangkan metode sinektik. Metode yang unik dan menarik ini merupakan pendekatan baru yang dirancang untuk mengembangkan kreativitas individu atau kelompok. Pengembangan kreativitas bertujuan agar individu atau kelompok mampu memecahkan masalah yang dihadapi. Dalam pembelajaran sejarah metode ini akan bermanfaat karena memotivasi siswa untuk mencari tentang ke “mengapa”an sejarah.
Pada awalnya Peso dkk menerapkan prosedur sinektik untuk mengembangkan aktivitas kelompok. Dalam kenyataannya akan berdampak pula pada peningkatan kreativitas individu, karena sinektik yang dirancang untuk meningkatkan kreativitas kelompok bersumber dari saling tukar menukar pengalaman antar individu. Di samping itu sinektik juga menempatkan unsur empati emosional dan irrasional mendampingi kemampuan rasional individu dalam memecahkan masalah. Kondisi ini cocok untuk mengajarkan materi sejarah karena memecahkan masalah dan memahami konsep-konsep sejarah memang memerlukan unsur-unsur tersebut. Misalnya mengapa terjadi perang? Apa sebenarnya konsep perang itu?
            Metode sinektik membantu kreativitas kelompok untuk memecahkan masalah secara bersama-sama mengarahkan alur pikir anggotanya. Dengan demikian partisipasi individu untuk bergabung harus dilandasi oleh perasaan senang dan keinginan yang tinggi dari anggota. Prosedur sinektik dapat dimanfaatkan dalam semua bidang studi. Dua strategi pembelajaran yang mendasari prosedur sinektik menurut Peso adalah (1) menciptakan sesuatu yang baru dan (2) memperkenalkan keanehan.
            Strategi pertama dirancang untuk membantu siswa dalam memahami masalah, ide, dan konsep agar kreativitas siswa dapat berkembang. Strategi ini menggunakan analogi-analogi untuk menciptakan konsep jarak dengan tujuan untuk mengembangkan suatu pemahaman baru tentang konsep atau masalah. Dalam pelajaran sejarah misalnya konsep tentang kebudayaan. Apa yang dimaksud dengan kebudayaan, apakah ada hubungan antara kebudayaan dengan kesenian, mengapa kebudayaan penting untuk dibicarakan.
            Berlainan dengan strategi pertama, strategi kedua dirancang untuk memberikan pemahaman dalam menambah dan memperdalam sesuatu yang baru atau materi yang sulit dipahami, melalui analisis dan konvergensi. Untuk itu siswa diberikan pilihan dengan membedakan karakteristik antara subyek yang dikenalnya dengan yang tidak dikenalnya. Misalnya siswa disuruh menjelaskan hubungan antara konsep reformasi dan wanita cantik. Elemen-elemen tentang wanita cantik tertulis pada kolom kiri dan elemen-elemen reformasi pada kolom kanan.

TABEL 4

HUBUNGAN ANTARA KONSEP-KONSEP TENTANG

WANITA CANTIK DAN REFORMASI


No.
Wanita Cantik

Reformasi

1.
Berhias
Perubahan
2.
Individu
Mahasiswa
3.
Tetap Cantik
Masyarakat Adil Makmur
4.
Nalar
Aturan Main
5.
Terlalu Gemuk
Gagal
               
            Kemudian siswa ditugaskan untuk membuat wacana satu paragraf
tentang hubungan antara reformasi dan wanita cantik tersebut. Misalnya sebagai berikut:
Berhias dalam mempercantik diri merupakan sikap dinamis yang selalu menginginkan perubahan seperti yang diinginkan reformasi. Wanita sebagai individu terus melakukannya agar tetap cantik dan mahasiswa sebagai anggota masyarakat juga melakukannya untuk mencapai tujuan segenap bangsa yaitu masyarakat yang adil dan makmur. Jika wanita cantik tidak menggunakan penalarannya untuk tetap cantik akan terbentuk sebuah sosok yang merupakan perpaduan antara dewi dan si tolol. Demikian juga mahasiswa yang ingin ikut ambil bagian dalam menciptakan masyarakat adil makmur harus melalui aturan main yang jelas. Wanita cantik yang tidak menggunakan otak dalam berdiet atau tidak dapat mengatur cara makan akan menjadi gemuk atau terlalu kurus dan sakit, sehingga tidak cantik lagi. Demikian juga mahasiswa yang mengabaikan aturan main akan gagal dalam mewujudkan reformasi yang dicita-citakan.
Dilihat dari wacana di atas sinektik merupakan metode unik, menarik dan berbeda dari metode-metode lain serta memerlukan kreativitas siswa. Kondisi seperti ini perlu diciptakan dalam pembelajaran sejarah agar siswa menikmatinya. Selanjutnya dalam penelitian ini akan digunakan strategi pembelajaran kedua yang tahapan-tahapannya seperti berikut.

TABEL 5

TAHAPAN UNTUK MEMPERKENALKAN KEANEHAN

TAHAP PERTAMA:
INPUT TENTANG KEADAAN YANG SEBENARNYA
TAHAP KEDUA:
ANALOGI LANGSUNG
Guru menyajikan informasi tentang suatu topik yang baru
Guru mengusulkan analogi langsung dan menyuruh siswa menjabarkannya.
TAHAP KETIGA:
ANALOGI PERSONAL
TAHAP KEEMPAT:
MEMBEDAKAN ANALOGI
Guru menyuruh siswa “menjadi” analogi langsung.
Para siswa menjelaskan dan menerangkan kesamaan antara materi yang baru dengan analogi langsung.
TAHAP KELIMA:
MENJELASKAN PERBEDAAN
TAHAP KEENAM:
PENJELAJAHAN
Para siswa menjelaskan mana analogi-analogi yang tidak sesuai
Para siswa menjelajahi kembali kebenaran topik dengan batasan-batasan mereka
TAHAP KETUJUH:
MEMBANGKITKAN ANALOGI
Para siswa memberikan analogi sendiri secara
langsung dan menjelajahi persamaan dan perbedaannya.
            Pada strategi pembelajaran kedua diperlukan kreativitas guru untuk memilih dengan cermat informasi berupa topik yang akan disampaikan pada siswa. Dalam hal ini peranan guru sangat penting karena guru bukan hanya sekedar orang yang berdiri di depan kelas tetapi harus aktif dan kreatif dalam mengarahkan perkembangan anak didiknya.
Tujuan strategi pembelajaran yang kedua adalah untuk memecahkan masalah dengan pendekatan baru yang lebih segar. Untuk pelaksanaannya tidak dapat hanya dilakukan sekali, tetapi harus sering berlatih seperti kata Thorndike dalam Law of Exercise yang dikutip Hilgard & Bower bahwa makin sering dilakukan latihan akan meningkatkan kemampuan siswa terhadap sesuatu. Metode sinektik dapat dimanfaatkan oleh siswa semua tingkatan usia. Sinektik merupakan cara baru untuk mengenal ide yang masih “asing’ bagi siswa dan akan menghasilkan perspektif baru.
            Partisipasi aktif siswa dalam kelompok melalui metode sinektik membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan interpersonalnya. Gardner dalam multiple intelegence yang ditulis Amstrong (1995-1995: 79-85) mengatakan bahwa kemampuan interpersonal yang dimiliki individu harus selalu ditingkatkan, terutama dalam memecahkan berbagai masalah.
Metode sinektik hampir sejalan dengan model pertemuan kelas. Perbedaan pertemuan kelas dengan sinektik antara lain pada masalah yang didiskusikan. Dalam pertemuan kelas masalah berasal dari siswa, sedangkan metode sinektik masalah diberikan guru sesuai pokok bahasan yang harus dibicarakan. Kemudian peserta pada pertemuan kelas, bukan teman sekelas, sedangkan peserta pada metode sinektik semuanya teman sekelas. Tindak lanjut yang merupakan tahap akhir pada pertemuan kelas tidak selalu ada pada metode sinektik. Namun keduanya sama-sama mengembangkan daya pikir, nalar, spontanitas dalam upaya siswa untuk memecahkan masalah. Metode sinektik yang melatih siswa untuk memecahkan masalah cocok diberikan di SLTP karena menurut Piaget (1988: 242-245) hanya anak-anak yang berumur 11 tahun ke atas yang mampu memecahkan masalah.
            Dalam memecahkan masalah pada metode sinektik dibutuhkan kreativitas. Jika seorang siswa terlibat dalam kreativitas, akan merasa “hidup” dan berbahagia di tempatnya. Disadari atau tidak, barang-barang yang lebih menarik merupakan hasil kreativitas.

            Ada dua alasan utama mengapa penemuan-penemuan orang kreatif sangat penting, yaitu: hasil kreativitas tersebut memperkaya kebudayaan dan secara tidak langsung meningkatkan pengetahuan. Beberapa orang menyatakan kreativitas adalah pengalih perhatian dari masalah yang membebani, tetapi justru masalah dapat dipecahkan apabila kreatif. Kreativitas mampu menyediakan berbagai jawaban untuk memecahkan masalah kehidupan. Kondisi ini terjadi karena manusia dilahirkan atas dua hal yang bertentangan yaitu mementingkan kepentingan pribadi dan mementingkan kepentingan orang lain, tetapi harus selalu dijaga agar keduanya tetap seimbang.

PENDEKATAN KONTEKSTUAL

PENDEKATAN KONTEKSTUAL
 Oleh : Dirgantara Wicaksono
A. Latar belakang
            Ada kecendrungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan memgetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang
             
            Pendekatan kontektual(Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil

            Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual

B. Pemikiran tentang belajar

            Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecendrungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut.

1.      Proses belajar
·                     Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri
·                     Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru
·                     Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki sesorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan
·                     Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisak, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
·                     Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.
·                     Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi didrinya, dan bergelut dengan ide-ide
·                     Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan sesorang.

2.      Transfer Belajar


·                     Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain
·                     Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi sedikit)
·                     Penting bagi siswa tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu

3.      Siswa sebagai Pembelajar

·                     Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru
·                     Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting
·                     Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui.
·                     Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri.

4.      Pentingnya  lingkungan Belajar

·                     Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari guru akting di depan kelas, siswa menonton ke siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan.
·                     Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka.Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya
·                     Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian yang benar
·                     Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.

C. Hakekat Pembelajaran Kontekstual
           
            Pembelajarn kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)

D.Pengertaian CTL
            1. Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.
            2.  Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata  dan mendorong pebelajar membuat hubungan antara materi yang diajarkannya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat

E. Perbedaan Pendekatan Kontekstual Dengan Pendekatan Tradisional

NO.
CTL
TRADISONAL

2.
Pemilihan informasi berdasarkan kebutuh-an siswa
Pemilihan informasi di-tentukan oleh guru
1.
Menyandarkan pada memori spasial (pemahaman makna)
Menyandarkan pada hapalan
3.
Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran
Siswa secara pasif menerima informasi

4.
Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/-masalah yang disi-mulasikan
Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis

5.
Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa
Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan

6.
Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang
Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu


7.
Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok)
Waktu belajar siswa se-bagian besar dipergu-nakan untuk mengerja-kan buku tugas, men-dengar ceramah, dan mengisi latihan yang membosankan (melalui kerja individual)
8.
Perilaku dibangun atas kesadaran diri
Perilaku dibangun atas kebiasaan
9.
Keterampilan dikem-bangkan atas dasar pemahaman
Keterampilan dikem-bangkan atas dasar latihan
10.
Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri
Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor
11.
Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tsb keliru dan merugikan
Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman
12.
Perilaku baik berdasar-kan motivasi intrinsik
Perilaku baik berdasar-kan motivasi ekstrinsik
13.
Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks dan setting
Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas
14.
Hasil belajar diukur  melalui penerapan penilaian autentik.
Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan.






BAB 2


PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DI KELAS
CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini.
1.      Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya
2.      Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
3.      kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
4.      Ciptakan masyarakat belajar
5.      Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
6.      Lakukan refleksi di akhir pertemuan
7.       Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara
A.    Tujuh Komponen CTL
  1. KONSTRUKTIVISME
l  Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal
l  Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan
      2.  INQUIRY
l  Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman
l  Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis

3.  QUESTIONING (BERTANYA)
l  Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa
l  Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry

4. LEARNING COMMUNITY (MASYARAKAT BELAJAR)
·         Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar
·         Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri
·         Tukar pengalaman
·         Berbagi ide
5.      MODELING (PEMODELAN)
·         Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar
·         Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya
6. REFLECTION ( REFLEKSI)

n  Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari
n  Mencatat apa yang telah dipelajari
n  Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok

7. AUTHENTIC ASSESSMENT (PENILAIAN YANG SEBENARNYA)

n       Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa
n  Penilaian produk (kinerja)
n  Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual
B.     Karakteristik Pembelajaran  CTL 
n    Kerjasama
n    Saling menunjang
n    Menyenangkan, tidak membosankan
n    Belajar dengan bergairah
n    Pembelajaran terintegrasi
n    Menggunakan berbagai sumber
n    Siswa aktif
n    Sharing dengan teman
n    Siswa kritis guru kreatif
n    Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain
n    Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain

MENYUSUN RENCANA PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKSTUAL
            Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessmennya.
            Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya.
Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Sekali lagi, yang membedakannya hanya pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya.
            Atas dasar itu, saran pokok dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut
  1. Nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara Standara Kompetensi, Kompetensi dasar, Materi Pokok dan Pencapaian Hasil Belajar
  2. Nyatakan tujuan umum pembelajarannya
  3. Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu
  4. Buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan siswa
  5. Nyatakan authentic assessmentnya, yaitu dengan data apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran.

Minggu, 16 Juni 2013

Konsep Pembelajaran Sejarah

Konsep  Pembelajaran Sejarah
by: BomBom
Pembelajaran sejarah adalah dua konsep yang sama-sama memiliki arti masing-masing. Istilah sejarah bagi para ahli diartikan berbeda-beda. Perbedaan dalam literatur tentang istilah sejarah akhir-akhir ini pada dasarnya ada dua konsep, yaitu sejarah sebagai peristiwa masa lalu (past event, res gestae); dan sejarah peristiwa sebagaimana diceritakan (historia rerum gestarum).[1] Sejarah dalam arti pertama, sebagaimana dikemukakan oleh Taufik Abdullah, diceritakan atau tidak, peristiwa itu terjadi. Menurut Kuntowijoyo Sejarah seperti itu sebagai peristiwa masa lalu yang terjadi di luar pengetahuan manusia, disebut sejarah objektif.[2]
Sejarah sebagaimana diceritakan adalah peristiwa masa lalu yang diceritakan, memiliki pengertian yang sama sebagai peristiwa yang terjadi atas sepengetahuan manusia, disebut oleh Kuntowijoyo sebagai sejarah subyektif.[3] Sejarah subjektif adalah sejarah sebagai pelaksanaan riset yang dilakukan oleh sejarawan, menghasilkan pernyataan-pernyataan peristiwa-peristiwa masa lalu.
Sejarah dalam arti subjektif adalah terminologi sejarah sebagai disiplin ilmiah. Beberapa ahli, sejarawan, dan filsuf mengartikan sejarah secara beragam. Ada yang mengatakan sejarah sebagai kisah atau narasi seperti yang dikemukakan oleh Voltaire sebagaimana dikutip oleh Kochhar, sejarah adalah narasi fakta-fakta yang diterima sebagai sesuatu yang benar. Sejarah juga diartikan sebagai catatan sebagaimana arti sejarah yang dikemukakan oleh Burckhardt menyatakan bahwa sejarah merupakan catatan tentang suatu masa yang ditemukan dan dipandang oleh generasi dari zaman yang lain.[4] Sejarah juga diartikan sebagai ilmu. Sebagai ilmu sejarah memiliki metodologi penelitian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, seperti dikemukakan oleh Richard E. Evans yang dikutip Sjamsuddin bahwa  “sejarah adalah batang tubuh pengetahuan yang terorganisasi yang diperoleh melalui penelitian yang dilaksanakan sesuai dengan metode-metode yang disepakati umum, dipresentasikan dalam laporan-laporan yang dipublikasikan dan menjadi pokok yang direvie oleh pakar mitra.”[5]
Dari pendapat para ahli tentang definisi sejarah dapat disimpulkan bahwa sejarah adalah peristiwa masa lalu tentang manusia baik individu maupun masyarakat yang dihadirkan pada masa kini baik diceritakan maupun hasil dari penelitian sejarawan.
Kenyataan menunjukkan bahwa sejarah terus diteliti dan ditulis orang serta dipelajari membuktikan bahwa sejarah itu memiliki kegunaan.[6] Selanjutnya, Kuntowijoyo menjelaskan lebih detail, sejarah berguna secara intrinsik dan ekstrinsik.[7] Secara intrinsik sejarah berguna untuk mengetahui masa lampau. Mengapa orang ingin mempelajari masa lampau karena manusia itu ingin memecahkan misteri, ingin tahu tentang apa yang terjadi di masa lampau. Secara esktrinsik sejarah berguna sebagai sarana pendidikan. Menurut Sjamsuddin, guna ekstrinsik sejarah sebagai sarana pendidikan berpangkal dari kebutuhan kehidupan modern dari masyarakat industrialis akan pendidikan non-teknis untuk kembali ke pengetahuan tradisional agar dapat menuntut pada masyarakat yang demokratis.[8]
Kegunaan sejarah sebagai media pendidikan banyak dikemukakan oleh para ahli. Menurut Djoko Suryo posisi sejarah memiliki peran sangat strategis sebagai sarana bagi pendidikan, baik pendidikan intelektual (intelectual training), pendidikan kesadaran-diri kolektif dan pendidikan civil society yang bertanggungjawab terhadap bangsa dan negara.[9] Sejalan dengan pendapat Joko Suryo, Conal Furay dan Michael J. Salevouris seperti yang dikutip oleh Peters N. Stearns, menyatakan “pembelajaran sejarah mengajarkan kemampuan analisis yang sangat bermanfaat dalam bidang akademik dan memelihara rasa identitas.”[10] Carl Becker memperkuat dengan menyatakan bahwa “setiap orang harus keluar dari negeri yang jauh dari masa lalu untuk menginformasikannya ke masa sekarang dan masa depan. Melalui pengetahuan sejarah, hari ini akan menjadi tanpa tujuan dan besok tanpa makna. Sejarah berfungsi sebagai memori kolektif. Tanpa memori kolektif masyarakat akan sama tanpa akar dan hancur sebagai sebuah individu dengan amnesia, sejarah berkontribusi pada makna, tujuan dan kohesi masyarakat.
Sejarah dapat memberikan inspirasi kepada kita tentang gagasan dan konsep yang dapat digunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan masa kini, sebagaimana dikemukakan oleh Taufik Abdullah bahwa dengan mempelajari sejarah orang dapat menghindari kegagalan dan kesalahan yang pernah sebelumnya dilakukan serta menemukan sumber-sumber baru untuk merumuskan visi masa depan.[11]
Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa kegunaan sejarah dari segi pendidikan bahwa sejarah dapat menjadi sumber pengetahuan yang dari sumber itu seseorang dapat mengambil makna dari pengalaman di masa lalu dan menjadi bijak.
Istilah pembelajaran menurut Reigeluth saat ini semakin mengarah pada konstruksi (construction) dan meninggalkan pengajaran (instruction), yang berimplikasi pada peran siswa dalam proses belajar. Pengajaran merujuk apa yang harus dikerjakan oleh siswa, siswa berperan pasif dalam proses belajar. Sedangkan kontruksi merujuk apa yang diselesaikan oleh siswa, siswa berperan aktif dalam proses belajar.[12] Pembelajaran yang mengarah pada konstruktivis, jika yang terjadi dalam pengajaran adalah apa yang siswa lakukan dan apapun yang dilakukan oleh guru yang bertujuan untuk memfasilitasi belajar.
Belajar sendiri menurut Staincok adalah pengaruh yang relatif permanen pada pengetahuan, perilaku dan keterampilan berfikir yang diperoleh melalui pengalaman.[13] Dari pengertian tersebut bahwa belajar sama dengan pengalaman, tetapi pengalaman yang membawa perubahan pada pengetahuan, perilaku dan keterampilan berfikir seseorang. Seseorang yang dikatakan belajar berarti orang yang telah memiliki dan bertambah pada aspek pengetahuan, perilaku dan keterampilan yang sebelumnya tidak dimiliki atau sebelumnya sedikit.
Pembelajaran dalam arti konstrusi, peran guru terjadi ketika guru membantu siswa memperoleh informasi, gagasan, keterampilan, nilai, cara berfikir dan tujuan mengekspresikan diri mereka sendiri. Peran guru dalam pembelajaran adalah melibatkan siswa dalam tugas-tugas yang syarat muatan kognitif dan sosial, mengajari bagaimana mengerjakan tugas-tugas secara produktif, mengajari bagaimana siswa  menyerap dan menguasai informasi. Sedangkan peran murid dalam pembelajaran adalah mampu menggambarkan informasi dan gagasan; menggunakan sumber-sumber belajar.[14]  Pembelajaran yang efektif akan terjadi apabila guru dan siswa sama-sama memainkan peran masing-masing.
Dalam kaitannya dengan pembelajaran sejarah, menurut Stearn, pembelajaran sejarah bertujuan untuk “… membantu siswa memahami bagaimana dunia bekerja dan bagaimana manusia berperilaku, pengetahuan tentang masa lalu diperlukan untuk memahami kenyataan hari ini.”[15] Agar pembelajaran sejarah dapat memberikan dampak pada siswa, Stearn menyarankan pembelajaran sejarah harus mengembangkan keterampilan untuk menilai bukti, keterampilan untuk berinterpretasi dan keterampilan untuk menilai contoh perubahan.
Lebih luas, Kochhar mengatakan bahwa pembelajaran sejarah di sekolah harus mencapai empat belas sasaran yang mencakup dimensi kognitif, afektif dan psikomotor. Termasuk dalam dimensi kognitif, yaitu: 1) mengembangkan pemahaman tentang diri sendiri; 2) memberikan gambaran yang tepat tentang konsep waktu, ruang dan masyarakat; 3) membuat masyarakat mampu mengevaluasi nilai-nilai dan hasil yang telah dicapai oleh generasinya; 4) memperluas cakrawala intelektualisme; 5) memberikan pelatihan mental; 6) melatih siswa menangani isu-isu kontroversial. Sedangkan dimensi afektif dari pembelajaran sejarah, yaitu 1) mengajarkan toleransi; 2) menanamkan sikap intelektual; 3) mengajarkan prinsip-prinsip moral;  4) menanamkan orientasi ke masa depan; 5) membantu mencarikan jalan keluar bagi masalah sosial dan perseorangan; 6) memperkokoh rasa nasionalisme, dan; 7) mengembangkan pemahaman internasional. Dimensi psikomotor adalah mengembangkan keterampilan yang berguna seperti keterampilan membaca, menyatakan pendapat, menggunakan peta, diagram, timeline dan sebagainya.



[1] Helius Sjamsuddin, Metodologi Sejarah (Yogyakarta: Ombak, 2007), h. 9
[2] Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, (Yogyakarta: Bentang Budaya, 1999), h. 9.
[3] Ibid.
[4] S.K. Kochhar, Pembelajaran Sejarah, terjemahan Purwanta dan Yovita Hardiwati (Jakarta: Grasindo, 2008), h. 2.
[5] Helius Sjamsuddin, Metodologi Sejarah, (Yogyakarta: Ombak, 2007), h. 9
[6] Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah (Yogyakarta: Bentang Budaya, 1999), h. 19.
[7] Ibid.
[8] Helius Sjamsuddin, Metodologi Sejarah, (Yogyakarta: Ombak, 2007), h. 278.
[9] Djoko Surjo, “Pelajaran Sejarah yang Baik, Sebuah Catatan”, makalah yang disampaikan pada Simposium Pengajaran Sejarah, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sukabumi, 8-11 Agustus 1993.
[10] Peter N. Stearnes, “The uses of history”, www.studentsfriend.com/onhist/uses/html.
[11] Taufik Abdullah, “Sejarah Menentukan Masa Depan”, makalah yang disampaikan pada Konferensi Pers pada Konferensi IAHA ke-15, Jakarta, 1998.
[12] Charles M. Reigeluth dan Alison A. Carr-Chellman (Editor), Instructional Design Theory and Models: Building a Common Knowledge Base, Volume III (New York: Routledge, 2009), h. 6.
[13] John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, terjemahan Tri Wibowo B.S. (Jakarta: Kencana, 2010), h. 265.
[14] Bruce Joyce, Marsha Weil, dan Emilyy Calhoun, Model-Model Pembelajaran, Edisi Kedelapan, terjemahan Achmad Fawaid dan Ateilla Mirza (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 7.
[15] Peter N. Stearn, “The Uses of History”, h. 2, 2011, www.studentsfriend.com/onhist/uses/html.