Jumat, 19 Juli 2013

Psikologi Pendidikan AIK (Al Islam Kemuhammadiyahan)

PSIKOLOGI PENDIDIKAN 'AIK'
(AL ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN)
Oleh : Dirgantara Wicaksono,M.Pd
(Dosen Tetap PGSD,FIP,UMJ)

1.      Pengantar
Secara hermenitik dalam kajian Ilmu pengetahuan, terdapat pemisahan anatara ilmu psikologi dan ilmu pendidikan walaupun kedua bidang ilmu yang mengkaji perilaku manusia, sehingga memiliki common ground (dasar yang umum) yang cukup evident (penting). Objek kajian yaitu perilaku manusia sebagai hasil interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan, bersumber dari berbagai ilmu dan keduanya bersifat multireferensial. Kedua disiplin adalah bidang ilmu yang muda, artinya menjadi mandiri pada abad ke 19 (untuk psikologi) dan abad 20 (untuk pedagogik). Bedanya adalah bahwa psikologi adalah bersifat empiris dan mengkaji perilaku nyata sebagaimana adanya (as it is), sedangkan ilmu mendidik (pedagogik) lebih bersifat normatif dalam mengkaji perilaku manusia (as it should be). Referensi jamak yang dikandung oleh ilmu psikologi adalah filsafat, ilmu alam dan ilmu kedokteran, sedangkan referensi jamak yang dimiliki pedagogik adalah filsafat, antropologi, sosiologi, psikologi.  Ilmu mendidik adalah kajian perilaku manusia maka sebagai ilmu yang teoritis, ia bersumber dari dan diperuntukkan bagi praktek pendidikan dimana aspek psikologi melekat secara bersama-sama dalam dirinya. Sementara kajian agama islam terutama dalam Al islam kemuhammadiyahan , dimana Al islam kemuhammadiyahan islam membahas bagaimana pendidikan awal yang harus ditanamkan kepada anak-anak kita sesuai dengan prilaku rosullulah , yaitu pendidikan iman seperti setiap bayi yang baru lahir disunnahkan untuk didengungkan Asma Allah. Demikian juga pendidikan keimanan atau spiritual diajarkan oleh lukman kepada anaknya. Selain pendidikan spiritual Al islam kemuhammadiyahan , juga menjelaskan bagaimana manusia harus menggunakan akal pikirannya melalui ilmu pengetahuan untuk mempelajari alam ini.

II.   Pembahasan       
Tugas orang tua terpenting adalah mendidik dan membimbing anaknya agar menjadi manusia terpelajar dan berakhlak mulia. Orang tua tidak hanya berkewajiban memenuhi kebutuhan jasmani anak. Perhatian, kasih sayang, dan komunikasi yang baik sangat menunjang perkembangan jiwa anak-anak. Agama islam juga menjelaskan bagaimana pentingnya kasih sayang, komunikasi interpersonal antara anak dengan orang tua seperti digambarkan dalam kisah al-qur’an mengenai Lukman dengan anaknya, Nabi Yusuf dengan ayahnya, serta Nabi Ibrahim dengan anaknya Ismail. Kalau kita kaji kandungan ayat Allah tersebut banyak mengandung prisnsip-prinsip psikologi dan pendidikan.

2.1.    Manusia sebagai Mahkluk berpikir (Sosial Rasional)

Allah SWT pernah menjadikan manusia sebagai mahkluk yang mampu menggunakan otak untuk berpikir. Ayat-ayat dalam al-Qur’an banyak menjelaskan agar manusia menggunakan akal dan pikirannya. Untuk melakukan pemikiran tersebut Allah SWT telah mempersiapkan otak yang sangat komplit dan kompleks.
Sehubungan dengan fungsi berpikir, otak dibagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kanan dan belahan otak kiri.
Secara rinci, cara berpikir belahan otak sebagai berikut: setiap belahan otak terdiri dari bagan-bagan atau lobus. Lobus bagian depan berfungsi untuk berpikir, lobus bagian samping berfungsi untuk mendengar dan keberbahasaan. Lobus bagian atas berfungsi untuk pusat rasa dan bergerak dan lobus bagian belakang berfungsi untuk penglihatan.

