Jumat, 19 Juli 2013

Metode pembelajaran Sejarah dalam kurikulum 2013

Metode yang tepat dalam Pembelajaran Sejarah 
oleh : Dirgantara Wicaksono (Ketua Pendiri klub Tempo Doeloe)
            Metode yang dipergunakan guru perlu mendapat perhatian agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Misalnya tujuan pembelajaran untuk menjelaskan tentang reformasi di Indonesia. Guru harus memilih metode yang paling tepat digunakan. Apakah tujuan yang akan dicapai pada ranah kognitif, afektif, atau psychomotor perlu dipertimbangkan guru dalam menentukan metode. Sebaiknya tidak semua materi ajar disampaikan dengan metode yang sama sepanjang tahun. Misalnya pembelajaran sejarah yang bertujuan untuk mengembangkan ranah afektif, metode yang digunakan tidak sama dengan metode untuk mencapai tujuan pembelajaran pada ranah kognitif. Perbedaan penggunaan metode untuk mencapai ketiga tujuan itu harus tampak pada hasil yang didapat setelah proses pembelajaran selesai. Untuk mencapai ranah afektif diperlukan metode yang membentuk sikap siswa yang menitikberatkan pada perasaan senang ataupun tidak senang terhadap pelajaran sejarah. Sedangkan pencapaian ranah kognitif lebih kepada pengetahuan yang dimiliki siswa tentang sejarah. Sedangkan untuk ranah psychomotorik dititikberatkan pada minat dan bakat siswa. Metode simulasi cocok untuk ranah afektif, dan metode ceramah cocok untuk ranah kognitif.
            Di samping itu, guru sebagai “pemimpin tertinggi” di kelas harus mampu memotivasi siswa melalui metode yang digunakannya agar aktif dalam proses pembelajaran. Misalnya dalam metode sinektik, siswa diberi kebebasan untuk mengembangkan kreativitasnya. Untuk itu siswa harus diberi kebebasan berbicara agar berpartisipasi dalam memecahkan masalah. Proses pembelajaran seperti itu akan mendorong siswa untuk bersikap positif. Dalam penggunaan metode simulasi, guru tidak dapat memaksakan skenarionya kepada siswa, karena akan mematikan kreativitas siswa yang membentuk robot-robot yang selalu menurut dalam melakukan perintah dan kehendak guru. Akibatnya siswa tidak mau dan tidak mampu berpikir kreatif, karena siswa berpendapat bahwa tugasnya hanyalah melaksanakan semua tugas yang dibebankan guru. Penggunaan simulasi yang dilaksanakan berdasarkan skenario guru, tidak boleh menghilangkan kebebasan melalui suasana bermain, sesuai dengan yang dikehendaki asal jangan keluar dari alur cerita yang telah disusun guru. Baik melalui metode sinektik maupun simulasi, guru sebaiknya mampu menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif agar sejarah diminati siswa.
            Selanjutnya guru dapat memilih satu dan atau beberapa metode
dari metode-metode yang tersedia. Penentuan metode apa yang akan digunakan bergantung kepada beberapa faktor, yaitu: tujuan yang akan dicapai, siswa yang berbagai ragam, besar dan situasi kelas, fasilitas yang tersedia, topik yang akan dibicarakan, dan kemampuan profesional guru.
            Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran khususnya penanaman konsep adalah metode ceramah. Kondisi yang terjadi tetap komunikasi satu arah di mana yang aktif guru menyampaikan informasi, tidak ada umpan balik dari siswa dan siswa pasif. Melalui ceramah guru tidak hanya dapat menyampaikan fakta yang harus dihafalkan, tetapi juga konsep seperti yang dikemukakan oleh Romiszowski (1986) bahwa ceramah yang tepat pemakaiannya adalah efektif untuk menyampaikan informasi faktual dan penanaman konsep. Ini dipertegas lagi oleh Elzey & Browling (n.d.:3). “In a lecture, the instructor can identify difficult concepts and important points that must be clarified and emphasized and channel the thingking of his students in appropriate directions”.
