Rabu, 14 Mei 2014

Artikel PAUD

MENDIDIK ANAK CERDAS
Oleh : Dirgantara wicaksono

Pendahuluan
            Pendidikan anak dewasa ini semakin menjadi perhatian utama dan prioritas para orang tua, para ahli pendidikan, masyarakat dan pemerintah. Ada beberapa  penyebab mengapa anak menjadi fokus utama dalam pendidikan. Antara lain kesadaran akan pentingnya ”bersekolah” ada pula penyebab lain yaitu ingin menyerahkan beban pendidikan dari orang tua ke sekolah. Disisi lain ada orang tua yang justru tidak tahan arti pentingnya pendidikan pada anak, sehingga hak pendidikan pada anak terlantarkan. Tidak sedikit kondisi ini ada di sekitar kita, terutama di kota-kota besar misal Jakarta, dimana terdapat beberapa anak yang tidak mendapatkan haknya, seperti yang kita lihat setiap hari  anak-anak jalanan di tempat kemacetan, diperempatan lampu merah yang menadapatkan eksploitasi dari orang tuanya untuk bekerja dengan cara  meminta-minta, mengamen, melap kaca mobil dan lainnya. Padahal dilihat dari usia  rata-rata mereka masuk dalam usia sekolah yang berhak atas pendidikan. 
            Kondisi seperti ini tentu akan menghambat proses perkembangan dan pematangan, serta pandangan hidup yang tidak jelas. Memang pendidikan tidak hanya terjadi  di sekolah, karena masalah pendidikan akan selalu lekat dengan unsur kebudayaan, peristiwa dan lingkungan sekitar. Melalui pendidikan anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal Hak pendidikan pada anak mutlak diperlukan, apalagi undang-undang perlindungan anak sudah terakomodasi, antara lain hak memperoleh pendidikan, waktu luang rekreasi dan berkreasi. Memperoleh pendidikan artinya anak berhak untuk dididik sejak lahir. Tentunya pendidikan harus dilaksanakan oleh orang tua yang dinamakan pendidikan informal. Pendidikan awal ini sangat penting, dan disinilah anak pertama kali mendapat haknya dalam memperoleh pendidikan. Hak ini kemudian dibarengi dengan pendidikan di sekolah, setelah anak memasuki usia sekolah. Pendidikan sekolah sangat penting karena di sini anak diperkenalkan dengan membaca, menulis, berhitung sebagai pendidikan awal yang harus dilalui. Perkembangan yang diperlukan anak tidak hanya berkembang intelektualnya, tetapi juga perkembangan lainya seperti multiple intetelligences (kecerdasan jamak). Ini semuanya merupakan hak yang harus diterima anak melalui pendidikan. Sejalan dengan kemajuan zaman, tentunya bangsa Indonesia dengan kesadarannya dapat mensejahterakan  hak atas kelayakan pendidikan anak. Seperti dalam penomena  yang tergambar di atas, maka perlu penanganan serius atas hak-hak tersebut dengan melibatkan beberapa unsur elemennya baik  orang tua, masyarakat dan pemerintah untuk saling kerjasama dalam mengatasinya. .Dengan demikian sejauh mana hak-hak anak terutama dalam bidang pendidikan dapat dipenuhi.
            Sejalan dengan uraian di atas timbul permasalahan apakah hak-hak anak terutama dalam bidang pendidikan telah terpenuhi? Apakah ada reglasi yang melandasi hak-hak anak di Indonesia? Siapakah yang betanggung jawab untuk memberikan hak anak dalam pendidkan?


Filosofi Pendidikan Anak
Pendidikan adalah sebuah proses yang melekat pada setiap kehidupan bersama dan berjalan sepajang perjalanan  umat manusia. John dewey (1964) mengungkapkan bahwa pendidikan dapat dipahami sebagai sebuah ”konservatif” dan ”progresif” dalam bentuk pendidikan sebagai formasi, sebagai rekapitulasi dan retrospeksi dan sebagai rekonstruksi. Sementara Michael Rutz (dalam Sindhunata 2001, IX) dikatakan bahwa pendidikan berawal dari fakta bahwa manusia mempunyai kekurangan. Pendidikan merupakan jawaban untuk manusia menjadi lengkap.Artinya pendidikan sebagai proses belajar yang ditujukan untuk membangun manusia dengan pengetahuan,sikap dan keterampilan. Jadi pendidikan sebagai usaha yang disengaja untuk membangun individu sebagai manusia yang mandiri dan berinteraksi dengan manusia lain atau masyarakat di mana ia berada. Mandiri dalam arti ia memiliki pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan ( Tilaar, 2004 ) yang diperlukan untuk hidup sebagai manusia modern yang beradap.
            Ada bermacam-macam pendapat yang berbeda terhadap pemecahan masalah seperti; mungkinkah atau dapatkah manusia itu dididik ? terkait dengan pertanyaan tersebut timbullah bermacam macam teori yaitu teori nativisme, emperisme dan Konvergensi. Aliran Nativisme yang dipelopori oleh Schopenhauer dan dianut oleh Prof.Heymans. Menurut aliran ini pendidikan itu tidak mungkin atau pendidikan itu tidak dapat mempengaruhi perkembangan manusia, karena pekembamgan manusia itu ditentukan oleh nativisnya atau pembawaannya. Manusia lahir dengan pembawaannya yang sama sekali tidak dapat diubah. Aliran lainnya yang berlawanan dengan aliran nativisme ialah aliran empirisme. Tokoh dari aliran ini antara lain John Lock . Ia berpendapat bahwa manusia lahir dengan jiwa yang kosong, yang jiwa ini terisi dengan oleh ide-ide atau pengertian-pengertian, karena pengaruh dari luar . Lock berpendapat bahwa anak yang lahir itu ibarat kertas yang masih putih dan pendidik dapat membuat coretan di atas kertas tadi menurut kehendaknya.Jadi pendidikan adalah maha kuasa. Hal yang sejalan dengan pandangan tersebut, Plato berpendapat bahwa alam sekitar dengan materi yang disekitarnya mempunyai pengaru penting.
            Ke dua aliran ini tidak dapat diterima dari segi paedagogis. Aliran nativisme dengan ekstrim menonjolkan faktor pembawaan atau faktor heriditer yang lebih mementingkan faktor keturunan dan merupakan faktor lingkungan. Aliran emfirisme juga tidak sesuai dengan kenyataan paedagogis karena teori ini terlalu ekstrim menonjolkan peranan pendidikan pada umumnya yan biasa disbut golongan envirionmentalist.
            Ke tiga adalah teori konvergensi yang dipelopori olehWillion Stern ia tidak menyetujui kedua aliran di atas. Perkembangan manusia adalah hasil perpaduan kerjasama konvergensi anatara faktor bakat dan faktor aam sekitar. Mereka percaya bahwa faktor bawaan atau potensi ada sejak lahir. Tetapi potensi yan masih diam tadi memerlukan rangsangan dari luar untuk tumbuh dan berkembang. Jadi pendidikan sangat menentukan untuk mempengaruhi dari bawaan anak dan berkembang kearah kemajuan tertentu dalam batas-batas yang seirama dengan kodrat yang dibawa sejak lahir. Adanya perbedaan individual juga disebabkan karena adanya perbedaaan kedua faktor tersebut. Dengan  pendidikan  hak anak dapat diterima dengan baik agar mereka tumbuh kembang sesuai dengan potensi yang dimiliki. Pendidikan ini diberikan untuk seluruh anak baik dilikungan kultur desa maupun perkotaan.
            Selain ke tiga aliran tersebut, perlu dicermati , bahwa kedudukan anak dapat ditinjau secara filosofis, sosilogis,  politis dan yuridis. Secara filosofis anak adalah amanah Tuhan yang harus dipertanggung jawabkan oleh orang tua dan masyarakat, antara lain hak dalam pendidikan; secara sosiologis anak adalah generasi penerus keluarga, masyarakat dan bangsa, sehingga harus dirawat, dididik, dan dibina agar kelngsungan hidup, serta tumbuh dan kembangnya terjamin; secara politis anak adalah warga negara yang menjadi tanggung jawab negara dan pemerintah sesuai amanat UUD 1945; secara yuridis setiap orang tua atau kelompok orang yang mengabaikan hak-hak anak ( kekerasan, eksploitasi, diskriminasi ) harus dihukum untuk memberi efek jera.
           
Acuan kebijakan atas pendidikan  anak di Indonesia:
            Pendidikan anak di Indonesia pada dasarnya telah memiliki landasan hukum yang jelas untuk direalisasikan. Landasan hukum tersebut yaitu:
  1. Landasan hukum yang terkait yang tersirat dalam UUD 1945 pasal 28 ayat 2 yaitu negara  menjamin kelangsungan hidup, pengembangan dan perlindungan anak terhadap eksploitasi dan kekerasan.
  2. Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlidungan Anak.
Undang-undang ini memerinci berbagai faktor hak-hak anak, antara lain hak dan kewajiban, kedudukan anak, perwalian, pengasuhan dan pengangkatan anak, bahkan dibahas juga mengenai penyelenggaraan perlindungan anak, peran masyarakat, serta komisi perlindungan anak Indonesia.
  1. Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada pasal 1 dinyatakan bahwa: pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
  2. Deklarasi Dunia tentang Pendidikan Untuk Semua, Jomtien Thailand 1990. berisi enam buah tujuan yang perlu diraih yaitu:
1.      Meluaskan kegiatan-kegiatan perawatan dan pembangunan anak usia dini, termasuk intervensi keluarga dan komunitas, khususnya untuk anak-anak miskin, tak beruntung dan cacat.
2.      Akses universal pada penamatan sekolah dasar atau tingkat pendidikan tinggi yang manapun yang dianggap ”dasar” menjelang tahun 2000
3.      Perbaikan dalam presentasi belajar, sedemikian rupa sehinga suatu persentasi yang disepakati  untuk kelompok umur yang tepat (umpamanya 80 % dari anak yang berusia 14 tahun) dicapai atau dilampaui tingkat tertentu yang ditetapkan yang diperlukan untuk prestasi belajar.
4.      Pengurangan tigkat keaksaraan orang-orang dewasa (kelompok umur yang tepat ditetapkan oleh tiap negara.
5.      Perluasan penyediaaan pendidikan dan pelatihan dasar dalam keterampilan-keterampilan lain diperlukan oleh pemuda dan orang-orang dewasa.
6.      Perolehan yang meningkat dari orang seorang dan keluarga-keluarga akan pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai yng diperlukan untuk kehidupan yang lebih baik, dan pembangunan yang sehat dan berkelanjutan hendaklah tersdia melalui semua jalur pendidikan, termasuk media masa.
Dengan demikian, atas dasar kebijakan tersebut hendaknya hak pendidikan anak dapat terwujud dan menjadi tanggungjawab kita semua, baik negara, pemerintah, mayarakat, keluarga dan orangtua dalam mengotimalkan pendidikan terutama dikalangan anak bangsa.

Selintas Pandang  Pendidikan Anak di Indonesia
            Berbicara masalah pendidikan, hendaknya kita jangan hanya terpaku pada sistem persekolahan yang terbatasi pada tempat buah dinding putih bangku yang tertata rapi. Bagi usia anak-anak, orang tua merupakan guru yang terpenting dan rumah tangga merupakan lingkungan belajar utamanya. Dari sini fungsi pendidikan untuk anak perlu direalisasikan, bukan sekedar memberi pengetahuan kepada anak melainkan bagaimana pendidikan itu dapat mengakses anak untuk berpikir, bereksplorasi, bergaul, berekspresi, berimajinasi tentang berbagai hal yang dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal. Dengan  mengoptimalkan potensi multiple inteligences (kecerdasan jamak) anak dalam mendapatkan pendidikannya.
            Menyiasati kondisi tersebut perlu dikembangkan kebijakan revitalisasi atas program-program layanan pendidikan anak secara terpadu. Keterpaduan program tidak melemahkan dan menghilangkan yang ada melainkan akan menjadi solusi dalam memecahkan masalah dan dapat mengisi serta saling melengkapi berbagai pihak.
Dan yang menjadi sorotan dewasa ini, belum adanya kebijakan pemerintah yang memperioritaskan hak atas pendidikan anak seperti halnya dalam pendidikan formal, yang mana dapat berimplikasi pada terbatasnya implementasi layanan pendidikan anak dilapangan. Untuk itu peran serta komponen bangsa baik keluarga sebagai sasaran, masyarakat, LSM, dan pihak pemerintah untuk menjembatani atas terwujudnya layanan program pendidikan untuk anak bangsa dapat tercapai.

Pentingnya Layanan  Pendidikan Anak Dalam Peningkatan SDM
            Jika berkaca kebelakang terlihat bahwa selama ini perhatian pemerintah terhadap pendidikan dini sangat rendah. Padahal belajar dari pengalamn negara lain yang telah maju mereka sangat memperhatikan atas pendidikan bagi anak bangsanya dalam penyiapan pembangunan SDMnya. Mengapa ini penting ? Karena pendidikan dini memiliki kontribusi besar terhadap pengembangan kwalitas SDM saat dewasanya kelak. Oleh karena itu layanan penididikan untuk anak selayaknya mendapatkan  perhatikan yang serius dan dapat menyentuh semua anak.
            Hal ini sesuai dengan pilar pendidikan atas layanan pembelajaran fundamental sepanjang hidup manusia untuk memperoleh hak pendidikannya yaitu:
  1. Learning to know (belajar untuk tahu) yaitu instrument yang didapat dari pemahaman anak terhadap informasi yang diterimanya..
  2. Learning to do (belajar mengerjakan), untuk mampu bertindak secara kreatif terhadap lingkungannya.
  3. Learning to live together, learning to live with others (belajar hidup bersama) berpartisipasi dan berkooperasi dengan orang lain dalam aktivitas keseharian.
  4. Learning to be (belajar untuk menjadi), sebuah kemajuan esensial yang merupakan akibat dari tiga pembelajaran lainnya yaitu bagaimana anak mandiri dan mengembangkan potensinya seoptimal mungkin.
Dari pilar-pilar pendidikan akan sangat berarti jika hak pendidikan anak dapat terlaksana dan berhasil dengan baik.

Komponen Pelaku Pendidikan Anak
            Komponen pelaku atas hak pendidikan anak, harus dilaksanakan dengan saling kerjasama agar proses pelaksanaanya dapat berhasil dengan baik. Komponen tersebut meliputi:
  1. Anak merupakan subyek sentral yang memiliki potensi, bakat, minat untuk berkembang dan maju.
  2. Lembaga keluarga sebagai guru pertama dan utama bagi anak yaitu orang tua, dalam hubungan dengan proses pendidikan anak, orang tua memberikan stimulasi edukasi sebagai pemberian kesempatan pada anak untuk dapat mengembangkan potensi dirinya baik secara emosional, spritual dan intelektual..
  3. Lemabaga keagamaan untuk meningkatkan moral yang bermartabat dan menjadikan manusia yang berkualitas, seperti taman pendidikan alqur’an dan lainnya.
  4. Lembaga pendidikan sekolah formal, dari TK sampai SD
  5. Lembaga pendidikan luar sekolah, yang menangani pendidikan non formal dan informal yaitu KB, Taman Penitipan Anak, Sanggar Belajar, Rumah Singgah dan sejenisnya.
  6. Lembaga pemerintah, aparatur pemerintah baik tingkat daerah maupun pusat hal ini sesuai amanat UUD 1945..
  7. Lembaga Swadaya Masyarakat, dan organisasi-organisasi Pendidikan, seperti yayasan.
  8. Dunia usaha/perusahaan, baik lokal maupun nasional untuk mempasilitasinya.
  9. Media masa
  10. Semua orang yang bekerja, para profesional, sosial.

Kesimpulan

            Hak pendidikan pada anak mutlak diperlukan, karena anak adalah amanat Tuhan yang harus dipelihara dan dikembangkan potensinya. UU perlindungan anak telah menjelaskan bahwa anak sebagai penerus generasi harus dilindungi hak-haknya antara lain hak pendidikn.
            Pendidikan sangat pentig sebagai ujung tombak untuk mengembangkan potensi anak. Routh (2001) mengatakan bahwa usia prasekolah (2-6 tahun) adalah masa-masa ajaib, karena dengan sekejab terjadi perubahan-perubahan yang mengagumkan pada diri seorang anak. Hanya dalam waktu tiga tahun seorang bayi yang masih merangkak dan tidak berbicara menjadi orang ”sungguhan” yang bisa berbicara dan berjalan. Masa-masa ini merupakan perkembangan yang paling pesat dala rentang kehidupan manusia.
            Namun perkembangan tesebut tidak terjadi secara sertamerta dengan sendirinya. Perlu campur tangan dan bantuan orang lain agar potensi yang ada pada seorang anak dapat berkembang secara optimal. Perkembangan tersebut biasa dikenal dengan multiple inteligences (kecerdasan jamak).
            Dalam kaitan dengan hak pendidikan anak, bahwa dijelaskan pada deklarasi pendidikan untuk semua pada tahun 1990 (Jomtien-Thailand) menetapkan kebutuhan dasar pendidikan adalah  1) kebutuhan hidup; 2) mengebangkan dirinya secara optimal; 3) berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat; 4) memperoleh pekerjaaan; 5) mengambil keputusan berdasarkan informasi; 6) belajar sepanjang hayat.
            Untuk mencapai hal tersebut perlu partisipasi semua pihak antara lain orang tua, sekolah dan masyarakat yang biasa disebut tri pusat pendidikan.    


DAFTAR PUSTAKA

Delors, J..et.al (1998) Learning the treasure Within, Report to Unesco of the internatinal Commision of Education for the Twenty first Century, Paris Unesco
Elliot, G (1999) Lifelong learning, London: Jessia Kingsley Publishers
Matini Jamaris (2003), Perkembangan Anak Usia Taman Kanak-kanak, Program Pendidikan Anak Usia Dini, PPS UNJ, Jakarta
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

KONTRUKTIVISME Sebagai Metode Belajar

PEMBELAJARAN KONTRUKTIVISME
Oleh: Dirgantara Wicaksono
A.   PENDAHULUAN
Era globalisasi dan transformasi dalam segala aspek kehidupan telah memacu bangsa Indonesia untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dilakukan melalui proses pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan memiliki peran penting dalam peningkatan sumber daya manusia. Melalui pengembangan kualitas sumber daya manusia, diharapkan mampu mendudukan bangsa Indonesia bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Hal ini mengingat, pendidikan merupakan kunci bagi suatu bangsa untuk dapat menyiapkan masa depan dan sanggup bersaing dengan bangsa lain.  Pendidikan memeiliki fungsi dan potensi untuk melakukn persiapan-persiapan menghadapi perubahan dalam masyarakat sesuai dengan tuntutan era globalisasi dan transformasi.
Dunia pendidikan dituntut memberikan respon lebih cermat terhdap perubahan-perubahan yang tengah berlangsung di masyarakat. Pendidikan dituntut untuk menerapkan strategi pendidikan yang mampu menyiapkan sumber daya manusia agar memiliki nilai-nilai (values) yang dibutuhkan untuk bersaing pada era globalisasi dan informasi. Dengan demikian, pendidikan harus menyiapkan peserta didik yang berkualitas yang bukan hanya menguasai aspek ketrampiln dasar baru serta ketrampilan sosial dan aspek kepribadian dengan penekanan pada pengembangan nilai-nilai dasar (basic values) sehingga akan menjadi dasar yang kuat bagi sukses dimasa mendatang. Untuk itu, diperlukan reformasi pendidikan khususnya pendidikan dasar apabila kita ingin menyiapkan pribadi berkualitas dalam menghadapi pesaingan global.
Namun, disadari bahwa pembangunan pendidikan bukanlah urusan yang sederhana melainkan urusan menyangkut berbagai pihak, aspek dan dimensi dengan sifatnya yang dinamis, kompleks, mendalam dan luas. Pendidikan juga bukan sesuatu yang bersifat “quick yielding”, melainkan membutuhkan waktu yang lama dan proses yang panjang. Oleh karena itu, memerlukan ketekunan dan kesungguhan dalam penanganannya. Diperlukan adanya kajian yang bijak dalam mengimplementasikan seluruh kebijakan pendidikan sehingga pendidikan mampu dilaksanakan secara efektif dan efisien dalam mempersiapkan generasi bangsa yang kreatif, mandiri, inovatif, kompetitif, dan demokratis.

B. PEMBAHASAN
Teori belajar kontruktivisme masih relevan dalam pembelajaran sekarang karena merupakan teori belajar yang menekankan pada pemerolehan ilmu dan pengetahuan yang dilakukan secara aktif oleh siswa memperoleh pengetahuannya melalui pengalaman-pengalamannya. Saat sekarang, teori ini masih relevan karena pemerolehan ilmu dan pengetahuan melalui jalan ini akan melekat lebih erat dalam memori. Siswa tidak sekedar memahami kata-kata, tetapi juga konsep dari ilmu dan pengetahuan tersebut. Sistem pendidikan modern saat ini juga menekankan pemerolehan konsep pengetahuan ini, jadi tidak sekedar pemahaman verbal.
Peranan guru dalam pelaksanaan belajar dengan menggunakan teori kontruktivisme adalah dengan mengarahkan dan membimbing siswa untuk memperoleh pengalaman-pengalaman belajar sampai siswa memahami konsep-konsep ilmu dan pengetahuan serta mendorong siswa untuk mengemukakan pikirannya. Peranan guru adalah sebagai fasilitator yang meliputi:
1.    guru menciptakan lingkungan yang inovatif
2.    guru menyediakan bahan-bahan sebagai sumber belajar
3.    guru membantu siswa dalam mendapatkan pengalaman atau mengeksplorasi pengalaman
4.    guru membantu siswa dalam hal membentuk konsep
5.    guru membantu siswa mengemukakan pikirannya
6.    guru membantu siswa dalam memecahkan masalah
konstruktivistik merupakan suatu teori tentang pengetahuan dan pembelajaran (knowledge and learning); pengetahuan dan pembelajaran menggambarkan dua hal yaitu apakah pengetahuan itu dan bagaimana suatu pengetahuan itu datang? Teori konstrutivistik merupakan bagian dari teori kognitif yang telah diperkenalkan oleh Jean Piaget 60 tahun yang lalu. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka konstruktivistik mementingkan tiga aspek yaitu adaptasi sebagai ganti dari penggambaran (adaptation instead of representation). Konsep adaptasi berasal dari biologi yaitu hubungan antara kehidupan organisme dengan lingkungan mereka seperti kutipan berikut:
”The relationship of viable biological organisms to their envioroment provieded a means to reformulate the relationship between the cognitive subject’s conceptual structures and that subject’s less accurate representation of external things, situation, and events, but rather as a mapping of action and conceptual operation that had proven viable in the knowing subject’s experience”

Aspek konstruktivisme adaptasi menekankan pada keterkaitan antara konsepyang sudah dimiliki seseorang, beradaptasi dengan pengalaman seseorang.
Aspek kedua dari konstruktivisme adalah pemahaman pada lingkungan (the concept of environment). Dalam model konstruktivisme, lingkungan mempunyai makna yang jelas yaitu: ketika kita berbicara pada diri sendiri, maka lingkungan mengacu kepada pengalaman, sedangkan pengalaman apabila perhatian kita pada unsur khusus, maka lingkungan mengacu kepada lingkungan sekitar.
“In the constructivist model, environment has two quite distinct meanings. On the one hand, when we speak of ourselves, environment refers to the totality of permanent objects and their relations that we have abstracted attention a particular item, environment refers to the surroundings of the item we have isolated, and we tend to forget that both the item and its independent objective world”

Dengan demikian, dalam konstrutivistik yang penting memahami lingkungan terutama dalam proses pembelajaran.
Aspek ketiga dalam konstruktivistik adalah hubungan makna (the construction of meaning). Konstruktivistik lebih berorientasi kepada pembentukan makna, apabila hal ini dikaitkan dengan pembelajaran, maka yang terpenting dalam prose pembelajaran adalah bagaimana mentransfer makna kepada peserta didik.
“….the consideration of how meanings are constituted, and how, consequently, linguistic communication works, would dismantle the stiil widespread notion that conceptual knowledge can be transferred from teacher to student by the means of words”

1.    Paradigma Pembelajaran Konstruktivistik
Paradigma pembelajaran konstruktivistik pada hakikatnya merupakan dasar nonpositivisme yang berbasis pad Jean piaget dan Lev Vygotsky. Teori merupakan teori baru yang merupakan lawan dari teori behaviorisme maturationisme. Seperti yang dikemukakan oleh Fosnot, “Contructivism is undementally nonpositivist and as such it stands on completely new ground often in direct opposition to both behaviorism and maturationism”
J. Piaget adalah psikolog pertama yang menggunakan filsafat konstruktivistik dalam proses belajar mengajar. Menurut teori pengetahuan adalah adaptasi pikiran ke dalam  suatu realitas, seperti organisme beradaptasi ke dalam lingkungannya. Seseorang dapat memperoleh pegetahuan dengan beberapa kata kunci yakni:
Skema/skemata, adalah suatu struktur mental atau kognitif yang dengannya seseorang secara intelektual beradaptasi dan mengkoordinasi lingkungan sekitarnya. Skemata akan terus berubah selama mental anak mengalami perubahan.
Asimilasi, adalah proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru kedalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi ini salah satu proses dimana individu dalam mengadaptasi dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru sehingga pengertian orang itu berkembang.
Akomodasi, adalah proses mencocokkan pengetahuan baru dengan cara: (a) memebentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan baru, (b) memodikfikasi skema yang ada sehingga cocok dengan rangsangan itu.
Equilibration, adalah pengaturan diri secara mekanis untuk mengatur keseimbangan proses asimilasi dan akomudasi. Dengannya seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya (skemata).
Lev Vygosky memperkenalkan Zona of Development (zo-ped). “Vygotsky used the term “zo-ped”, zona of oroximal development, to describe the place where a child’s spontaneous concepts meet the “ syatematicity and logic adult reasoning” yaitu bahwa anak lahir  mempunyai rentangan kemampuan persepsi, kemampuan memori yang ditransformasikan dalam konteks sosial dan pendidikan melalui hukum sosial, sarana, kebudayaan tertentu menjadi fungsi psikologis kognisi tinggi. Zo-ped yaitu suatu tingkat perkembangan actual yang sifatnya belum jadi, amsih berupa potensi. Tingkat perkembangan potensial ditumbuhkan melalui “scaffolding instruction” yaitu pembelajaran  yang berjenjang. Scaffolding instruction menganut tiga prinsip yaitu : holistic (kebermaknaan) meaningfull, konteks sosial yang ekuivalen dengan belajar, dan peluang berubah dan berhubungan.
Untuk mengaplikasikan contruktivistik pada pembelajaran, beberapa prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan yaitu:
1.    Learning is development
2.    Disquilibrium facilitates learning
3.    Reflective abstraction is the driving force of learning
4.    Dialoge within a community engenders further thinking
5.    Learning procceds toward the development of structure

2.    Perbedaan Pembelajaran Konstruktivistik dengan Pembelajaran Behavioristik

Mayer dalam Reigeluth mengemukakan tentang pembelajaran konstruktivistik, bahwa pembelajaran konstruktivitik terjdi ketika peserta didik menciptakan pengetahuan mereka sendiri. Hal ini dikemukakan sebagai berikut “Constructivist learning occurs when learners actively create their own knowledge by trying to make sense out of material that is presented to them”. Selanjutnya Mayer mengatakan bahwa ada tiga hal dalam pembelajaran konstruktivistik yaitu: pembelajaran sebagai kekuatan respon (learning as response strengthening), pembelajaran sebagai pemerolehan pengetahuan (learning as knowledge acquisition), dan pembelajaran sebagai konstruksi pengetahuan (learning as knowledge construction).
Senada dengan itu, Duffy dan Jonassen, mengemukakan bahwa konstruktivistik merupakan dasar epistemology bagi tradisi objectivistic, objektivistik berisi pengalaman dari dunia nyata,pernyataan tersebut ditulie sebagai berikut:
“Constructivism provides an alternative epistemological bese  to the objectivist tradition. Constructivism, like objectivsm, holds that there is a real world that we experience. However, the argument is the world independently of us. There are many ways to structure the world, and there are many meanings or perspectives for any event or concept”

Marlowe dan Page menyebutkan  bahwa konstruktivisme adalah bentukan pengetahuan, bukan penerimaan pengetahuan. Konstruktivistik adalah teori belajar tentang belajar bagaimana kita belajar (learn how to learn). Proposisi utama dari kostruktivistik adalah bahwa pembelajaran berarti membentuk, menciptakan, menemukan, dan mengembangkan pengetahuan kita sendiri. Istilah konstruktivistik dalam pembelajaran adalah :
1.    Proses dan hasil dari pertanyaan, interpertasi, dan analisis informasi.
2.    Menggunakan informasi dan proses berpikir untuk pengembangan, pembangunan, menjadi pemaknaan kita.
3.    Pemahaman tentang konsep ide
4.    Perpaduan pengalaman sekarang dengan pengalaman kita yang lalu dan apa yang kita ketahui tentang suatu objek.
Teori pembelajaran konstruktivistik adalah:
1.    Peserta didik belajar ketika merek aktif dalam pembelajan mereka.
2.    Melalui pertanyaan dan penemuan oleh mereka, melalui penciptaan dan penciptaan ulang dan oleh interaksi dengan lingkungan, peserta didik membangun pengetahuannya.
3.    Belajar secara aktif membimbing untuk suatu kemampuan berfikir secara kritikal dan pemecahan masalah.
4.    Melalui suatu pendekatan pembelajarn aktif, para peserta didik belajar isi (makna) dan proses pada saat yang sama.
Secara singkat perbedaan pembelajaran konstruktivistik dengan behavioristik seperti tertera pada tabel berikut:

      Tabel 1:  Pandangan Behavioristik dan konstruktivistik tentang belajar dan pembelajaran.

Konstruktivistik
Behavioristik
Konstruktivistik memandang bahwa pengetahuan adalah non-objektive, bersifat temporer, selalu berubah dan tidak menentu
Memandang pengetahuan sebagai objektif, pasti, dan tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi
Belajar adalah penyusunan pengetahuan pengalaman konkrit, aktivitas kolaborator, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar adalah menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan
Balajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengatahuan ke orang yang belajar
Si belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengamalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya
Si belajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya apa yang dipahami oleh pengajar itulah yang harus dipahamami oleh si belajar
Mind berfungsi sebagai alat untuk menginterpretasikan peristiwa, objek, atau perspektif yang ada dalam dunia nyata sehingga makna yang dihasilkan unik dan individualistik
Fungsi Mind adalah menjiplak struktur pengetahuan melalui proses berfikir yang adapat dianalisis dan dipilh sehingga makan yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan

Konstruktivistik  memandang pengetahuan adalah non-objektif, bersif temporer, selalu berubah, dan tidak menentu. Bagi konstruktuvistik belajar dilihat sebagai penyusunan pengetahuan dari pengalaman konstrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar adalah menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Atas dasar ini maka si belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuannya tergantung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.
Konstruktivistik memandang bahwa Mind berfungsi sebagai alat untk menginterpretasikan peristiwa, objek atau perspektif yang ada dalam dunia nyata sehingga makna yang dihasilkan bersifat unik dan individualistik. Sedangkan pada sisi lain teori behavioristik memandang bahwa Mind set berfungsi sebagai penjiplak struktur pengetahuan melalui proses berfikir yang dapt dianalisis dan dipilah sehingga makna yang dihasilkan dri proses berfikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan.
 
Tabel 2: Pandangan Behavioristik dan Konstruktivistik TentangTujuan Pembelajaran
Behavioristik
Konstruktivistik
Tujuan pembelajaran ditekankan pada penambahan pengetahuan
Tujuan pembelajaran ditekankan pada belajar bagaimana belajar

Toeri kontruktivistik menekankan tujuan pembelajaran terutama dalam hal menciptakan pemahaman baru, yang menuntut aktivitas kreatif-produktif dalam konteks nyata, yang mendorong si belajar untuk berfikir dan berpikir ulang dan mendemontrasikan apa yang sedang/telah dipelajari.
Penataan lingkungan belajar menurut teori behavioristik dilaksanakan mengikuti urutan kurikulum secara ketat sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks.

Tabel 3: Pandangan Behavioristik dan Konstruktivistik tentang
          Penataan Lingkungan Belajar

Behavioristik
Konstruktivistik
Keterarturan, kepastian, dan keterlibatan
Ketidakteraturan, ketidakpastian, dan kesemrawutan
Si belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkn lebih dahulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial. Pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin
Si belajar harus bebas, kebebasan menjadi unsur yang esensial dalam lingkungan belajar
Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah
Kegagalan atau keberhasilan, kemmpuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu dihargai.
Ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Si belajar adalh objek yang harus berperilaku sesuai dengan aturan
Kebebasan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Si belajar adalah subjek yang harus mampu menggunakan kebebasan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar.

Control belajar dipegang oleh sistem yg berada diluar diri si belajar
Control belajar dipegang oleh di belajar.
           
            Teori konstruktivistik memandang bahwa penentu keberhasilan belajar adalah kebebasan. Si belajar adalah subjek yang harus mampu menggunakan kebebasan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar. Control belajar dipegang oleh si belajar. Hanya di alam yang penuh kebebasan si belajr dapat mengungkapkan makna yg berbeda dari hasil interpretasinya terhadap segala sesuatu yang ada di dunia nyata.
            Strategi pembelajaran konstruktivistik menekankan penggunaan pengetahuan secara bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan – ke – bagian sebagai pandangan yang berbeda dari behavioristik dari bagian – ke – keseluruhan.

Tabel 4: Pandangan Behavioristik dan Konstruktivistik tentang Strategi
    Pembelajaran

Behavioristik
Konstruktivistik
Penyajian isi menekankan pada keterampilan yang terisolasi dan akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian-keseluruhan   
Penyajian isi menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan – ke – bagian
Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat
Pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan si belajar
Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkn kembali isi buku teks
Aktivitas belajar lebih banyak didasrkan pada data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan pada keterampilan berpikir kritis
Pembelajaran menekankan pada hasil
Pembelajaran menekankan pada proses
           
Perbedaan lain adalah evaluasi yang behavioristik lebih banyak menuntut satu jawaban benar, dan jawaban yang benar menunjukkan bahwa si belajar telah menyelesaikan tugas belajar, sedangkan evaluasi yang konstruktivistik berupaya menggali munculnya berpikir divergen, pemecahn ganda, artinya bukan hanya menuntut satu jawaban benar.
            Perbedaan berikutnya yang juga perlu diungkapkan adalah bahwa teori behavioristik memandang evaluasi sebagai bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilkukan setelah selesai kegiatan belajar dengan penekanan pada evaluasiinvidual, sedangkan teori konstruktivistik memandang bahwa evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar, dengan cara memberikan tugas-tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata.                

Tabel 5 : Pandangan Behavioristik dan Konstruktivistik tentang Evluasi
    Pembelajaran

Behavioristik
Konstruktivistik
Evluasi menekankan pada pasif, keterampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan ”paper and pencil test”      
Evaluasi menekankan pada penyusunan makna secara aktif yg melibatkan keterampilan terintegrasi, dengan menggunkan masalah dalam konteks nyata
Evaluasi yang menuntut satu jawaban benar. Jawaban benar menunjukkan bahwa si-belajar telah menyelesaikan tugas belajar
Evaluasi yang menggali munculnya berpikir divergent, pemecahan ganda, bukan hanya satu jawaban benar
Evaluasi belajar dipandang sebagai bagian terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan belajar dengan penekanan pada evaluasi individual
Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugas-tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata. Evaluasi menekankan pada keterampilan proses dalam kelompok


            Penganut konstruktivistik sesungguhnya berinduk pada teori belajar kognitivisme. Teori kognitif, lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Bagi penganut aliran ini, belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Lebih dari itu, belajar melibatkan proses berpikir yang sangt kompleks. Teori ini sangt erat hubungannya dengan teori sibernetik.
            Pada masaa-masa awal mulai diperkenalkannya teori ini, para ahli mencoba menjelaskan bagaimana siswa mengelola stimulus dan bagaimana siswa tersebut bisa sampai ke respon tertentun (aliran tingkah laku masih terlihat disini). Namun lambat laun, perhtian ini mulai bergeser. Saat ini perhatian mereka terpusat pada proses bagaimana suatu ilmu yang baru diasimilasikan dengan ilmu yang sebelumnya telah dikuasai oleh siswa.
            Menurut teori ini, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjaln terpatah-patah, terpisah-pisah, tetapi melalui proses yang mengalir, bersambung-sambung menyeluruh. Ibarat seseorang yang memainkan musik, orang ini tidak memahami not-not balok yg terpampang di partitur sebagai informasi yang saling lepas berdiri sendiri, tapi sebagai satu kesatuan yang secara utuh masuk ke pikiran dan perasaannya. Seperti juga ketik anda membaca tulisan ini, bukan alfabet-alfabet yang terpisah-pisah yang anda serap dan kunyah dalam pikiran, tetapi adalah kata, kalimat, paragraf-yang semua itu seolah jadi satu.
            Untuk memahami dan melihat dengan jelas perbedaan antara aliran behavioris dan konstruktivis, maka dijelaskan bahwa masing-masing karakteriktik aliran tersebut sebagaimana dipaparkan dalam tabel berikut:

Tabel 6 : Karakteristik Konstruktivistik dan Behavioristik

Aspek
Konstruktivistik
Behavioristik
Makna belajar
Belajar adalah proses membentuk pengetahuan yang terus menerus berkembang dan berubah.
Pengetahuan adalah konstruksi pengalaman. Bentukan pengetahuan bukan penerimaan pengetahuan. Membentuk, mencipta, menemukan dan mengembangkan pengetahuan sendiri. Aspek contructivism: adaptation instead of representation, the concept of environment, the construction of meaning.  
Beljar adalah proses perubahan tingkah laku, yang terpenting adalah input, yang berupa stimulus dan output yang berupa respons, yang dapat diukur dan diamati. Faktor lain adalah penguatan (reinforcement), yang berupa positive reinforcement, negative reinforcement (hukuman). Menekankan hasil belajar
Proses belajar
Mempelajari lingkungan, kolaborasi, interaksi, tanya jawab, berdialog, pengembangan, belajar berjenjang: bantuan bertumbuh (assisting growth), kolaborasi dengan teman, (peer collaboration), kekeliriun (errors); melihat perkembangan (windows on development), memiliki, (ownership), sudut pandang (point of viuv), kesopanan (decenting)
Menentukan tujuan belajar, menganalisis lingkungan kelas termasuk entry behavior mahasiswa, menentukan materi pelajaran, memecahkan materi pelajaran menjadi bagian-bagian kecil, menyajikan materi pelajaran, memberikan stimulus berupa pertanyaan tes, latihan, tugas-tugas, mengamati respons yang diberikan, memberikan penguatan, memberikan stimulus baru, mengamati respons yang diberikan (evaluasi hasil belajar) memberikan penguatan
Penganut
J. Piaget, L. Vygotsky. Ausubel, Bruner, Krathmohl, Honey. Mumford, Habermas, lnda, Pask dan Scott
Thondike, Watson, hull, Guthrie, Pavlov, Skinner
3. Landasan Teori Konstruktivistik
            konstruktivistik merupakan suatu teori tentang pengetahuan dan pembelajaran (knowledge and learning); pengetahuan dan pembelajaran menggambarkan dua hal yaitu apakah pengetahuan itu dagaimana suatu pengetahuan itu datang? Teori konstrutivistik merupakan bagian dari teori kognitif yang telah diperkenalkan oleh Jean Piaget sekitar 60 tahun yang lau. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka konstruktivistik mementingkan tiga aspek yaitu adaptasi sebagai ganti dari penggambaran (adaptation instead of representation). Konsep adaptasi berasal di biologi yaitu hubungan antara kehidupn organisme dengan lingkungan mereka, seperti kutipan berikut:
“The relationship of viable biological organisms to their environment provided a means to reformulate the relationship between the sognitive subject’s sonceptual structures and that subject’s experiential word. Knowledge, then, could be treated not as a more or less accurate representation of external things, situation, and events, but rather as a mapping of action and conceptual operations that had proven viable in the knowing subject’s experience.

            Aspek konstruktivisme adaptasi menekankan pada keterkaitan antara konsep yg sudah dimiliki seseorang, beradaptasi dengan pengalaman yang seseorang.
            Aspek kedua dari konstruktivisme adalah pemahaman pada lingkungan (the concept of environment). Dalam model konstruktivisme,lingkungan mempunyai makna yang jelas yaitu: ketika kita berbicara pada diri sendiri, maka lingkungan mengacu kepada pengalaman, sedngkan apabila perhatian kita pada unsur khusus, maka lingkungan mengacu kepada lingkungan sekitar, sebgaimana pada kutipan berikut:
“In the constructivist model, environment has two quite distinct meanings. On the one hand, when we speak of ourselves, environment refers to the totality of permanent objects and their relations that we have abstracted from the flow of our experience. On the other, whenever we focus our attention a particular item, environment refers to the surroundings of the item we have isolated, and we tend to forget that both the item and its surroundings are parts of our own expeental fiels, not an observer independent objective wolrd.
            Dengan demikian, dalam konstruktivisme sangat penting memahami lingkungan terutama dalam merancang pembelajaran.
            Aspek ketiga dalam konstruktivisme adalah membangun makna (the construction of meaning). Konstruktivisme lebih berorientasi kepada pembentukan makna, apabila hal ini dikaitkan dengan pembelajaran, makna yang terpenting dalm proses pembelajaran adalah bagaimana mentransfer makna kepada mahasiswa.
“….the consideration of how meanings are constituted, and how, consequently, linguistic communication works, would dismantle the still widespread notion that conceptual knowledge can be transferred from teacher to student by the means of word.
4. Konstruktivisme dan Desain Pembelajaran
            Teori pembajaran generasi kedua (second generation instructional theory) berasumsi kepada: (1) mental models, (2) categories of knowledge, (3) Knowledge representation, (4) enterprises, (5) Knowledge strategy separation, (6) strategy categorie.  Sedangkan konstruktivisme berasumsi kepada : (1) learning constructed, (2) interrelation peers,  (3) learning active, (4) learning collaborative, (5) learning situated, (6) testing integrated. Dengan asumsi di atas, maka pendekatan konstruktivistik dapt diaplikasikan dalam mendesain pembelajaran.
5. Perspektif Pembelajaran Konstruktivistik

            Pembelajaran Konstruktivistik berpandangan bahwa pembelajaran engarah kepada penataan lingkungan belajar yang dilakukan sebagai berikut: Literate Environments, collaboration, interaction, and questioning, collaborative talk, dialogue, and development, scaffolding: assisting growth, peer collaboration, errors: windows on development, ownership, point of view, and decentering.