Selain itu fungsi otak sebelah kanan dan sebelah kiri sebagai berikut:

            Otak sebelah kanan                                                Otak sebelah kiri
            Berpikir divergen                                          berpikir konvergen  
           
            - Kreativitas                                                   - Anilitis
            - Holistik                                                         - Linier
            - Imajinatif                                                      - Logis – teratur
            - Musik                                                           - Matematik logis
            - Interpersonal                                              - Visual
            - Intrapersonal                                              - Spasial       
           
Pusat-pusat otak akan terangsang melalui indra yang mengalirkan bagaikan aliran listrik,  semua informasi ke pusat-pusat otak melalui serabut-serabut syarafnya. Kita sebagai orang tua atau guru hendaknya mengembangkan kedua belahan otak secara seimbang melalui proses pembelajaran.
Agar proses pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan anak, Jean Piaget membagi perkembangan kognisi anak sebagai berikut:
-       Tahap Sensori Motor (usia 0 – 2 tahun)
Pada masa ini skema anak sangat terbatas. Anak hanya mempunyai kemampuan untuk menggemggam, mengisap, dan melihat benda. Pada masa ini anak hanya tertarik kepada benda yang ada pada saat itu. Apabila benda disingkirkan anak akan langsung lupa (usia 0–8 bulan). Pada usia 8–12 bulan anak sudah mampu menyadari benda yang ada, sekalipun suatu benda disingkirkan (permainan) maka ia berusaha untuk mencari mainan atau benda tersebut. Masa ini disebut masa ketatapan benda. Pada masa ini juga anak sudah mengembangkan hubungan antara pergerakan otot dengan pengaruhnya terhadap lingkungan; mengembangkan struktur mental untuk melambangkan dunia serta memikirkan benda-benda yang dilihat; menghasilkan kata-kata dan menggunakannya.
-       Tahap Pra Operasional (usia 2-7 tahun)
Masa ini berkaitan dengan perkembangan bahasa dan ingatan. Anak mampu mengingat dan mengerti sesuatu hal yang terjadi dilingkungannya walaupun masih bersifat sederhana. Perkembangan inteleknya bersifat egosentris (menyamaratakan). Mereka tidak menyadari bahwa orang lain mempunyai pandangan berbeda dengannya dan mengalami keterbatasan konservasi (masalah volume dan ukuran).
-       Tahap Operasi Kongkrit (usia 7 – 11 tahun)
Anak pada masa ini masih tergantung pada benda, mampu mempelajari kaidah lingkungannya, mampu menggunakan logika sederhana dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.
-       Tahap operasi formal (11 – dewasa)
Pada masa ini anak telah mampu mengembangkan hukum dan mengerti peraturan yang berlaku umum dan pertimbangan ilmiah. Selain itu anak sudah dapat membuat hipotesis dan membuat kaidah tentang hal yang bersifat abstrak.

            Berkaitan dengan pentahapan ini, seyogyanya orang tua dan guru memberikan contoh benda yang merangsang perkembangan otaknya sesuai dengan pentahapan tersebut. Selain itu orang tua harus berkomunikasi dengan anak dengan cara yang lemah lembut sesuai dengan ajaran agama kita. Juga orang tua harus mengenalkan Asma Allah, nyanyian yang bercirikan islam, serta mengkaitkan kekuasaan Allah SWT ketika memperkenalkan anak dengan lingkungannya seperti memperkenalkan tanaman, hewan, benda-benda langit (bintang), dan sebagainya. Pada masa operasi kongkrit (usia 7 – 11 tahun) anak juga perlu dirangsang pemikiran sederhana mengenai alam dan lingkungannya sesuai kaidah-kaidah agama. Pada tahap operasi formal anak sudah harus diajarkan mengenai hukum-hukum yang terkait dengan agama selain pelajaran umum serta pertimbangan-pertimbangan ilmiah yang didasarkan kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.
            Cara terbaik untuk menjelaskan berbagai hal yang terkait dengan psikologi anak yakni dengan cara penuh kasih sayang, perhatian, dan dengan contoh serta teladan dari orang tua (mauizhoh khasanah).  Melalui komunikasi interpersonal antara orang tua dan anak akan terjalin hubungan timbal balik, saling menyayangi, mengasihi dan saling mempercayai.

2.2.    Manusia sebagai Mahkluk Emosional

Emosi adalah perasaan yang hebat terhadap seseorang atau suatu objek tertentu. Defenisi lain mengemukakan emosi adalah keadaan perasaan yang komplek yang mengandung komponen kejiwaan, badan, dan perilaku yang berkaitan dengn affect (sikap) dan mood (perasaan). Emosi terkadang bisa mendorong seseorang menuju kepada kebaikan, seperti kepedulian terhadap orang yang mendapat musibah, keinginan untuk menolong dan mau berbagi rasa baik suka maupun susah. Emosi dekat sekali dengan dorongan atau motivasi.
Proses terjadinya emosi disebabkan karena aktivitas sel dalam area otak yang secara langsung atau tidak langsung dipengaruhi oleh urat syaraf yang berasal dari area inti otak. Emosi ini sangat terkait dengan bagaimana seseorang mampu mengolah atau memanage emosi tersebut, biasa disebut dengan kecerdasan emosional. Keterampilan kecerdasan emosional tersebut hendaknya bisa kita olah.
Pendekatan kecerdasan emosional  ini terdiri dari 4 (empat) keterampilan yang merupakan hirarki atau urutan. Keempat pendekatan tersebut sebagai berikut:
(1)      Identifikasi emosi.
Emosi-emosi ini merupakan data yang akan menunjukkan kejadian apa yang paling penting disekitar kita. Kejadian-kejadian tersebut hendaknya kita mampu mengidentifikasi dan mengekspresikan emosi kita kepada orang lain sehingga terjadi komuniksi yang efektif, misalnya bagaimana kita mengemukakan emosi kita pada kelompok sosial tertentu atau pada lingkungan tertentu. Tentunya kita harus bisa membedakan peristiwa yang menyenangkan dan peristiwa yang menyedihkan. Dan ini akan diekspresikan secara tepat oleh kita sesuai dengan situasinya.
(2)      Menggunakan emosi.
Emosi secara langsung mempengaruhi perhatian kita terhadap suatu peristiwa penting. Emosi tersebut akan terwujud dalam bentuk perilaku dan emosi tersebut akan membantu mengarahkan kita untuk proses pemikiran kita untuk menyelesaikan masalah-maslah kita.
(3)      Mengetahui tentang emosi
Kita melakukan sesuatu karena ada sebab. Kita akan merubah perasaan kita sesuai dengan aturan yang ada. Pengetahuan kita tentang emosi merupakan refleksi dari kemampuan kita untuk menganalisis emosi kita.
(4)      Mengolah emosi
Karena emosi dimulai dari informasi dan diikuti oleh pemikiran maka kita mampu melakukan kecerdasan emosional sesuai dengan alasan kita, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan perilaku kita. Kemampuan mengolah emosi inilah yang menjadikan kita menjadi orang yang bijaksana dalam mengatur perasaan kita.