            Metode lain yang dapat digunakan adalah metode tanya jawab, Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memberikan umpan balik. Komunikasi yang terjadi adalah komunikasi dua arah. Dengan umpan balik ini guru dapat mengetahui apakah informasi yang disampaikannya dapat diterima dengan baik oleh siswa dan apakah siswa dapat memahami atau tidak. Guru mengajukan pertanyaan, siswa diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dengan demikian secara mental siswa turut aktif dalam proses pembelajaran. Dari jawaban yang diberikan siswa, guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanya-an yang meminta jawaban lebih lanjut dari siswa (probling questions) baik yang berupa pertanyaan perluasan, klasifikasi, justifikasi, pengalihan, maupun dorongan (Taylor, Verble & Dodd, 1980). Hal ini sangat penting dalam pelajaran sejarah. Dari pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menggali tersebut siswa secara aktif berusaha untuk memperoleh jawabannya dan ini akan membantu siswa untuk memahami informasi atau konsep yang diberikan, karena pertanyaan-pertanyaan menggali itu adalah pertanyaan pancingan agar siswa menemukan sendiri jawabannya.
            Graves yang dikutip oleh Seabrook (1991) mengatakan bahwa awal dari suatu jawaban, pemahaman terhadap suatu informasi atau konsep adalah terdapat dalam formulasi suatu pertanyaan. Taylor, Verble & Dodd (1980) lebih tegas lagi mengatakan bahwa suatu pertanyaan adalah merupakan separuh dari jawaban, dan separuhnya lagi adalah jawaban itu sendiri.
              Menurut Reigeluth metode pembelajaran sebagai istilah umum adalah cara untuk menolong seseorang dalam belajar. Dalam arti luas, metode pembelajaran sama dengan strategi pembelajaran disebut taktik pembelajaran. Di sisi lain, teori-teori pembelajaran merupakan panduan mengenai kapan menggunakan dan kapan tidak menggunakan metode pembelajaran yang berbeda, baik strategi maupun taktik pembelajaran. Teori-teori pembelajaran berorientasi pada tujuan pembelajaran dan menawarkan bantuan tentang bagaimana mencapai tujuan yang berbeda sebagaimana dibedakan dengan teori-teori deskriptif yang berorientasi pada kesimpulan dan menawarkan deskripsi mengenai proses alam. Dengan demikian menurut Reigeluth teori-teori pembelajaran harus mengkhususkan pada tiga hal, yaitu: 1) tujuan-tujuan yang berbeda yang mungkin dipilih seseorang untuk dikejar; 2) metode-metode berbeda yang dapat digunakan untuk menolong pembelajar mencapai setiap tujuan dan; 3) kondisi-kondisi berbeda yang mempengaruhi kapan menggunakan dan kapan tidak menggunakan setiap metode untuk menolong mencapai tujuan.
Metode pembelajaran mencakup tiga strategi pokok yaitu strategi pengorganisasian materi ajar, strategi penyampaian materi ajar, dan strategi pengelolaan pembelajaran. Hasil pembelajaran dapat berbentuk penguasaan yang seharusnya dicapai dan penguasaan yang dapat dicapai siswa.
Pendapat lain tentang tiga komponen pokok pembelajaran yang dikemukakan Reigeluth yaitu kondisi pembelajaran, metode pembelajaran dan hasil pembelajaran terikat dalam satu sistem. Metode pembelajaran, terutama dalam aspek strategi pengorganisasian materi ajar, terikat pada karakteristik materi yang diajarkan, yang dapat diorganisasikan pada tahap (level) mikro atau makro. Strategi mikro merupakan metode pembelajaran untuk mengajar ide tunggal, dan strategi makro merupakan metode pembelajaran untuk mengajar beberapa ide. Landa, Scandura dan Reigeluth-Stein semuanya cenderung untuk menekankan pada strategi makro. Sedangkan Gropper, Collins-Stevens and Merrill cenderung untuk memfokuskannya pada strategi mikro. Metode pembelajaran juga ditentukan oleh hasil belajar yang diharapkan.
Hasil ditentukan oleh kondisi dan metode pembelajaran. Metode pembelajaran dapat membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tersedia berbagai ragam metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran sejarah. Guru dapat memilih satu metode atau lebih diantara metode-metode yang tersedia. Tidak ada keterbatasan dalam menggunakan metode tertentu untuk mata pelajaran tertentu. Penggunaan suatu metode harus relevan dengan tujuan yang akan dicapai. Pada dasarnya semua metode baik, jangan tanyakan mana yang terbaik atau tidak perlu membandingkannya satu sama lain. Setiap metode mempunyai kekuatan dan kelemahan. Metode apapun yang digunakan, dipengaruhi oleh kesungguhan seorang guru dalam melaksanakan program dan kegiatan pembelajaran atau tergantung pada kesungguhan guru dalam menggunakan metode yang dipilihnya.
Sikap seorang guru di kelas juga ikut menentukan sikap siswa selama dan setelah selesai pembelajaran. Seorang guru yang sikapnya bersahabat  dengan siswa, mungkin lebih disukai daripada sikap guru yang acuh pada siswa. Tugas-tugas dari guru yang disampaikan pada siswa secara bertubi-tubi mungkin akan dirasakan sebagai beban yang tidak disukai dan tidak mendorong siswa untuk belajar. Oleh karena itu sikap guru dan metode yang digunakan guru ikut mewarnai sikap siswa. Tidak ada satupun metode yang cocok untuk semua mata pelajaran,  karena dipengaruhi oleh siapa dan untuk apa metode itu digunakan. Guru tidak boleh fanatik pada satu metode, karena akan menimbulkan kebosanan, baik bagi guru, apalagi bagi siswa. Dengan demikian pemilihan dan penentuan untuk menggunakan suatu metode, selain bergantung pada tujuan yang akan dicapai ,juga dipengaruhi oleh siswa sebagai individu yang beragam,  situasi dan ukuran kelas, fasilitas yang tersedia, topik yang akan dibicarakan dan kemampuan profesional guru.
            Kemudian, metode sinektik dapat menjadi salah satu alternatif dalam kegiatan pembelajaran sejarah. Gordon menyebut metode sinektik sebagai metode untuk meningkatkan kreativitas dengan meningkatkan penggunaan analogi dalam berpikir kreatif. Metode tersebut meliputi beberapa analogi sebagai berikut:
1.      Analogi pribadi yang dapat membawa seseorang ke dalam situasi yang dihadapi secara langsung.
2.      Analogi yang langsung membantu seseorang untuk menemukan pemecahan masalah yang sedang dihadapi sekaligus solusi yang disarankan.
3.      Analogi simbolik yang menggunakan penilaian objektif, impresional atau imajinasi yang positif untuk menggambarkan suatu masalah.
            Peso, dkk. dalam Joice and Weil mengembangkan metode sinektik. Metode yang unik dan menarik ini merupakan pendekatan baru yang dirancang untuk mengembangkan kreativitas individu atau kelompok. Pengembangan kreativitas bertujuan agar individu atau kelompok mampu memecahkan masalah yang dihadapi. Dalam pembelajaran sejarah metode ini akan bermanfaat karena memotivasi siswa untuk mencari tentang ke “mengapa”an sejarah.
Pada awalnya Peso dkk menerapkan prosedur sinektik untuk mengembangkan aktivitas kelompok. Dalam kenyataannya akan berdampak pula pada peningkatan kreativitas individu, karena sinektik yang dirancang untuk meningkatkan kreativitas kelompok bersumber dari saling tukar menukar pengalaman antar individu. Di samping itu sinektik juga menempatkan unsur empati emosional dan irrasional mendampingi kemampuan rasional individu dalam memecahkan masalah. Kondisi ini cocok untuk mengajarkan materi sejarah karena memecahkan masalah dan memahami konsep-konsep sejarah memang memerlukan unsur-unsur tersebut. Misalnya mengapa terjadi perang? Apa sebenarnya konsep perang itu?
            Metode sinektik membantu kreativitas kelompok untuk memecahkan masalah secara bersama-sama mengarahkan alur pikir anggotanya. Dengan demikian partisipasi individu untuk bergabung harus dilandasi oleh perasaan senang dan keinginan yang tinggi dari anggota. Prosedur sinektik dapat dimanfaatkan dalam semua bidang studi. Dua strategi pembelajaran yang mendasari prosedur sinektik menurut Peso adalah (1) menciptakan sesuatu yang baru dan (2) memperkenalkan keanehan.
            Strategi pertama dirancang untuk membantu siswa dalam memahami masalah, ide, dan konsep agar kreativitas siswa dapat berkembang. Strategi ini menggunakan analogi-analogi untuk menciptakan konsep jarak dengan tujuan untuk mengembangkan suatu pemahaman baru tentang konsep atau masalah. Dalam pelajaran sejarah misalnya konsep tentang kebudayaan. Apa yang dimaksud dengan kebudayaan, apakah ada hubungan antara kebudayaan dengan kesenian, mengapa kebudayaan penting untuk dibicarakan.
            Berlainan dengan strategi pertama, strategi kedua dirancang untuk memberikan pemahaman dalam menambah dan memperdalam sesuatu yang baru atau materi yang sulit dipahami, melalui analisis dan konvergensi. Untuk itu siswa diberikan pilihan dengan membedakan karakteristik antara subyek yang dikenalnya dengan yang tidak dikenalnya. Misalnya siswa disuruh menjelaskan hubungan antara konsep reformasi dan wanita cantik. Elemen-elemen tentang wanita cantik tertulis pada kolom kiri dan elemen-elemen reformasi pada kolom kanan.

TABEL 4

HUBUNGAN ANTARA KONSEP-KONSEP TENTANG

WANITA CANTIK DAN REFORMASI


No.
Wanita Cantik

Reformasi

1.
Berhias
Perubahan
2.
Individu
Mahasiswa
3.
Tetap Cantik
Masyarakat Adil Makmur
4.
Nalar
Aturan Main
5.
Terlalu Gemuk
Gagal
               
            Kemudian siswa ditugaskan untuk membuat wacana satu paragraf
tentang hubungan antara reformasi dan wanita cantik tersebut. Misalnya sebagai berikut:
Berhias dalam mempercantik diri merupakan sikap dinamis yang selalu menginginkan perubahan seperti yang diinginkan reformasi. Wanita sebagai individu terus melakukannya agar tetap cantik dan mahasiswa sebagai anggota masyarakat juga melakukannya untuk mencapai tujuan segenap bangsa yaitu masyarakat yang adil dan makmur. Jika wanita cantik tidak menggunakan penalarannya untuk tetap cantik akan terbentuk sebuah sosok yang merupakan perpaduan antara dewi dan si tolol. Demikian juga mahasiswa yang ingin ikut ambil bagian dalam menciptakan masyarakat adil makmur harus melalui aturan main yang jelas. Wanita cantik yang tidak menggunakan otak dalam berdiet atau tidak dapat mengatur cara makan akan menjadi gemuk atau terlalu kurus dan sakit, sehingga tidak cantik lagi. Demikian juga mahasiswa yang mengabaikan aturan main akan gagal dalam mewujudkan reformasi yang dicita-citakan.
Dilihat dari wacana di atas sinektik merupakan metode unik, menarik dan berbeda dari metode-metode lain serta memerlukan kreativitas siswa. Kondisi seperti ini perlu diciptakan dalam pembelajaran sejarah agar siswa menikmatinya. Selanjutnya dalam penelitian ini akan digunakan strategi pembelajaran kedua yang tahapan-tahapannya seperti berikut.

TABEL 5

TAHAPAN UNTUK MEMPERKENALKAN KEANEHAN

TAHAP PERTAMA:
INPUT TENTANG KEADAAN YANG SEBENARNYA
TAHAP KEDUA:
ANALOGI LANGSUNG
Guru menyajikan informasi tentang suatu topik yang baru
Guru mengusulkan analogi langsung dan menyuruh siswa menjabarkannya.
TAHAP KETIGA:
ANALOGI PERSONAL
TAHAP KEEMPAT:
MEMBEDAKAN ANALOGI
Guru menyuruh siswa “menjadi” analogi langsung.
Para siswa menjelaskan dan menerangkan kesamaan antara materi yang baru dengan analogi langsung.
TAHAP KELIMA:
MENJELASKAN PERBEDAAN
TAHAP KEENAM:
PENJELAJAHAN
Para siswa menjelaskan mana analogi-analogi yang tidak sesuai
Para siswa menjelajahi kembali kebenaran topik dengan batasan-batasan mereka
TAHAP KETUJUH:
MEMBANGKITKAN ANALOGI
Para siswa memberikan analogi sendiri secara
langsung dan menjelajahi persamaan dan perbedaannya.
            Pada strategi pembelajaran kedua diperlukan kreativitas guru untuk memilih dengan cermat informasi berupa topik yang akan disampaikan pada siswa. Dalam hal ini peranan guru sangat penting karena guru bukan hanya sekedar orang yang berdiri di depan kelas tetapi harus aktif dan kreatif dalam mengarahkan perkembangan anak didiknya.
Tujuan strategi pembelajaran yang kedua adalah untuk memecahkan masalah dengan pendekatan baru yang lebih segar. Untuk pelaksanaannya tidak dapat hanya dilakukan sekali, tetapi harus sering berlatih seperti kata Thorndike dalam Law of Exercise yang dikutip Hilgard & Bower bahwa makin sering dilakukan latihan akan meningkatkan kemampuan siswa terhadap sesuatu. Metode sinektik dapat dimanfaatkan oleh siswa semua tingkatan usia. Sinektik merupakan cara baru untuk mengenal ide yang masih “asing’ bagi siswa dan akan menghasilkan perspektif baru.
            Partisipasi aktif siswa dalam kelompok melalui metode sinektik membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan interpersonalnya. Gardner dalam multiple intelegence yang ditulis Amstrong (1995-1995: 79-85) mengatakan bahwa kemampuan interpersonal yang dimiliki individu harus selalu ditingkatkan, terutama dalam memecahkan berbagai masalah.
Metode sinektik hampir sejalan dengan model pertemuan kelas. Perbedaan pertemuan kelas dengan sinektik antara lain pada masalah yang didiskusikan. Dalam pertemuan kelas masalah berasal dari siswa, sedangkan metode sinektik masalah diberikan guru sesuai pokok bahasan yang harus dibicarakan. Kemudian peserta pada pertemuan kelas, bukan teman sekelas, sedangkan peserta pada metode sinektik semuanya teman sekelas. Tindak lanjut yang merupakan tahap akhir pada pertemuan kelas tidak selalu ada pada metode sinektik. Namun keduanya sama-sama mengembangkan daya pikir, nalar, spontanitas dalam upaya siswa untuk memecahkan masalah. Metode sinektik yang melatih siswa untuk memecahkan masalah cocok diberikan di SLTP karena menurut Piaget (1988: 242-245) hanya anak-anak yang berumur 11 tahun ke atas yang mampu memecahkan masalah.
            Dalam memecahkan masalah pada metode sinektik dibutuhkan kreativitas. Jika seorang siswa terlibat dalam kreativitas, akan merasa “hidup” dan berbahagia di tempatnya. Disadari atau tidak, barang-barang yang lebih menarik merupakan hasil kreativitas.

            Ada dua alasan utama mengapa penemuan-penemuan orang kreatif sangat penting, yaitu: hasil kreativitas tersebut memperkaya kebudayaan dan secara tidak langsung meningkatkan pengetahuan. Beberapa orang menyatakan kreativitas adalah pengalih perhatian dari masalah yang membebani, tetapi justru masalah dapat dipecahkan apabila kreatif. Kreativitas mampu menyediakan berbagai jawaban untuk memecahkan masalah kehidupan. Kondisi ini terjadi karena manusia dilahirkan atas dua hal yang bertentangan yaitu mementingkan kepentingan pribadi dan mementingkan kepentingan orang lain, tetapi harus selalu dijaga agar keduanya tetap seimbang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar