Rabu, 05 Februari 2014

pendidikan indonesia menuju kawasan ekonomi bebas tahun 2015

Pendidikan merupakan proses yang dialami manusia sepanjang kehidupannya. Pendidikan telah berjalan sejak manusia dilahirkan, yang biasa dikenal dengan pendidikan informal. Pendidikan informal sering dikaitkan dengan pendidikan di dalam keluarga, walaupun pendidikan ini  bisa melalui media, teman dan lingkungan pada umumnya. Selain pendidikan informal dikenal juga pendidikan formal atau pendidikan yang biasa dilaksanakan di lembaga pendidikan tertentu, atau an biasa kita kenal pendidikan yang dilaksanakan di sekolah. Selain itu kita mengenal  pendidikan nonformal, yaitu pendidikan yang lebih banyak dilaksanakan di masyarakat.
Ke tiga jalur pendidikan ini mengisyaratkan begitu luasnya arti pendidikan, namun orang banyak beranggapan bahwa scope pendidikan hanya terbatas pada pendidikan formal. Hal ini bisa dimengerti karena melalui jalur inilah seseorang diperkenalkan  baca tulis hitung ( calistung ). Melalui pendidikan formal ini diharapkan semua lapisan masyarakat, terutama anak usia sekolah tidak ada lagi yang buta aksara. Tetapi kenyataannya, masih ada anak anak maupun oang dewasa yang masih buta aksara di masyarakat kita.
UNESCO pada konferensinya di Dakar, dimana Indonesia salah satu penandatangan hasil konferensi tersebut, telah menyepakati pendidikan untuk semua ( Education for All ). Program pendidikan untuk semua difokuskan pada enam thema yang harus dituntaskan oleh Negara Negara penandatangan konferensi tersebut. Ke enam thema tersebut ialah : a) pendidikan untuk anak usia dini khususnya bagi anak yang rentan dan kurang beruntung agar ditingkatkan; b) Terkait dengan program gender, dipastikan bahwa di tahun 2015 semua anak khususnya permpuan , anak yang beraa dalam keadaan sulit terutama yang berasal dari etnis minoritas harus diselesaikan oleh Negara, dan Negara menyelesaukan wajib belajar ( WAJAR ) yang bebas biaya dan bermutu; c) Semua pemuda dan orang dewasa dipenuhi kebutuhan belajarnyamelalui progam keterampilan hidup dan pembelajaran yang tepat; d) Setiap Negara hendaknya memastikan bahwa di tahun 2015, paling tidak 50 persen khususnya pendidikan keaksaraan bagi orang dewasa pada kesetaraan gender( perempuan ),terutama pada pendidikan dasar dan menengah;e) Menghapus disparitas gender pada pendidikan dasar dan menengah di tahun 2005; f ) Meningkatkan semua aspek mutu pendidikan sehingga terukur , khususnya keaksaraan bilangan( angka) dan keterampilan / kecakapan hidup.
Dengan disepakatinya pendidikan untuk semua( PUS ), termasuk Indonesia, rasanya tidak ada alas an lagi bagi pemerintah untk tidak melaksanakan kesepakatan tersebut.
Mengacu pada  thema Education for All, dapat dipastikan bahwa salah satu hak anakialah hak mengembangkan diri yang diatur dalam Hak Asasi Manusia dan kebebasan dasar manusia, terutama hak mengembankan diri (Right to Self Development) pasal 11 – 16 UU No. 39 th 1999. Dari pasal-pasal tersebut yang terkait dengan pendidikan adalah pasal 12 yang menyebutkan setiap orang berhak atas perlindungan bagi pengembangan pribadinya, untuk memperoleh pendidikan, mencerdaskan dirinya, dan meningkatkan kualitas hidupnya agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, bertanggungjawab, berakhalk mulia, bahagia, dan sejahtera sesuai dengan hak asasi manusia, juga pasal 13 lebih menekankan pengembangan diri melalui IPTEK yang menyebutkan “setiap orang berhak untuk mengembangkan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya sesuai dengan martabat manusia demi kesejahteraan pribadinya, bangsa dan umat manusia.
Bagaimana nasib seorang anak yang pada dasarnya mereka masih polos seolah kertas putih yang bersih. Mereka tidak mengerti apa yang harus dikerjakan, bagaimana menyalurkan minat dan hobi serta potensi dirinya. Padahal pada intinya manusia/anak, Tuhan Yang Maha Esa telah membekali manusia dengan sel saraf yang jumlahnya sekitar 1-2 milyar dan neuron tersebut akan berkembang dengan baik dan akan mendekati kesempurnaan bila direspon dengan berbagai kegiatan melalui komunikasi / bahasa serta suritauladan dari orang tuanya/orang dewasa.
Menurut penelitian justru pada masa perkembangan awal anak dendrif (merupakan cabang) dari neuron yang terstimulus akan berkembang dan bercabang begitu banyak dikala usia 0 – 3 tahun. Sementara banyak anak di masyarakat kita terlantarkan perkembangan denderitnya  karena ketidak tahuan orang tua atau lembaga pendidikan anak usia dini yang tidak dapat diikuti oleh setiap anak dikarenakan biaya yang tidak terjangkau. Mengingat pentingnya perkembangan anak terutama potensi , UU HAM th 1999 pasal 60 ayat (1) Setiap anak berhak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan  pribadinya sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya. Ayat (2) Setiap anak berhak mencari, menerima dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat intelektualitas dan usianya demi pengembangan dirinya sepanjang sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan.
Kalau kita tinjau dan telaah secara cermat berapa besar nikmat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya terutama salahsatu kelebihan manusia yang tidak ternilai ialah otak. Otak yang secara garis besar terdiri dari 3 bagian mempunyai peran yang berbeda walau terletak di satu tempat yaitu tengkorak manusia. Ketiga bagian itu ialah:
-       Batang otak/medula oblongata (brain steem)
Bagian otak ini mengatur gerak refleksi fisiologi tumbuh seperti pernafasan, kerja jantung, dan peredaran darah. Bagian ini bekerja tanpa komando kita. Betapa reportnya manusia apabila ia harus mengatur pernafasan, kerja jantung dan peredaran darah.
-       Otak kecil (cerebrum)
Bagian otak ini berperan untuk pengaturan keseimbangan dan pusat koordinasi otak. Melalui otak kecil inilah, kita sebagai manusia mempunyai keseimbangan antara tangan kanan dan kiri, kaki kanan dan kaki kiri dan pasangan pancaindera lainnya.
-       Otak besar    
Bagian otak ini merupakan yang paling besar dari bagian otak, namun bagian yang paling penting yaitu konteks dimana terdapat beberapa lapis sel teratas yang merupakan kendali utama dari perilaku keacerdasan yaitu untuk fungsi: kecerdasan, kesadaran, ingatan/asosiasi, pandangan dan kemamuan. Dalam fungsi otak besar dibagi dalam 2 bagian yaitu: otak kiri dan otak kanan.
Otak kiri
Meliputi kecerdasan linguistic, logis matematik dan naturalistic.
Kecerdasasan linguistic adalah kemampuan membaca, menulis, dan berkomunikasi dengan kata-kata atau bahasa. Penulis, jurnalis, penyair, orator dan pelawak adalah contoh nyata orang yang memiliki kecerdasan linguistic.
Kecerdasan Logis matamatic adalah kemampuan berpikir (menalar) dan menghitung, berpikir logis dan sistematis. Ini adalah jenis-jenis keterampilan yang  sangat dikembangkan pada diri para ilmuwan, ekonom, akuntan, detektif. Contohnya Albert Einstein, Joh Dewey.
Kecerdasan Naturalistic adalah kemampuan mengenal flora dan fauna, melakukan pemilahan-pemilahan runtut dalam dunia kealaman, dan menggunakan  kemampuan ini  secara produktif misalnya untuk berburu, bertani serta para peneliti biologi. Contohnya: Charles Darwin, Lamark, Francisco Redi. 
Otak kanan     
Meliputi kecerdasan Visual-spasial,musical, kinestik-tubuh, kecerdasan interpersonal dan intrapersonal.
Kecerdasan visual-spasial adalah kemampuan berpikir menggunakan gambar, memvisualisasikan hasil masa depan. Membayangkan berbagai hal ada mata pikiran. Ini terdapat pada arsitek, seniman, pemahat, pelaut, fotografer. Contohnya: Picasso, Columbus.
Kecerdasan kinestik tubuh adalah kemampuan menggunakan tubuh secara terampil untuk memecahkan masalah, menciptakan produk baru atau mengemukakan gagasaan dan emosi. Kemampuan ini jelas untuk mengejar prestasi atletik, seni seperti menari dan acting. Contoh: Michael Jorda, Rudolf Nureyev, Charlie Chaplin.
Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan bekerja secara efektif dengan orang lain, berhubungan dengan orang lain dan memperlihatkan empati dan pengertian,memperhatikan motivasi dan tujuan mereka. Kecerdasan seperti ini biasanya dimiliki oleh para guru yang baik, fasilitator, politisi pemuka agama. Contohnya: Mahatma Gandhi, Ir. Soekarno, Ronald Reagen.
Kecerdasan Intrapersonal adalh kemampuan menganalisa diri dan merenngkan diri, mampu merenung dalam kesunyai dan menilai prestasi seseorang, meninajau perilaku seseorang dan perasaan-perasaan terdalamnya, membuat rencana dan tujuan yang hendak dicapai serta mengenal benar dirinya sendiri. Kemampuan ini didadapatkan pada para filosof, penyuluh dan pembimbing. Contohnya: Freud, Roosevelt, Plato.

Suatu pekerjaan rumah bangsa ini, yang harus dilaksanakan ialah apakah orangtua dan sekolah mampu mengembangkan ke depan kedelapan kecerdasan dimana saraf neuronnya yaitu otak besar yang terbagi menjadi belahan otak kanan dan otak kiri telah ada pada setiap anak bangsa ini. Tentunya stimulus, baik bersumber dari lingkungan keluarga maupun sarana dan prasarana yang ada di sekolah sangat berpengaruh pada peningkatan  kemampuan, potensi dan keceredasan anak. Apakah pemerintah sudah konsisten menyiapkan anggaran pendidikan sebesar 20% dan APBN? Terutama dengan otonomi daerah, apakah semua daerah konsisten dengan alokasi dana untuk pendidikan yang telah disetujui DPR? Ternyata masih banyak daerah yang berbuat banyak untuk pendidikan di daerahnya, walau ada beberapa daerah yang mulai sadar bahwa pendidikan itu sangat penting  karena melalui pendidikan akan meningkatkan  Sumber Daya Manusia sehingga mereka mengalokasikan dana 20% atau mendekati 20%.
Memang factor social ekonomi orang tua / masyarakat sangat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Indonesia Negara yang memiliki Human Development Indeks yang termasuk rendah, sehingga tingkat pencapaian pendidikan  siswa di Indonesia terbilang rendah.
Hasil The Programme for International Student Assessment atau PISA, yang menilai kesiapan siswa berusian lima belas tahun untuk mengaplikasikan pengetahuan dan life skills yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari, menempatkan capaian siswa Indonesia di lapisan bawah di semua bidang studi (membaca, matematika, dan sains). Tidak sekedar member peringkat, penyelenggaraan PISA sebenarnya ditujukan untuk memberi informasi berharga bagi para pengambil kebijakan pendidikan di berbagai Negara termasuk Indonesia guna menentukan langkah strategis yang tepat bagi pemenuhan hak anak akan pendidikan bermutu.
Salah satu penelitian penting yang memanfaatkan kekayaan data PISA dilakukan J Douglas Willms (2006) dari UNESCO Institute for Statistics. Selain menggunakan data PISA 2000 dan 2002 dengan menfokuskan pada kemampuan membaca, Willms juga menggunakan data tahun 2001 dari The Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) yang bertujuan menilai kemampuan membaca siswa kelas IV SD. Willms menelaah kontribusi factor social ekonomi – baik kondisi social ekonomi siswa, sekolah, maupun Negara – terhadap kemampuan membaca. Ia menggunakan salah satu metode statistic paling mutakhir saat ini, Hierarchial Linear Modeling (HLM), yang amat tepat digunakan pada data bertingkat (multi-level data).
Dengan HLM, kontribusi kondisi social ekonomi sekolah maupun Negara terhadap prestasi belajar siswa, di luar kondisi social ekonomi siswa, dapat dijelaskan. Kondisi ekonomi siswa, antara lain, meliputi tingkat pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, struktur keluarga, dan ketersediaan fasilitas pendidikan di rumah, termasuk buku-buku computer. Kondisi social ekonomi sekolah diukur oleh kualitas infrastruktur sekolah, seperti ketersediaan alat-alat penunjang proses pembelajaran, kondisi gedung sekolah, kualifikasi guru, ketersediaan computer, dan perangkat lunak penunjang proses pembelajaran, rasio guru dan murid, waktu yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca, disiplin, dan rasa aman di sekolah, serta dukungan orang tua terhadap sekolah.
Hasil penelitian itu menegaskan kembali fakta, factor social ekonomi amat dominan dalam menentukan keberhasilan siswa, meski bukan satu-satunya. Secara umum, kemampuan membaca siswa di Negara-negara yang tergabung dalam The Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), yang berpendapatan tinggi lebih baik ketimbang di Negara-negara non-OECD, yang mayoritas berpendapatan rendah, kecuali Singapura dan Hongkong. Ditunjukkan pula, kesenjangan prestasi siswa dari keluarga berpenghasilan tinggi di Negara-negara berpenghasilan rendah masih tertinggal disbanding siswa dari keluarga berpenghasilan tinggi yang tinggal di Negara-negara makmur.
Kondisi social ekonomi sekolah juga berpengaruh terhadap kemampuan siswa dalam membaca, di luar kontribusi factor social ekonomi siswa. Secara umum, siswa akan memiliki peluang lebih besar untuk berprestasi bila sekolah mereka memiliki kondisi social ekonomni lebih baik. Sebaliknya, mereka cenderung berprestasi lebih rendah dari yang semestinya, bila sekolah memiliki kondisi social ekonomi lebih lemah. Dalam hal ini, kelompok yang paling dirugikan adalah siswa dari keluarga berpenghasilan rendahyang belajar di sekolah-sekolah yang memprihatinkan. Orangtua mereka tidak memiliki kemampuan ekonomi memadai untuk mengompensasi rendahnya mutu pendidikan yang diterima anak-anak mereka di sekolah.jadi siapkah kita menuju Kawasan bebas di tahun 2015 ?

biografi Imam Achmad ,Wartawan Harian Rakyat

                          Imam achmad Lahir di Semarang, 19 Januari 1929. Sekolah HIS Semarang, SMP Semarang/Kendal. Proklamasi kemerdekaan ikut AMRI ( Angkatan Muda R.I), terlibat pertempuran 5 hari yang penuh dendam, tahanan Jepang Sakura (sipil) dibantai habis dipenjara bulu mungkin karena Jepang tidak mau memberi senjata kepada pemuda, Jepang di Semarang itu batalyon tempur bukan batalyon teritorial (KIDO BUTAI). Akibat batalyon tersebut mengamuk, diselokan sekitar tugu muda penuh dengan mayat polisi, istimewa kita ada yang tanpa kepala, semuanya terikat tangannya, mengerikan, setelah pertempuran selesai, serombongan pemuda (dari daerah Poncol) keluar dari penjara Bulu dengan sempoyongan dan berbau karena ditahan Jepang 3 hari tanpa diberimakan minum, untung Inggris segera mendarat di Semarang,kalau tidak para pemuda itu mati kelaparan dan kehausan. Di daerah Semarang akibatnya sulit mendapatkan senjata. Setelah Semarang diduduki Inggris yang diboncengi NICA perlawanan mundur keluar kota, saya kebarat dan bergabung dengan pesindo pembelaan dan ditempatkan di front Semarang Barat, kemudian ada bentukan TP Batalyon 200 Semarang, saya karena dinilai sudah berpengalaman dalam perjuangan dipilih menjadi anggota. TP batalyon 200 seksi kendali ditempatkan di front Semarang Tenggara (Mranggen). Doorstoot Belandabatalyon 200 mundur ke Solo dan sebagian anggota dikirim ke Madiun untuk menjadi TGP (Tentara Geni Pelajar) termasuk saya, tetapi saya memilih pulang kedaerah Kendal, kebetulan di daerah Kendal ada pasukan kyai Birru yang mempunyai persenjataan cukup lengkap mempunyai mitraliur “water mantel”, banyak pemuda pelajar Kendal yang bergabung, ada koman dan seksinya mahasiswa kedokteran. Pasukan ini di bawah pimpinan bupati Kendal Soekarmo. Menurut teman yang pernah membaca “memoir” seorang tentara Belanda pasukan tersebut masuk dalam  daftar yang ditakuti Belanda. Tapi sayang bupati tersebut terbujuk oleh Amir Syarifuddin menjadi anggota FDR, nyaris beliau mati di brondong peluru tentara dan senjata pasukan Birru di rampas TNI. Terjadi gencatan senjata lagi, saya melanjutkan sekolah SMA di Magelang. Belanda menyerang lagi secara besar-besaran menerjunkan pasukan paying di Maguwo, saya kembali ke front Kendal bergabung dengan TNI di staf territorial Kendal (KDM Kendal) kalau sekarang KODIM, kabupaten Kendal itu terdiri dari 5 kawedanan, 4 kawedanandipimpinolehpelajarsebagaiperwira territorial (PTKW), KDM dipimpinolehkapten TNI taktis di bawah batalyon pamuju, resimen “kuda putih” pimpinan Achmad Yani. Penyerahan kedaulatan para pelajar di demobilisasi dan dikembalikan lagi untuk belajar, saya memilih di SMA B1 karena untuk pelajar-pejuang dinamakan SMA peralihan dan digabung dengan sekolah belanda (VHO) semarang, sebagian gurunya masih belanda, padahal kita kebanyakan tidak fasih bahasa belanda. Akhirnya saya bisa lulus dan melanjutkan ke Jogjakarta mendaftar UGM jurusan teknik sipil, tetapi drop out karena tidak lulus dalam pelajaran ilmu pasti dan ilmu alam. Menjadi mahasiswa UGM ini saya kadang membuat karikatur untuk majalah mahasiswa “GAMA” inilah permulaan saya menjadi karikaturis. Karena merasa tidak mampu menjadi insinyur sipil saya kemudian mendaftar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Oleh direkturnya dijanjikan tahun berikutnya akan dibuka jurusan arsitektur, tetapi sampai saat ini ASRI Jogjakarta tidak ada jurusan arsitektur, UGM malah sekarang ini sudah ada jurusan arsitektur.
            Di Jogjakarta bekas pelajar pejuang diurus oleh KUDP (kantor urusan demobilisasi pelajar) dan kantor urusan veteran jogjakarta saya digolongkan sebagai veteran golongan A. Tetapi waktu sudomo berkuasa disuruh mendaftar ulang tetapi saya tidak berminat lagi mendaftar kemana saya tidak tahu. Tidak apalah saya selama belajar tidak dipungut bayaran malahan mendapat uang saku cukup untuk hidup sebulan. Tetapi setelah lulus saya harus mau menjadi pegawai negeri, maka setelah lulus ASRI saya menjadi guru setingkat SMA. Kebetulan teman saya selagi di ASRI bernama ALI BASAM (pelukis terkenal) yang kemudian menjadi direktur ASRI yang menjadi guru di taman siswa, akan keluar karena kesibukannya, meminta saya untuk menggantikannya maka akhirnya saya menjadi guru negeri diperbantukan di taman siswa, malahan saya diminta menjadi ketua bagian organisasi ibu pawiyatan. Di kemudian hari timbul perpecahan antara golongan “kiri melawan golongan nasional dan PSI”. Di bawah ki mohamad tauchid (terkenal PSI). Keluarga nyi hajar berpihak kepada ki mohamad tauchid meskipun putra bungsu beliau ada yang menjadi wartawan HARIAN RAKYAT. Karena solider dengan kawan-kawan golongan kiri, saya mengundurkan diri dari taman siswa meskipun saya dipertahanka supaya jangan mengundurkan diri. Selama di taman siswa saya sudah sering mengirim karikatur ke Harian Rakyat, saya pada permulaan 1965 pindah ke Jakarta, kebetulan pada waktu itu Harian Rakyat membutuhkan karikaturis maka saya diterima sebagai wartawan yang ditugasi mengurus karikatur. Pecah G30 S saya ditangkap lebih kurang satu tahun saya disekap dan satu tahun lagi menjadi tahanan kota. Masalahnya kemudian bagaimana saya bisa menghidupi keluarga. Untunglah ada beberapa teman zaman perjuangan yang membantu, kemudian saya bekerja di suatu Biro arsitek dan belajarlah saya menggambar bangunan. Jadilah saya arsitek “freelance” yang kemudian diakui dan diterima menjadi anggota IAIC (ikatan arsitek indonesia) lumayanlah hidup saya. Tetapi sekarang karena usia makin lanjut menjadi semakin loyo, daya ingat juga sudah makin berkurang, mata pun mulai rabun karena katarak, jadilah saya pengangguran, tetapi atas izin Allah SWT masih mampu menyelesaikan buku ini meskipun di sana-sini saya merasa masih kurang jelas tetapi saya berdo’a mudah-mudahan bisa jadi bekal generasi muda untuk memperjuangkan keadilan dan kemakmuran di negeri Indonesia tercinta.

pendapat Dr Asvi Warman Adam tentang buku Marxme dan kehancuran PKI

ENDORSEMENT
Sejarah Lisan berjasa dalam memberi suara kepada korban yang selama puluhan tahun dipaksa  membisu.  Namun Sejarah Lisan juga mengandung kelemahan karena memberi “kesempatan kedua” kepada pelaku sejarah sejarah dalam mereposisi masa lalu dirinya. Ketegangan antara kedua kutub tersebut tergambar pada buku yang merupakan  dialog lintas generasi ini.
Imam Achmad wartawan Harian Rakyat sejak awal 1965 mengungkapkan bahwa karikaturnya yang diturunkan pada tanggal 1 Oktober 1965 ternyata dari semula sudah diblok hitam, namun karena ia kalah suara, karya itu dimuat juga. Ia bercerita secara singkat saat-saat genting dalam peralihan kekuasaan 1965 tetapi apakah kehancuran PKI lebih banyak disebabkan oleh kesalahan Aidit dan Nyoto?
DR. RAsvi Warman Adam,  Sejarawan LIPI     


Kehancuran PKI


BUKU MARXISME DAN KEHANCURAN PKI


Dapatkan Di Gramedia terdekat di tempat qnda IDR 29.000

BUKU MARXISME DAN KEHANCURAN PKI

Buku ini ditulis dengan cara yang sangat menarik, yaitu dalam bentuk dialog antara seorang generasi muda dan seorang pelaku sejarah. Pilihan untuk menulis karya yang dapat dikatagorikan sebagai sejarah dalam bentuk dialog adalah pilihan yang sangat cerdas, mengingat karya-karya tentang sejarah Indonesia hingga saat ini kebanyakan ditulis dalam bentuk narasi panjang yang dilengkapi dengan catatan kaki dan bibliografi. Penyajian sejarah dalam bentuk dialog bisa menghilangkan kekakuan yang lazimnya terdapat dalam karya akademis. Meski ditulis dalam bentuk dialog namun isi buku ini tidak bisa dikatakan ringan. Ada dua hal yang menyebabkan buku ini menjadi karya yang patut diperhitungkan. Pertama, pilihan temanya yang merupakan tema krusial di dalam historiografi Indonesia, yaitu tentang marxisme dan Partai Komunis Indonesia. Kedua, pelaku sejarah yang berkisah di dalam buku ini, yaitu Imam Achmad yang merupakan bekas wartawan Harian Rakyat yang bertugas mengurusi karikatur di surat kabar tersebut.
            Hampir lebih dari separuh isi buku ini digunakan untuk membahas Marxisme. Bagian awal buku dibuka dengan cara yang menarik dengan memperbandingkan antara komunisme dengan narkoba. Di bagian ini Imam Achmad secara kritis mengkritik pandangan para pimpinan PKI tentang Marxisme. Para pimpinan PKI seperti Aidit, Nyoto dan Sudisman menurut Imam memiliki pemahaman yang rancu mengenai marxisme. Pesan yang ingin disampaikan Imam di bagian awal buku ini adalah bahwa apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh para pimpinan PKI tidak seperti marxisme yang digagas oleh Karl Marx. Menurut Imam marxisme tidak bisa dijelaskan dari sudut pandang politik karena ajaran marxisme terutama adalah tentang bagaimana “kelompok manusia mencari penghidupan secara ekonomi dan berkembang sesuai keadaan perkembangan ekonomi”.
            Dalam bab selanjutnya dijelaskan lebih jauh bahwa marxisme adalah ilmu dan aliran filsafat. Marxisme bagi Imam bukanlah dogma atau ajaran kepercayaan. Pada bagian ini kita menemukan suatu pandangan tentang marxisme yang dikemukakan dengan lugas. Imam menyampaikan gagasan-gagasannya tentang marxisme dengan cara yang sepertinya sederhana tetapi sebenarnya tetap tidak kehilangan kedalaman. Melalui pembahasannya tentang riwayat Karl Marx dan bagaimana pemikiran Marx tentang tahap-tahap perkembangan masyarakat kita sebagai pembaca dibawa berkelana untuk melihat perkembangan pemikiran marxisme dari sudut pandang penggagasnya sendiri. Di bagian ini kita bisa merasakan Imam Achmad bukan hanya sebagai pelaku sejarah tetapi juga sebagai seorang pemikir kritis yang berusaha memahami marxisme dengan bersumber pada apa yang dikatakan oleh Marx sendiri.
            Dalam buku ini, selain Indonesia, ada dua negara yang dijadikan contoh dari penerapan marxisme, yaitu di Rusia dan di Cina. Berdasarkan sejarah Marxisme di Rusia, Imam mengatakan bahwa fase kapitalisme yang seharusnya dilalui oleh Rusia telah dilewati begitu saja karena Lenin sebagai pendiri Uni Sovyet memilih untuk langsung menuju ke tahap sosialisme dengan membentuk negara “sosialis/komunis”. Langkah ini dilakukan karena adanya ketakutan terhadap kapitalisme. Padahal bagi Imam kapitalisme sebagai tahapan perkembangan masyarakat tidak perlu dikuatirkan karena fase itu memang harus dilewati untuk melahirkan sosialisme dan memunculkan negara. Apa yang patut digaris bawahi adalah pernyataan Imam bahwa kesalahan Lenin ini ternyata kemudian ditiru oleh partai komunis di negara lain termasuk juga Indonesia.
            Pada bagian tentang marxisme di Cina, Imam Achmad memperlihatkan pemahaman yang baik tentang sejarah modern negeri tirai bambu tersebut. Cina yang pada awal abad 20 pernah diperintah oleh kaum nasionalis pada akhirnya jatuh ke tangan kaum komunis di bawah pimpinan Mao Tse Tung. Serupa dengan Stalin di Uni Sovyet, Mao juga cenderung untuk melakukan kultus individu. Sikap Mao tentang kultus individu mendapat tentangan dari kawan-kawan Mao sendiri seperti Liu Shao Chi dan Deng Shiao Ping. Kuatnya posisi Mao dalam Partai Komunis Cina menyebabkan kultus individu terhadap dirinya terus berlangsung.
Apa yang menarik dari Liu Shao Chi adalah upayanya untuk mengangkat ekonomi Cina dari keterpurukan. Berbagai kebijakan yang diterapkan olehnya seperti kebebasan berusaha, pengelolaan perusahaan negara secara efisien dan pengutamaan keahlian dari ideologi telah menjadi pemicu perkembangan ekonomi Cina. Langkah-langkah Liu Shao Chi dilanjutkan oleh Deng Shiao Ping setelah Mao meninggal pada tahun 1976. Deng memimpin Cina untuk masuk ke tahap kapitalisme. Bagi Imam Achmad apa yang dilakukan oleh Liu dan Deng merupakan langkah-langkah yang tepat. Hal ini karena sesuai dengan apa yang dikatakan Marx bahwa masyarakat sosialis atau komunis hanya dapat terwujud setelah tahapan kapitalisme dilewati.
            Pembahasan tentang marxisme di Rusia dan Cina menjadi pintu masuk ke pembahasan tentang marxisme di Indonesia. Setelah menelusuri perkembangan marxisme di Rusia dan di Cina, maka perkembangan marxisme di Indonesia dapat dilihat dalam perspektif perbandingan dan dalam konteks yang lebih luas. Sejarah marxisme di Indonesia telah berawal sejak permulaan abad 20. Marxisme sebagai suatu kesadaran politik diperkenalkan ke Indonesia seoleh orang Belanda yang bernama H.J.F.M. Sneevliet. Tokoh ini masuk ke Indonesia pada tahun 1913 dan untuk selanjutnya tinggal di Indonesia untuk masa lima tahun. Setelah bergabung dengan VSTP (Vereeniging Voor Spooren En Tramweg Personeel) Sneevliet kemudian berinisiatif mendirikan ISDV (Indische Social Democratische Vereeniging) di tahun 1914. Dengan  dimotori oleh Semaun  dan Darsono pada tahun 1920 ISDV berubah menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia).
            PKI memanfaatkan SI (Sarekat Islam) untuk dapat mengembangkan dirinya menjadi partai politik yang kuat. Melalui strategi infiltrasi ke dalam SI partai komunis ini berhasil menyusup ke dalam organisasi rakyat Indonesia yang terbesar di masa pergerakan nasional. Strategi infiltrasi menyebabkan munculnya SI merah dan SI putih, yang pertama untuk mereka yang beraliran marxis sedangkan yang kedua bagi mereka yang menentangnya. Untuk mencegah berlanjutnya dualisme, para pemimpinan SI seperti Haji Agus Salim dan Abdul Muis menegakkan disiplin intern yang berujung pada keluarnya anggota PKI dari SI. Infiltrasi PKI ke dalam SI tidak hanya menyebabkan berkembangnya pengaruh komunis di kalangan Islam, tetapi juga sebaliknya. Hal ini ditandai dengan adanya para aktivis komunis yang berlatar belakang tokoh Islam seperti Haji Misbach, Haji Datuk Batuah, Haji Moh. Siradi dan Haji Muchlas. Orang yang terakhir merupakan ayah dari tokoh PKI tahun 1960-an, M.H. Lukman.
            Titik balik yang menentukan dari kiprah PKI pada masa pergerakan nasional adalah pemberontakan yang dilakukannya pada tahun 1926. Menurut penilaian Imam Achmad, pemberontakan tersebut dilakukan tanpa suatu persiapan yang matang. Pemberontakan itu lebih disebabkan karena semangat yang mengebu-gebu daripada perhitungan yang rasional. Tanpa dukungan kekuatan militer, persenjataan yang memadai dan masa rakyat yang militan maka dapat diperkirakan bahwa pemberontakan itu akan berujung pada kegagalan. Setelah pemberontakan yang gagal ini para aktivis PKI dibuang ke Boven Digoel dan pemerintah Belanda bersikap semakin represif terhadap kaum pergerakan. PKI dijadikan partai terlarang dan tidak muncul lagi sampai dengan masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Bagi Imam Achmad, meskipun menemui kegagalan, pemberontakan PKI tahun 1926 telah memperlihatkan kepada rakyat Indonesia bahwa kekuasaan kolonial Belanda dapat digoyangkan. Pemberontakan itu memberi kesadaran politik dan mendorong munculnya kaum non-kooperator dalam dunia pergerakan nasional.  
            Salah satu bagian paling menarik dari buku ini adalah bagian yang membahas tentang peristiwa G 30 S. Hingga saat ini ada berbagai penjelasan tentang siapa yang menjadi dalang dari peristiwa tersebut. Ada penjelasan yang menyatakan PKI merupakan dalang. Kemudian ada yang mengatakan peristiwa G 30 S adalah masalah internal Angkatan Darat. Penjelasan lain mengatakan Sukarno adalah orang yang berada di belakang peristiwa itu. Sedangkan penjelasan terakhir yang juga banyak dikutip mengatakan bahwa Suharto merupakan otak di belakang G 30 S. Imam Achmad memberi penjelasan yang berbeda. Menurutnya G 30 S digerakkan oleh biro khusus yang dipimpin langsung oleh ketua umum PKI, D.N. Aidit. Sepak terjang dari biro khusus tidak diketahui oleh para pimpinan PKI yang lain. Akibatnya biro khusus bertindak tanpa ada kendali dan akhirnya terjerumus dalam suatu upaya kudeta yang gagal yang berujung pada kehancuran PKI. Secara kritis Imam tidak sekedar berhenti dengan hanya menyalahkan biro khusus yang dipimpin oleh Aidit. Lebih jauh lagi menurutnya kesalahan juga ada di pihak partai, anggota, simpatisan, dan termasuk dirinya sendiri yang membiarkan Aidit bertindak semau sendiri tanpa pernah ditegur dan dikoreksi.
            Meski menceritakan tentang kehancuran PKI tetapi bagian penutup buku ini menggambarkan optimisme Imam achmad terhadap masa depan sosialisme atau komunisme. Kegagalan komunisme yang terjadi di Rusia ataupun di Cina pada masa Mao Tse Tung baginya bukan karena komunisme tidak bisa diwujudkan. Tetapi lebih karena Stalin dan Mao menolak untuk melewati tahap kapitalisme. Menurut Imam saat ini kita sedang melewati tahap kapitalisme dan setelah itu barulah tahap komunisme bisa dicapai. Baginya marxisme dan komunisme tidak perlu ditakuti karena ia sebetulnya adalah suatu cara pandang dalam melihat dinamika dan perkembangan masyarakat. Bagi kita tentu pandangan Imam ini dapat kita terima. Bagi orang-orang yang tidak menganut pandangan marxisme atau komunisme ajaran itu tetap merupakan alat analisa yang perlu diperhitungkan dalam melihat dinamika yang ada di dalam masyarakat. Dalam pengertian inilah kita menemukan relevansi dari buku ini terhadap situasi Indonesia saat ini

PRINSIP KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN

PRINSIP-PRINSIP KURIKULUM DAN INSTRUKSIONAL
 Berbicara tentang perkembangan kurikkulum harus dimulai dengan elemen elemen serta ketrkaitan elemen elemen tersebut sehingga  kurikulum tersebut efektif. Perkrmbangan kurikulum tersebut hendaknya dimulai dengan mengidentifikasi empat pertanyaan penting yang harus dijawab pada perkembangan suatu kurikulum dan perencanaan pada proses pembelajaran. Ke empat elemen tersebut ialah :
1.       Apa tujuan pendidikan yang akan dicapai oleh suatu sekolah
2.       Pengalaman pendidikan apa saja yang dapat mencapai tujuan pendidikan tersebut
3.       Bagaimana mengorganisir dengan efektif pengalaman pendidikan tersebut
4.       Bagaimana cara menentukan bahwa tujuan pendidkan yang telah ditentukan telah tercapai.

1.Apa tujuan pendidikan yang akan dicapai di suatu sekolah

                Program suatu pendidikan tujuannya sering tidak ditentukan secara jelas. Para guru yang mengajar mata pelajaran tertentu lebih banyak mengajar karena tugas yang dibebankan kepadanya.
Bagaimana mungkin suatu pembelajaran akan berhasil dengn baik apabila pengajarnya tidak tahu tentang tujuan yang akan dicapai oleh peserta didik, materi apa yang tepat diberikan kepada peserta didik, topic topic apa yang akan diberikan dan metode apa yang akan diberikan agar proses pembelajaran sesuai denan tujuan yang akan dicapai. Jadi apabila suatu program akan dibuat perencanaanya, maka harus ditentukan tujuan dari progam yang akan diajarkan.  Tujuan ini merupakan criteria  yang akan menentukan materi apa yang akan diberikan, metodenya bagaimana, sistematik serta bagaiman sequensenya   agar tercapai apa yang diinginkan. Analisis lainnya yang harus diperhatikan ialah nilai nilai apa yana akan dicapai dari tujuan pendidikan tersebut serta philosophi apa yang trmuat dari pendidikan dari suatu sekolah.
                Banyak para pakar sosiologis berpendapat bahwa tujuan suatu pendidikan harus memperhatikan berbagai situasi serta realita yang ada di suatu masyarakat. Hal ini sangat terkait dengan budaya dari masyarakat tersebut. Masalah masalah apa yang ada di masyarakat tersebut. Dengan mengetahui permasalahan dan kebutuhan dari masyarakat. Di sisi lain para pakar filsafat pendidikan menjelaskan bahwa kehiduan suatu masyarakat atau komunitas memiliki nilai-nilai yang mendasar dalam hidup dan kehidupan yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Para pakar pendidikan menjelaskan bahwa sekolah merupakan memiliki fungsi yang esensial dalam mentrnsmisikan nilai-nilai mendasar dari suatu masyarakat , dan merupakan dasar tujuan pendidikan dirumuskan. Di sini kita mendapatkan sumber informasi tentang tujuan pendidikan dan bagaimana informasi tersebut disampaikan kepaoa peserta didik melalui pendidikan.
                Peserta didik pada dasarnya merupakan sumber dar tujuan pendidkan. Pendidikan merupakan suatu proses pada perubahan  prilaku. Prilaku secara luas meliputi cara berpikir dan merasakan yang tercermin dalam actionnya. Jadi dapat dijelaskan bahwa perubahan prilaku sesuai dengan tujuan pendidikan terutama philosophi suatu masyarakat atau Negara merupakan tuigas institusi pendidkan. Terkait dengan institusi pendidikan kita mngenal pendidikan tingkat sekolah dasar, sekolah menengah petama, seklah menengah tingkat atas. Kebutuhan peserta didik untk setiap jenjang berbeda.
                Menurut Prescott kebutuhan dapa diklasifikasikan menjadi tiga tipe: pertama kebutuhan fisik seperti makan, minum, untuk kegiatan aktfitas termasuk kebutuha sex; ke dua kebutuhan social seperti status, kasih saying, penerimaan dalam kelompok; ke tiga ialah kebutuhan yang sifatnya integrative seperti kebutuhan yang lebih luas dan terkait dengan diri sendiri seperti kebutuhan untuk memenuhi philosophy hidupnya. Ketiga tipe kebutuhan ini diperlukan oleh semua anak dan ini merupakan tanggung jawab sekolah dan lembaga social lainnya seperti keluarga dak masyarakat untuk membantu anak untuk mendapatkan kebutuhan tersebut . ini merupakan cara tidak hanya kepuasan anak mendapatkan kebutuhan tersebut, tapi bagaimana mendorong anak dan mengembangkan pola perilaku sesuai dengan kepribadiannya dan tuntutan masyarakat. Mempelajari berbagai kebutuhan anak yng dilakuakan sekolah melalui kelompok akan melibatkan anak-anak untuk mengidentifikasi kebutuhan mereka,sehinga sekolah tidak hanya bersifat memaksa anak melkukan sesuatu, tapi sekolah membantu anak-anak menemukan kebutuhannya. Ini juga merupakan cara bagaimana tujuan pendidikan sekolah seperti pengetahuan, sikap, keterampilan dan perkembangannya yang dapat membantu anak menemukannya secara efektif. Pembelajaran di sekolah harus memotivasi dan menarahkan anak menemukan kebuthan psikologis mereka. Kebutuhan psikologis ini terkadang akibat dari adanya gap atau jarak atau antara konsep norma atau nilai philosophy dan status yang di lapangan. Gap sering terjadi antara keinginan dan kenyataan. Perbedaan ini tiadak jarang akan menimbulkan tekanan psikologis pada anak. Di sini harus diarahkan menuju equilibrium atau seimbang, sehingga anak kondisinya sehat.
                Terkait dengan kebutuhan anak, maka sumber yang penting harus diperhatikan dalam perumusan tujuan pendidikan seperti factor lingkungan. Lingkungan anak dari hari ke hari baik lingkungan di rumah atau di masyarakat harus diperhatiakan dan menjadi bagian dari perumusan tujuan pendidikan di suatu sekolah. Sekolah harus memfokuskan  secara khusus perbedaan yang dihadapi anak, dan bagaimana usaha sekolah untuk mengatasi problem tersebut yang dihadpi  anak. Ini hendaknya dimasukkan pada  program di sekolah.
                Sekolah hendaknya secara komprehensif mampu memenuhi kebutuhan siswa, dan mampu mengatasi kesulitila -kesulitan yang dihadapi siswa. Tentunya sulit untuk belajar semua aspek dalam kehidupan secara serentak. Secara umum ada beberapa aspek  yang harus dikethui oleh sekolah missal untu anak tingkat SLTP. Smthville mengidentifikasi kebutuhan siswa  Sekolah lanjutan 6ingka pertama sebagai berikut : (1) kesehatan;(2) hubungan social antar mereka termasuk di dalamnyahubungan dengan keluarga dan teman sebaya;(3) hubungan social civic termasuk di dalamnya tata cara kehidupan di sekolah dan di masyarakat;(4) aspek consumer dari kehidupan;(5) pekerjaan yang diinginkan untuk hidup dan;(6) rekreasi. Qspek-aspek ini hamper semus siwa memerlukan . dan sekolah harus memasukkan aspek – aspek tersebut dalam pembeljaran, termasuk didalamnya materi yang terkait dengan keterampilan-ketermpilan, pengetahuan dan ide-ide, sikap, keinginan atu interes. Informs ini diberkan kepada siswa , dengan memperhatikan norma-n0rma ,sehingga dapat diidentifikasi dan harus direspon pada tujuan pendidikan.
                Data ini diperoleh dari siswa yng termasuk pada level atau jenjang pendidikan tertentu. Tentunya dengan memperhatikan siswa di des atau perkotaan, status social dan lain sebagainya. Satu hal yang tidak boleh dilupakan ialah interes dari para siswa, apakah interesnya di bidang matematik, kesenian,social dan sebaganya. Terkaitdengan interes ini mereka dqpqt menfokuskian perhatiannya paea kajian yang diinginkan.
                Satu hal lain yang perlu diperhatikan ialah pelajaran yang berhubungan dengan kehidupan di luar sekolah, ya[tu masyarakat atau community.Sebenarnya sekolah adalah microcosmos dari masyrakat local dan juga masyarakat secara luas. Karena itu Wood (1990) mengingatkan bahwa sekolah merupakan micro  dari suatu masyarakat yang baik apbila kita mengajar mereka secara baik. Apabila kita memberikan pengajaran yang baik di sekolah berarti sebagai jaminan bahwa masyarakat yang dihasilkan juga baik. Setiap sekolah dan setiap kurikulum adalah uniq.Halperin mengemukakan bahwa kurikulum sesuatu yang uniq. Dapat diketahui bahwa setiap sekolah mempunyai keunikan masing-masing. Perbedaan satu sekolah dengan sekolah yang lain terlihat dari materi yang diajarkan serta kegiatan pembelajaran yang ada. Bisa jadi keunikan tersebut terjadi karena sesuatu yang lebih besar yaitu kebudayaan. Kebudayaan merupakan suatu kebiasaan yang ada di suatu masyarakat, yang terdiri dari sekian banyak elemen atau unsur yang ada di suatu sekolah Atau masyarakat.Suatu kebudayaan sekolah menjadikan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan atau sekolah menjadi tempat impian dunia siswa yang tak henti-hentinya.. Di sel]kolah terdapat beraneka ragam suku dan etnis. Sekolah menjadi tempat menstimulasi siswa .

                Pengalaman guru hal yang sangat penting dan merupakan realisasi dari  kebudayaan .Sekolah  dan kurikulum terikat dengan kebudayaan di  sekolah dan kebudayaan dari masyarakatnya. Karena itu setiap pendidik harus mempertimbangkan perubahan yang terjadi di suatu masyarakat yang tergambar di lingkungan sekolah maupun pembelajaran di kelas.