            Agama islam banyak mengungkapkan bagaimana kita harus mengolah hati kita. Misalnya apabila kita ingin marah maka hendaklah kita memikirkan apa faedah marah. Dalm agama islam mengajarkan kita bahwa suara hati selalu mengarah kepada perbuatan yang baik. Banyak ayat Allah yang mengingatkan kita agar mampu mencerdaskan emosional kita. Dalam surat Al-baqarah Allah berfirman agar kita senatiasa menjaga persatuan dan menghindari perceraian. Juga Allah berfirman agar kita menjadi orang yang sabar, karena Allah SWT senang pada orang yang senantiasa bersabar. Allah SWT juga berfirman agar kita berperilaku adil baik pada diri sendiri maupun kepada orang lain. Allah SWT juga menganjurkan agar kita menebar kasih sayang kepada seluruh mahkluk ciptaannya.  Asmaul Husna yang terdiri dari 99 sifat mulia antara lain meliputi; pencipta, penyayang, memelihara, sejahtera, adil, suci, berkuasa, pemurah, mulia, berhitung, pemberi, dan pengampun. Kesemuanya itu merupakan kecerdasan emosi dan spiritual suara hati dalam satu kesatuan suara hati, pikiran dan tindakan dalam keseharian kita. Secara psikologis pendidikan Islam pembentukan pribadi seperti tergambar dalam ajaran agama,dengan menyontoh ciri-ciri Allah yang Maha Sempurna yang tertera dalam asmaul-husna serta tauladan dari Nabi Muhamad SAW
           
2.3.    Kecerdasan Spiritual
         Kecerdasan spiritual merupakan lanjutan dari kecerdasan emosional. Kecerdasan spiritual dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi,  semua aktivitas yang dilakukan sesuai dengan ajaran agamanya, tidak mudah terombang-ambing, demikian pula sebaliknya bagi orang yang memiliki kecerdasan rendah segala aktivitas yang dilakukan banyak menyimpang dari ajaran agamanya sehingga mudah terombang-ambing. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi  hatinya sangat dekat dengan Allah SWT.
         Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkn perilaku dan hidup kita dalam konteks makn yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermkna dibandingkan dengan yang lain. Kecerdasan spiritual merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan kecerdasan akal dan kecerdasan emosional secara efektif. Dasar kecerdasan spiritual ialah iman kepada Allah SWT, yang harus ditanamkan sejak dini pada anak-anak kita.
         Kecerdasan spiritual tersebut adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, malalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia seutuhnya dan memiliki pola pemikiran tauhid (integralistik), serta berprinsip hanya karena Allah.

III.     Kesimpulan
         Psikologi pendidikanAl islam kemuhammadiyahan  merupakan suatu integritas dari dasar-dasar psikologi dan pedagogik yang  dilandasi oleh spiritual, dalam hal ini ajaran rosullulah baginda nabi Muhammad SAW. dalam hal ini Allah telah memberikan akal dan hati nurani untuk dikembangkan melalui pendidikan. Dengan pendidikan yang didasari prinsip-prinsip ajaran agama akan membentuk pribadi dengan kemampuan berpikir  yang mengoptimalkan kemampuan modalitas otak baik otak belahan kanan dan belahan kiri.Tugas orang tua dan guru bagaimana cara merangsang ke dua belahan otak tersebut dengan metoda dan teknik yang tepat.
         Dengan memperhatikan perkembangan anak, orang tua dan guru  hendaknya memacu anak untuk mengembangkan kecerdasan intelektual,     emosional dan spiritual, menuju insan kamil yang menjadi dambaan setiap individu .
      
DAFTAR PUSTAKA          
David R. Caruso, Peter Salovey. The Emotionally Intelligent Manager: How to Develop and use the Four Key Emotional Skills of Leadership. Printed in the United States of America, 2004  

Sri Esti Wuryani Djiwandodno. Psikologi Pendidikan. Penerbit PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 2002.

Malcolm Hardy, Steve Heyes. Pengantar Psikologi. Penerbit Erlangga. Jakarta, 1988.


Ary Ginanjar Agustian. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual: Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam. Penerbit Arga. Jakarta. Indonesia, 2001.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar