Minggu, 01 Juni 2014

PENGGUNAAN PENILAIAN PORTOFOLIO SEBAGAI ALAT IDENTIFIKASI KECERDASAN JAMAK SISWA (STUDI KASUS DI TK LABSCHOOL RAWAMANGUN JAKARTA)

PENGGUNAAN PENILAIAN PORTOFOLIO
SEBAGAI ALAT IDENTIFIKASI KECERDASAN JAMAK SISWA
(STUDI KASUS DI TK LABSCHOOL RAWAMANGUN JAKARTA)

PENDAHULUAN
                   Pembangunan dan pengembangan di bidang pendidikan telah memasuki upaya pemberdayaan segala aspek kemampuan yang digali dari peserta belajar. Upaya peningkatan kualitas pembelajaran di dunia pendidikan kiranya terus dilakukan untuk memperoleh hasil sesuai dengan yang telahditentukanTaman Kanak-Kanak (TK) Labschool merupakan salah satu lembaga pendidikan swasta berada di bawah instansi Departemen Pendidikan. Sesuai dengan amanat Garis-Garis Besar Haluan Negara, maka Taman Kanak-Kanak (TK) Labschool sudah seharusnya ikut bertanggung jawab terhadap tercapainya tujuan Pendidikan Nasional.Adapun upaya yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan, antara lain melaksanakan berbagai penataran, pemberian beasiswa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, distribusi buku melalui perpustakan sekolah, pengadaan alat-alat laboratorium dan alat pembelajaran lainnya, peningkatan sarana dan prasarana serta peningkatan insentif guru.
Dalam kaitan itu, banyak faktor yang mempengaruhi upaya peningkatan kualitas proses pendidikan dan keluaran (output) pendidikan tersebut, diantaranya adalah dengan memperluasan kegiatan belajar mengajar dengan berbagai proses pembelajaran di lapangan. Di samping itu, siswa sebagai sentral kekuatan pendidikan dan aset bangsa, diharapkan mampu memahami dan mencapai kompetensi-kompetensi yang di harapkan karena hal tersebut merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan kualitas pendidikan kita. Keberadaan guru sebagai aktor yang berperan dalam proses pembelajaran  (instructional process) harus dapat menciptakan situasi yang kondisif dan menyenangkan sehingga proses belajar mengajar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Sehubungan dengan itu, guru harus memiliki pola pengajaran yang kreatif yang mampu menarik perhatian siswa TK dan menumbuhkan minat belajar yang tinggi kepada para peserta didiknya.
Pembelajaran aktif, kreatif dan inovatif tersebut dapat di realisasikan ke dalam proses pembelajaran portofolio. Portofolio merupakan koleksi dari pekerjaan‑pekerjaan siswa sebagai bukti kemajuan siswa atau kelompok siswa, bukti prestasi, keterampilan, dan sikap siswa. Portofolio menampilkan pekerjaan siswa yang terbaik atau karya siswa yang paling berarti sebagai hasil kegiatannya sehingga mengilustrasikan kemajuan belajar siswa. Portofolio merupakan satu cara agar dalam diri siswa tumbuh kepercayaan diri bahwa dia mampu mengerjakan tugas. Dengan tumbuhnya kepercayaan diri pada diri siswa diharapkan dapat memotivasinya untuk mencari pengetahuan dan pemahaman sendiri serta berkreasi dan terbuka ide‑ide baru yang mereka lakukan dalam kegiatan pembelajarnya.
Taman Kanak-Kanak (TK) Labschool Jakarta sebagai salah satu lembaga pendidikan formal di Jakarta menerapkan pola pembelajaran portofolio agar pencapaian-pencapaian mutu pendidikan dapat dicapai melalui salah satu proses pembelajaran yaitu portofolio. Sistem pembelajaran portofolio ini merupakan salah satu cara mengembangkan kecerdasan jamak anak. Dalam proses penilaian portofolio, siswa di ajarkan untuk mampu menghargai dirinya sendiri. Siswa adalah subjek dari proses belajar, merekalah yang merupakan faktor utama untuk mengembangan kecerdasan mereka, sedang guru dan orang tua hanyalah sebagai fasilitator.
Kecerdasan setiap anak adalah berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, atau sering dikenal dengan istilah kecerdasan jamak (Multiple Intelegence). Kecerdasan Jamak mencakup kecerdasan verbal-linguistik, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan irama, kecerdasan kinestetik dan gerakan tubuh, kecerdasan matematika-logika, kecerdasan sosial, kecerdasan diri, kecerdasan natural. Agar setiap anak mampu mengembangkan kecerdasannya secara optimal, maka penilaian portofolio ini diharapkan mampu memfasilitasi anak mengoptimalkan kecerdasan yang dimilikinya.   
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diketahui betapa pentingnya upaya untuk meningkatkan kualitas belajar anak. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah selama ini selalu dikaitkan dengan keberadaan guru dan bahkan tidak lepas dari kualitas guru yang secara langsung bertanggung jawab terhadap kualitas pendidikan nasional.
Sementara itu, banyak dari masalah yang masih belum dapat dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan jamak seorang anak, beberapa masalah yang dapat diidentifikasi antara lain: (1) Bagaimana peranan orang tua dalam mengembangkan kecerdasan jamak anak? (2) Bagaimana peran guru dalam mengembangkan kecerdasan jamak anak?; (3) Upaya-Upaya apa saja yang dikembangkan guru untuk mengoptimalkan pembelajaran di kelas?; (4) Bagaimana dukungan sekolah terhadap proses tumbuh kembang anak?; (5) Apakah Kepala Sekolah mendukung setiap proses belajar yang membentu siswa mengembangkan kecerdasan jamaknya?; (6) Bagaimana pengaruh penilaian portofolio terhadap perkembangan kecerdasan jamak anak? (7) Bagaimana penilaian orang tua terhadap hasil belajar melalui penilaian portofolio?; (8) Bagaimana wujud interaksi anak dengan lingkungannya melalui penilaian portofolio?;
Bertolak dari latar belakang dan identifikasi masalah di atas, ternyata banyak sekali permasalan yang perlu dikaji dan diteliti lebih lanjut. Faktor proses penilaian portofolio perlu dikaji untuk mengembangkan proses pencapaian kecerdasan jamak siswa. Oleh sebab itu, masalah yang dikaji dan diteliti dalam penelitian ini hanya dibatasi pada penggunaan penilaian portofolio sebagai alat identifikasi kecerdasan jamak siswa.         
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah serta pembatasan masalah, selanjutnya dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah kecerdasan jamak siswa dapat diidentifikasi menggunakan penilaian portofolio siswa yang dilakukan oleh guru?
Kegunaan dari penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu manfaat secara teoritis dan manfaat secara teoritis dan manfaat secara praktis. Manfaat secara teoritis adalah pengembangan ilmu yang relevan dengan masalah dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memperkuat dan memperkaya khasanah teori-teori yang telah dikemukakan dan dapat dijadikan sebagai salah satu referensi bagi peneliti yang secara khusus mengkaji mengenai kecerdasan jamak anak. Manfaat secara praktis, secara umum hasil penelitian ini sangat berguna untuk berbagai pihak antara lain:
Pertama, secara konseptual dan operasional, hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan atau kontribusi yang konstuktif kepada guru-guru, khususnya dalam membina anak mencapai pemaksimalan kecerdasan-kecerdasan yang dimilikinya sehingga jalannya roda lembaga sekolah dapat lebih efektif dan efisien sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Kedua, bagi kepala sekolah, hasil  penelitian ini dapat memberikan masukan (input) yang sangat berarti untuk dapat meningkatkan kemampuan si anak dan efisiensi kerja guru kelas.
Secara teoritis maupun praktis, hasil penelitian ini merupakan kontribusi/sumbangan pemikiran sebagai masukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan dapat membantu para guru dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia yang tercinta ini.








Portofolio berasal dari bahasa inggris “portfolio” yang artinya dokumen atau surat-surat dan dapat juga diartikan sebagai kumpulan kertas-kertas berharga dari suatu pekerjaan tertentu. Portofolio adalah suatu kumpulan pekerjaan siswa dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan yang ditentukan (Fajar, 2004 : 47). Panduan ini beragam tergantung pada mata pelajaran dan tujuan penilaian portofolio. Biasanya portofolio ini merupakan karya terpilih dari seorang siswa, tetapi dalam model pembelajaran ini setiap portofolio berisi karya terpilih siswa dari satu kelas secara keseluruhan yang bekerja secara kooperatif memilih, membahas, mencari data, mengolah, menganalisis dan mencari pemecahan terhadap suatu masalah yang dikaji.
Setiap portofolio harus memuat bahan-bahan yang menggambarkan usaha-usaha terbaik dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan kepadanya, serta mencakup pertimbangan terbaiknya tentang bahan mana yang paling penting untuk ditampilkan. Tampilan portofolio berupa tampilan visual dan audio yang disusun secara sistematis, melukiskan proses berpikir yang didukung oleh seluruh data yang relevan. Secara utuh melukiskan “intergrated learning experience” atau pengalaman belajar yang terpadu dan dialami oleh siswa sebagai satu kesatuan.
Pada dasarnya portofolio sebagai model pembelajaran adalah usaha yang dilakukan guru agar siswa memiliki kemampuan untuk mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya sebagai individu maupun kelompok. Kemampuan tersebut diperoleh siswa melalui pengalaman belajar, sehingga memiliki kemampuan mengorganisasi informasi yang ditemukan, membuat laporan dan menuliskan apa yang ada dalam pikirannya, dan selanjutnya dituangkan secara penuh dalam pekerjaannya atau tugas-tugasnya.
Strategi instruksional yang digunakan dalam model ini pada dasarnya bertolak dari strategi “inquiry learning, discovery learning, problem solving learning, research-oriented learning” yang dikemas dalam model “Project” oleh John Dewey.Dalam hal ini ditetapkan langkah-langkah sebagai berikut.
1.      Mengidentifikasi masalah yang ada di masyarakat.
2.      Memilih suatu masalah untuk dikaji di kelas.
3.      Mengumpulkan informasi yang terkait dengan masalah yang dikaji.
4.      Membuat portofolio kelas.
5.      Membuat portofolio dengar pendapat (show case).
6.      Melakukan refleksi pengalaman belajar.
Di dalam setiap langkah, siswa belajar mandiri dalam kelompok kecil dengan fasilitasi dari guru dan menggunakan ragam sumber belajar di sekolah maupun di luar sekolah (masyarakat). Sumber belajar atau informasi dapat diperoleh dari:
1.      manusia (pakar, tokoh agama, tokoh masyarakat),
2.      kantor penerbitan surat kabar, bahan tertulis,
3.      bahan terekam,
4.      bahan tersiar (TV, radio),
5.      alam sekitar,
6.      situs sejarah, artifak dan lain-lain ( Fajar, 2004:48).

Model pembelajaran berbasis portofolio dilandasi oleh beberapa landasan pemikiran sebagai berikut (Budimansyah, 2003 : 5-8).
a.      Empat Pilar Pendidikan
Empat pilar pendidikan sebagai pendidikan landasan model pembelajaran berbasis portofolio adalah learning to do, learning to be, learning to know,learning to live together yang dicanangkan UNESCO (Budimansyah,2003:5)
1.      Learning to Do
adalah peserta didik seharusnya diberdayakan agar mau dan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya. Peserta didik tidak hanya menerima materi dari guru tetapi harus aktif mau dan mampu menambah pengatahuan untuk pribadinya dimana belajar dari pengalaman dalam kehidupannya.
2.      Learning to Know
Pengetahuan yang didapat peserta didik selain dari sekolah juga didapatkan dari dunia luar sekolah. Peserta didik dapat meningkatkan interaksinya dengan lingkungannya baik lingkungan fisik, sosial, maupun budaya, sehingga peserta didik mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya terhadap dunia sekitarnya.
3.      Learning to Be
Diharapkan hasil interaksi dengan lingkungannya dapat membangun pengetahuan dan kepercayaan diri. Karena banyak peserta didik yang tidak mempunyai kepercayaan diri, mereka merasa bahwa tidak mempunyai kemampuan dan keterampilan yang bisa dibanggakan, sehingga terjadi kemandegan belajar.
4.      Learning to Live Together
Kesempatan berinteraksi dengan berbagai individu atau kelompok yang bervariasi akan membentuk kepribadiannya untuk memahami kemajemukan dan melahirkan sikap-sikap positif dan toleran terhadap keanekaragaman dan perbedaan hidup.

b.      Pandangan Konstruktivisme
Pandangan konstruktivisme sebagai filosofi pendidikan mutakhir menganggap semua peserta didik mulai dari usia taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi memiliki gagasan/pengetahuan tentang lingkungan dan peristiwa/gejala lingkungan di sekitarnya. Para ahli pendidikan berpendapat bahwa inti kegiatan pendidikan adalah memulai pelajaran dari “apa yang diketahui peserta didik”.
Beberapa bentuk kondisi belajar yang sesuai dengan filosofi konstruktivime antara lain: diskusi yang menyediakan kesempatan agar semua peserta didik mau mengungkapkan gagasan, pengujian dan hasil penelitian sederhana demonstrasi dan peragaan prosedur ilmiah, dan kegiatan praktis lain yang memberi peluang peserta didik untuk mempertajam gagasannya.

c.       Democratic Teaching
Democratic Teaching adalah suatu bentuk upaya menjadikan sekolah sebagai pusat kehidupan demokrasi melalui proses pembelajaran yang demokratis. Secara singkat, democratic teaching adalah proses pembelajaran yang dilandasi oleh nilai-nilai demokrasi, yaitu penghargaan terhadap kemampuan, menjunjung keadilan, menerapkan persamaan kesempatan, dan memperhatikan keragaman peserta didik (Budimansyah, 2003 : 5-7).

Prinsip dasar model pembelajaran portofolio sekurang-kurangnya ada lima prinsip yaitu prinsip belajar siswa aktif (student active learning), kelompok belajar kooperatif (cooperative learning), pembelajaran partisipatorik, mengajar yang reaktif (reactive teaching), dan prinsip dasar belajar yang menyenangkan (joyfull learning) (Budimansyah, 2003 : 8-16).
a.      Prinsip Belajar Siswa Aktif
Proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berbasis portofolio berpusat pada siswa. Dengan demikian model ini menganut prinsip belajar siswa aktif. Aktivitas siswa hampir di seluruh proses pembelajaran, dari mulai fase perencanaan di kelas, kegiatan lapangan, dan pelaporan. Hal ini tampak terlihat pada saat siswa mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan materi pelajaran, kemudian setelah masalah terkumpul, siswa melakukan voting untuk memilih masalah untuk kajian kelas. Untuk menjawab permasalahan yang dikaji, maka siswa mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan dengan cara wawancara, pengamatan serta mengambil foto atau membuat kliping. Setelah itu, aktivitas siswa terfokuspada pembuatan portofolio kelas. Segala bentuk data dan informasi disusun secara sistematis dan disimpan pada sebuah bundel. Data dan informasi yang penting dan menarik ditempel pada seksi penayangan, setelah portofolio selesai dibuat, dilakukanlah public hearing dalam kegiatan show case di hadapan dewan juri.

b.      Kelompok Belajar Kooperatif
Proses pembelajaran yang berbasis kerja sama antar siswa dan komponen lain di sekolah, termasuk kerjasama sekolah dengan orang tua siswa dan lembaga terkait. Kerjasama terlihat pada saat kelas sudah memilih satu masalah untuk bahan kajian bersama. Semua pekerjaan disusun, orang-orangnya ditentukan, siapa yang mengerjakan apa, merupakan bentuk kerja sama itu. Kerja sama dengan lembaga terkait diperlukan saat siswa merencanakan mengunjungi lembaga tertentu atau meninjau kawasan yang menjadi tanggung jawab lembaga tertentu.

c.       Pembelajaran Partisipatorik
Model pembelajaran berbasis portofolio juga menganut prinsip dasar pembelajaran partisipatorik, sebab melalui model ini siswa belajar sambil melakoni (learning by doing). Salah satu bentuk pelakonan itu adalah siswa belajar hidup berdemokrasi. Siswa pada saat memilih masalah untuk kajian kelas memilki makna bahwa siswa dapat menghargai pendapat yang didukung suara terbanyak dan pada saat diskusi siswa belajar mengemukakan pendapat dan mendengarkan pendapat orang lain.

d.      Reactive Teaching
Guru perlu menciptakan strategi yang tepat agar motivasi belajar tinggi. Motivasi akan dapat tercipta kalau guru daapt meyakinkan siswa akan kegunaan materi pelajaran bagi kehidupan nyata. Oleh karena itu guru harus dapat menciptakan situasi sehingga materi pelajaran selalu menarik dan tidak membosankan. Caranya adalah memberikan penghargaan atau reward pada pendapat siswa bagaimana pun kualitasnya. Jika pendapat siswa dihargai, maka pada diri siswa akan muncul kepercayaan diri untuk tidak malu-malu lagi mengemukakan pendapat.

e.       Joyfull Learning
Salah satu teori belajar menegaskan bahwa sesulit apapun materi pelajaran bila dipelajari dalam suasana yang menyenangkan, penuh daya tarik dan penuh motivasi pelajaran akan mudah dipahami, sebaliknya bila suasana belajar membosankan, maka pelajaran akan sulit dipahami. Dalam hal ini pembelajaran portofolio memberikan keleluasaan untuk memilih tema belajar yang menarik bagi dirinya.

Model pembelajaran portofolio merupakan salah satu model pembelajaran yang menekankan belajar siswa untuk aktif dan kreatif. Dalam hal ini siswa harus peka terhadap permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat dan ikut serta berusaha untuk mencari dan menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi dengan cara-cara positif.
Langkah-langkah model pembelajaran portofolio (Fajar, 2004 : 48) adalah sebagai berikut.


a.      Mengidentifikasi masalah yang ada di masyarakat
Dalam tahap ini terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan guru bersama siswa yaitu : mendiskusikan tujuan, mencari masalah, apa saja yang siswa ketahui, tentang masalah-masalah di masyarakat dan memberi tugas pekerjaan rumah tentang masalah-masalah yang ada di lingkungan masyarakat yang mereka anggap penting sesuai dengan kemampuan siswa. Dalam mengerjakan pekerjaan rumah tersebut siswa diharapkan untuk mencari informasi tentang masalah yang akan dikaji dengan cara : a) mewawancarai orang tua atau keluarga, teman, tetangga, dan orang lain yang dianggap menguasai masalah yang dikaji, b) melalui sumber-sumber cetak seperti majalah, koran dan tabloid, c) melalui media elektronik seperti radio, TV dan internet. Semua informasi yang diperoleh harus dicatat untuk didiskusikan di kelas.

b.      Memilih Masalah untuk Kajian Kelas
Sebelum memilih masalah yang akan dikaji hendaknya para siswa mengkaji terlebih dahulu pengetahuan yang telah mereka miliki tentang masalah di masyarakat, dengan langkah sebagai berikut.
1.      Mengkaji masalah yang telah dikumpulkan.
2.      Mengadakan pemilihan secara demokratis tentang masalah yang akan mereka kaji dengan cara memilih salah satu masalah yang telah ditulis di papan tulis.
3.      Melakukan penelitian lanjutan tentang masalah yang terpilih untuk dikaji dengan mengumpulkan informasi.

c.       Mengumpulkan Informasi masalah yang akan dikaji oleh Kelas
Langkah-langkah dalam tahap ini adalah sebagai berikut.
1.      Mengidentifikasi sumber-sumber informasi.
2.      Tinjau ulang untuk memperoleh dan mendokumentasikan informasi
3.      Pengumpulan informasi.

d.      Mengembangkan Portofolio Kelas
Pada tahap ini, siswa hendaknya telah menyelesaikan penelitian yang memadai untuk memulai membuat portofolio kelas, dengan langkah sebagai berikut.
                              1)      Kelas dibagi dalam 4 kelompok dan setiap kelompok akan bertanggung jawab untuk membuat satu bagian portofolio.
                              2)      Guru mengulas tugas-tugas rinciannya untuk portofolio.
                              3)      Guru menjelaskan bahwa informasi yang dikumpulkan oleh tim penelitian seringkali akan bermanfaat bagi lebih dari satu kelompok portofolio.
                              4)      Guru menjelaskan spesifikasi portofolio yakni terdapat bagian penayangan dan bagian dokumentasi pada setiap kelompok.

e.       Penyajian Portofolio (show case)
Dalam menyelenggarakan gelar kasus (show case), guru sebagai pihak penyelenggara hendaknya melakukan hal-hal sebagai berikut.
1.      Persiapan show case.
2.      Pembukaan show case.
3.      Penyajian oleh kelompok yang telah dibentuk disertai tanya-jawab oleh dewan juri.
4.      Selingan.
5.      Tanggapan audiens.
6.      Pengumuman dewan juri.
7.      Kriteria dan format penilaian.
Penyajian Portofolio (show case) dilaksanakan setelah kelas menyelesaikan portofolio tampilan maupun portofolio dokumentasi. Pelaksanaan dapat dilakukan pada akhir semester satu atau akhir semester dua bersamaan dengan kenaikan kelas. Hal itu tergantung pada kondisi dan situasi sekolah.

f.       Merefleksi pada Pengalaman Belajar
Dalam kegiatan refleksi ini siswa diajak melakukan evaluasi tentang apa dan bagaimana mereka belajar. Tujuan refleksi adalah untuk belajar menghindari kesalahan di masa yang akan datang dan meningkatkan kinerja siswa. Dengan merefleksi pengalaman belajar siswa maka sangat mendukung modus pengalaman belajar yang digambarkan melalui gambar kerucut di bawah ini.

Yang kita ingat modus

Kita belajar 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, dan 90% dari apa yang kita katakana dan lakukan. Secara ringkas kegiatan pembelajaran berbasis portofolio mencakup hal-hal berikut ini.
a.       Apersepsi.
b.      Penyampaian materi.
c.       Mengidentifikasi masalah yang ada di masyarakat.
d.      Memilih masalah yang dikaji di kelas.
e.       Penugasan meliputi mengumpulkan informasi yang terkait dengan masalah yang dikaji dan pembuatan portofolio kelas.
f.       Menyajikan portofolio atau dengar pendapat.
g.      Melakukan refleksi atau pengalaman belajar.
Dalam hal ini, kegiatan pembelajaran mampu mengembangkan dan meningkatkan kompetensi, kreativitas, kemandirian, kerjasama, kepemimpinan dan kecakapan peserta didik guna membentuk watak, serta meningkatkan peradaban dan martabat bangsa (Fajar, 2005 : 15)

Yang dimaksud dengan indikator adalah unsur-unsur pokok yang dapat menjelaskan kemampuan peserta didik setelah menyelesaikan satuan-satuan pendidikan tertentu. Banyak indikator yang dapat dipilih, tetapi dipandang paling sensitif adalah:
a.       hasil ulangan harian dan ulangan umum yang biasanya dicatat dalam buku nilai siswa,
b.      tugas-tugas terstruktur biasanya dikumpulkan dalam sebuah map atau loker khusus untuk tugas-tugas siswa,
c.       catatan perilaku harian para siswa biasanya tersimpan dalam buku khusus yang disebut dengan catatan anekdot,
d.      laporan kegiatan siswa di luar sekolah yang menunjang kegiatan belajar, biasanya dikumpulkan pada guru dan selanjutnya didokumentasikan.
Kesimpulannya adalah bahwa semua indikator proses dan hasil belajar siswa itu tercatat dan didokumentasikan dalam satu bundel (portofolio). Baru saat menentukan nilai raport, semua catatan dan dokumentasi tadi dianalisis untuk membuat kesimpulan nilai raport setiap siswa. Dengan demikian model penilaian berbasis portofolio adalah suatu usaha untuk memperoleh berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil pertumbuhan dan perkembangan wawasan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan peserta didik yang bersumber dari catatan dan dokumentasi pengalaman belajar.

Menurut Nuryani Rustama (dalam Depdiknas, 2004 : 40-41) kelebihan dan kelemahan metode pembelajaran portofolio adalah sebagai berikut.
a.       Kelebihan
1.      Memungkinkan pendidik mengakses kemampuan peserta didik untuk membuat, menghasilkan berbagai tugas akademik.
2.      Memungkinkan pendidik menilai ketrampilan / kecakapan peserta didik.
3.      Mendorong kolaborasi antara peserta didik dengan pendidik, antara peserta didik dengan peserta didik lainnya.
4.      Memungkinkan pendidik mengintervensi proses dan menentukan dimana
5.      pendidik tersebut perlu membantu.
   


  b. Kelemahan
1.      Memerlukan waktu yang relatif lama.
2.      Pendidik harus tekun, sabar dan terampil.
3.      Tidak ada kriteria yang standar.

The theory of multiple intelligences was proposed by Howard Gardner in 1983 to more accurately define the concept of intelligence and to address the question whether methods which claim to measure intelligence (or aspects thereof) are truly scientific . Teori kecerdasan ganda diusulkan oleh Howard Gardner pada tahun 1983 untuk lebih akurat mendefinisikan konsep kecerdasan dan untuk menjawab pertanyaan apakah metode yang mengklaim untuk mengukur kecerdasan (atau aspek daripadanya) benar-benar ilmiah.
Gardner's theory argues that intelligence, particularly as it is traditionally defined, does not sufficiently encompass the wide variety of abilities humans display.            Teori Gardner ini berpendapat bahwa kecerdasan, terutama seperti yang didefinisikan secara tradisional, tidak cukup meliputi berbagai kemampuan manusia layar. In his conception, a child who masters multiplication easily is not necessarily more intelligent overall than a child who struggles to do so. Dalam konsepsi, seorang anak yang menguasai perkalian dengan mudah belum tentu secara keseluruhan lebih cerdas daripada anak yang berjuang untuk melakukannya. The second child may be stronger in another kind of intelligence and therefore 1) may best learn the given material through a different approach, 2) may excel in a field outside of mathematics, or 3) may even be looking at the multiplication process at a fundamentally deeper level, which can result in a seeming slowness that hides a mathematical intelligence that is potentially higher than that of a child who easily memorizes the multiplication table. Anak kedua mungkin lebih kuat pada jenis kecerdasan lain dan karenanya:
1)      dapat terbaik materi belajar yang diberikan melalui pendekatan yang berbeda,
2)      dapat berprestasi di bidang di luar matematika, atau
3)      mungkin bahkan melihat proses perkalian di tingkat lebih mendasar, yang dapat mengakibatkan tampak kelambatan yang menyembunyikan kecerdasan matematis yang secara potensial lebih tinggi daripada anak yang dengan mudah menghafal tabel perkalian.
Gardner's categories of multiple intelligences is a theoretical axiom whose structure is a derivative of Kant's metaphysical theory of personality. Kategori Gardner kecerdasan ganda adalah aksioma teoritis struktur yang merupakan turunan dari teori metafisika kepribadian Kant. Gardner's perspective of human intelligence attempts to deconstruct Kant's a priori categorical structure. Perspektif Gardner tentang kecerdasan manusia mencoba mendekonstruksi apriori Kant struktur kategoris. Whereas Kant describes human personality as a homeostatic dialogism that extends Aristotelian "idea", Gardner suggests that personality is not static at all; rather it is in a constant state of flux. Sedangkan Kant menggambarkan kepribadian manusia sebagai homeostatik dialogism yang memperpanjang "gagasan"Aristoteles, Gardner menunjukkan bahwa kepribadian adalah sama sekali tidak statis, melainkan berada dalam keadaan konstan berubah. While personality cannot be pinned down and truly defined, he argues that it circumnavigates around a central impossibility. Sementara kepribadian tidak bisa disematkan ke bawah dan benar-benar didefinisikan, ia berpendapat bahwa di sekitar pusat circumnavigates kemustahilan. Therefore, positive human traits often embody the characteristics of their opposites. Oleh karena itu, sifat-sifat manusia yang positif sering mewujudkan karakteristik lawan mereka. Human intelligence is both a reflection of and a collapse of its own categories. Kecerdasan manusia adalah baik dan sebuah refleksi dari runtuhnya kategori sendiri. This being the case, Gardner tries to reconstruct the disintegration of Kant's faulty construction. Ini menjadi kasus, Gardner mencoba untuk merekonstruksi disintegrasi salah Kant konstruksi. Gardner's heteroglossia entails 7 distinct non-Kantian groups. Heteroglossia Gardner mensyaratkan 7 berbeda kelompok non-Kantian. The categories of intelligence proposed by Gardner (1983) are the following: Kategori intelijen yang diusulkan oleh Gardner (1983) adalah sebagai berikut.
1.      [ edit ] Bodily-kinestheticLinguistic Intelligence (Word Smart)
Pandai berbicara, gemar bercerita, dengan tekun mendengarkan cerita atau membaca merupakan tanda anak yang memiliki kecerdasan linguistik yang menonjol.  Kecerdasan ini menuntut kemampuan anak untuk menyimpan berbagai informasi yang berarti berkaitan dengan proses berpikirnya.
2.      Logical – Mathematical Intelligence (Number / Reasoning Smart)
Anak-anak dengan kecerdasan logical–mathematical yang tinggi memperlihatkan minat yang besar terhadap kegiatan eksplorasi. Mereka sering bertanya tentang berbagai fenomena yang dilihatnya. Mereka menuntut penjelasan logis dari setiap pertanyaan. Selain itu mereka juga suka mengklasifikasikan benda dan senang berhitung.
3.      Visual – Spatial Intelligence (Picture Smart)
Anak-anak dengan kecerdasan visual – spatial yang tinggi cenderung berpikir secara visual. Mereka kaya dengan khayalan internal (internal imagery), sehingga cenderung imaginatif dan kreatif.
4.      Bodily – Kinesthetic Intelligence (Body Smart)
Anak-anak dengan kecerdasan bodily – kinesthetic di atas rata-rata, senang bergerak dan menyentuh. Mereka memiliki kontrol pada gerakan, keseimbangan, ketangkasan, dan keanggunan dalam bergerak. Mereka mengeksplorasi dunia dengan otot-ototnya.
5.      Musical Intelligence (Music Smart)
Anak dengan kecerdasan musical yang menonjol mudah mengenali dan mengingat nada-nada. Ia juga dapat mentranformasikan kata-kata menjadi lagu, dan menciptakan berbagai permainan musik. Mereka pintar melantunkan beat lagu dengan baik dan benar. Mereka pandai menggunakan kosakata musical, dan peka terhadap ritme, ketukan, melodi atau warna suara dalam sebuah komposisi musik.
6.      Interpersonal Intelligence (People Smart)
Anak dengan kecerdasan interpersonal yang menonjol memiliki interaksi yang baik dengan orang lain, pintar menjalin hubungan sosial, serta mampu mengetahui dan menggunakan beragam cara saat berinteraksi. Mereka juga mampu merasakan perasaan, pikiran, tingkah laku dan harapan orang lain, serta mampu bekerja sama denganm orang lain.
7.      Intra personal Intelligence (Self Smart)
Anak dengan kecerdasan intra personal yang menonjol memiliki kepekaan perasaan dalam situasi yang tengah berlangsung, memahami diri sendiri, dan mampu mengendalikan diri dalam situasi konflik. Ia juga mengetahui apa yang dapat dilakukan dan apa yang tidak dapat dilakukan dalam lingkungan sosial. Mereka mengetahui kepada siapa harus meminta bantuan saat memerlukan.
8.      Naturalist Intelligence (Nature Smart)
Anak-anak dengan kecerdasan naturalist yang menonjol memiliki ketertarikan yang besar terhadap alam sekitar, termasuk pada binatang, di usia yang sangat dini. Mereka menikmati benda-benda dan cerita yang berkaitan dengan fenomena alam, misalnya terjadinya awan dan hujan, asal usul binatang, pertumbuhan tanaman, dan tata surya.

C.     [ edit ] Use in educationHubungan Antara Penilaian Portofolio Sebagai Alat Identifikasi Kecerdasan Jamak Siswa
Pada dasarnya model portofolio adalah suatu kumpulan pekerjaan siswa dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang ditentukan. Portofolio sebagai model pembelajaran merupakan usaha yang dilakukan oleh guru agar siswa memiliki kemampuan untuk mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya sebagai individu atau kelompok (Fajar, 2004 : 47).
Penilaian portofolio dirasa sangat cocok bila sebagai alat identifikasi kecerdasan jamak siswa.  Berdasarkan fungsi tersebut, yaitu dengan cara sekolah membantu peserta didik  mengembangkan pemahaman baik materi maupun keterampilan, intelektual dan partisipatori dalam kegiatan sekolah yang berupa intra, kokurikuler dan ekstra kurikuler.

Proses pembelajaran dalam pendidikan memegang peranan penting untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, ketrampilan dan penerapan konsep diri. Keberhasilan proses pembelajaran dapat tercermin dari peningkatan mutu lulusan yang dihasilkan. Untuk itu, perlu diadakan peran aktif seluruh komponen pendidikan terutama siswa yang berfungsi sebagai input sekaligus calon output dan juga guru sebagai fasilitator. Guru mempunyai peran dalam menciptakan suasana yang efektif dan menumbuhkan semangat belajar siswa. Guru harus mempunyai suatu model pembelajaran yang efektif dan inovatif.
Melalui model penilaian portofolio siswa dibawa pada proses belajar yang aktif (active learning) dan proses belajar yang menyenangkan (joyfull learning). Model ini akan membawa siswa pada proses belajar aktif, sebab siswa belajar dengan melakukan sesuatu (learning to do). Siswa dibawa pada proses belajar yang menyenangkan dikarenakan siswa belajar dengan penuh variasi, tidak monoton dan menjadikan lingkungan masyarakat sebagai sumber belajar.

 Jika menggunakan penilaian portofolio sebagai alat identifikasi kecerdasan jamak siswa, maka kecerdasan jamak siswa mampu teridentifikasi







Tujuan dari penelitian ini secara umum adalah untuk memperoleh data, fakta dan informasi yang benar tentang penggunaan penilaian portofolio sebagai alat identifikasi kecerdasan jamak siswa di TK Labschool Rawamangun Jakarta. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran deskriptif tentang penggunaan penilaian portofolio sebagai alat identifikasi kecerdasan jamak siswa.
Penelitian ini dilaksanakan di TK Labschool kelas TK B Rawamangun Jakarta pada bulan
Februari 2010.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Metode deskriptif yaitu penggambaran atau pemberian makna secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai data, sifat-sifat serta fakta-fakta yang ada. Hal tersebut sesuai dengan ungkapan Ary bahwa:
Penelitian metode deskriptif adalah melukiskan dan menafsirkan keadaan yang sekarang. Penelitian ini berkenaan dengan kondisi atau hubungan yang ada serta praktek-praktek yang sedang berlaku, keyakinan, sudut pandang atau sikap yang dimiliki, proses-proses yang sedang berlangsung, pengaruh-pengaruh yang sedang dirasakan, atau kecenderungan-kecenderungan yang sedang berkembang.[1]
Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomea alam maupun sosial yang diamati. Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan berupa penilaian portofolio yang diberikan oleh guru kepada siswa. Penilaian portofolio ini kemudian dicocokkan dengan kisi-kisi instrumen kecerdasan jamak. Adapun berikut adalah kisi-kisi instrumen kecerdasan jamak yang disusun oleh peneliti dengan beberapa aspek yang telah dijabarkan dalam kerangka teori.
1.      Instrumen Kecerdasan Jamak
Untuk memudahkan pengukuran, terlebih dahulu variabel kecerdasan jamak didefinisikan sebagai berikut.
a.       Definisi Konseptual
Kecerdasan jamak adalah daya atau kemampuan untuk memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan yang dapat berkembang selama periode waktu tertentu berdasarkan pembelajaran yang dilakukan meliputi delapan aspek kecerdasan, yaitu kecerdasan linguistik, logika matematika, spasial, kinestetis, musikal, intrapersonal, interpersonal, dan naturalis.
b.      Definisi Operasional
Kecerdasan jamak adalah semua kesanggupan yang ditunjukkan dalam memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan yang diperlihatkan dalam berbagai bentuk aktivitas yang tergambar melalui jumlah skor yang diperoleh dari instrumen kecerdasan jamak pada delapan aspek kecerdasan.
c.       Kisi-kisi
Berdasarkan definisi konseptual dan operasional yang telah dirumuskan dapat ditetapkan bahwa data yang diperlukan dikumpulkan dengan menggunakan tes dengan pengembangan tes berdasarkan kisi-kisi yang dikemukakan dalam tabel 3.21.

  1. Teknik Analisis Data
Teknik analisis yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan mencari jawaban yang sesuai dengan indikator kecerdasan jamak (Tabel 3.1) pada daftar penilaian yang dilakukan oleh guru.






BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Pada bagian ini akan dipaparkan data yang berhasil dikumpulkan, dan pembahasannya yang meliputi: sekilas tentang kb/tk labschool, sebagai alat identifikasi kecerdasan jamak siswa. data berikut dikumpulkan berdasarkan masalah-masalah yang diajukan dalam penelitian.

A.    Sekilas tentang TK Labschool

 

Pada tahun 1968 IKIP Jakarta membuka sekolah dengan nama Laboratory School yang terdiri dari TK, SD, SMP dan SMA. Kemudian pada tahun 1969, TK dan SD yang berada di kawasan komplek IKIP-UI bersatu dibawah naungan Laboratory School.
Seiring dengan berjalannya waktu, banyak terjadi perubahan nama. Diantaranya Comprehensive School pada tahun 1972, kemudian PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan) pada tahun 1974-1986. Pada tahun 1986 SD, SMP dan SMA berubah menjadi sekolah negeri sementara status TK masih tetap swasta dengan nama TK IKIP Jakarta.
Baru pada tahun 1992 namanya berubah kembali menjadi TK, SMP dan SMA Labschool, atas permintaan masyarakat di lingkungan IKIP Rawamangun hingga sekarang.
depan.jpg
a.      MISI TK LABSCHOOL
                   I.     Menciptakan lingkungan TK sebagai tempat bermain dan belajar dengan suasana yang menyenangkan dengan memberikan kesempatan pada anak untuk bereksplorasi, bersosialisasi, kreatif, ceria, dan mandiri.
                II.     Melalui kegiatan bermain dan belajar,pengembangan spiritual, intelektual, dan motoriknya sebagai landasan untuk menghasilkan lulusan anak didik yang berkualitas untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya.
             III.     Tk labschool mempersiapkan anak didik untuk menghadapi kemajuan jaman serta berperan dalam perkembangan ilmu dan teknologi sejak usia dini dengan bekal iman, ilmu, dan amal.

b.      Fasilitas Sekolah
Gedung TK Keseluruhan
  • Tampak Depan
Halaman upacara sampai ke tempat bermain pasir di samping kolam renang.
tampakdepan.jpg
  • Tampak Samping Ruang Tunggu antar jemput.

tampaksamping.jpg
Ruang ( Sarana dan Prasarana ) TK Labschool
  • Ruang Kantor
  • Ruang Guru
  • Ruang Vokal
  • Ruang Poliklinik
  • Kolam Renang
  • Ruang Aula / Theater
  • Ruang Multi Media
  • Ruang Mandi Bola
  • Ruang Outbound
  • Ruang Perpustakaan & Komputer
  • Dapur
  • Ruang Musik
  • Kamar Mandi di tiap lantai (Lt. 1, 2 dan 3)
  • Ruang Tunggu

c.       SDM KB - TK Labschool

Kepala Sekolah                             : Hj. Irnawati Syarif, S.IP., M.MPd
Wakil Kepala Sekolah                   : Dra. Nurhayati, M.Pd

Tata Usaha :
1. Dwi Retnowati, SE
2. Kristina Gita Rini
3. Mylani
Guru :
1.   Dra. Andi Astuti
2.   Dra. Tri Yuni Iswanti
3.   Dila Rahmawati, S.Pd
4.   Sri Wahyuni, S.Pd
5.   Indriani, S.Pd
6.   Murni Asih Apriliani, S.Pd
7.   Titik Fadjarwati, S.Pd
8.  
Lisa Delani, S.Pd

9.   Ade Ahdiat, S.Pd
10.
Maria Chairuri, S.Pd
11. Dra. Erlina Nurlianti
12. Siti Umairoh Hasanah, S.Psi
13. Daim Ridha Kurniasari, S.Pd
14.
Khumaidi Tohar, S.Pd
15. Siti Nurlaelah

Pramubakti :
1. Epon Rohaeti
2. Suhaenia
3. Zaenal Arifin
Guru Ekstra :
Drumband       : Pak Agus dan Pak Edi
Melukis           : Kak Pras, Kak Ihsan, Kak Shinta
Menari             : Ibu Nining
Bahasa Inggris : Mrs. Nia, Mrs. Arma, Mrs. Visa
Musik              : Ibu Dyah
Agama             : Islam (guru kelas masing-masing), Kristen ibu Lisbeth, Hindu ibu Nyoman
POMG            : Berfungsi untuk mengkoordinir WOTK dalam membantu pelaksanaan  
  program sekolah.
WOTK            : Berfungsi untuk membantu kelancaran proses KBM di luar kelas, khususnya
  pada kelas masing-masing.

B.     Penggunaan Penilaian Portofolio dan Analisis Survei Identifikasi Kecerdasan Jamak
Untuk melihat proses penggunaan Penilaian portofolio terlebih dahulu kami mengadakan survei ke KB/TK labschool agar mendapat gambaran yang utuh berkenaan dengan penggunaan penilaian portofolio sebagai Identifikasi Kecerdasan jamak
Berkaitan dengan kondisi riil dan penggunaan penilaian portofolio,  peneliti akan melihat tiga hal: (1) Kurikulum; (2) Proses Belajar Pembelajaran dan Kelas;  (3) karakteristik kecerdasan jamak yang dimiliki oleh anak TK lab school.
Data tentang ketiga unsur ini diperoleh dari sumber  sekolah, guru dan siswa.  Dari sekolah data diambil berkaitan dengan Kurikulum; dari  guru diambil data yang berkaitan dengan proses belajar dan pembelajaran, sedangkan dari siswa diambil data yang berhubungan  dengan  karakteristik kecerdasan jamak yang dimiliki oleh anak TK lab school.
1.      Kurikulum
a.       Pengertian

Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi yang dibakukan dan cara pencapaiannya disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan daerah. Kompetensi perlu dicapai secara tuntas (belajar tuntas). Kurikulum dilaksanakan dalam rangka membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial-emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar.
            Kompetensi Dasar merupakan pengembangan potensi-potensi perkembangan pada anak yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan usianya berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar dan indikator yang dapat diukur dan diamati.
Hasil Belajar merupakan cerminan kemampuan anak yang dicapai dari suatu tahapan pengalaman belajar dalam satu kompetensi dasar.
Indikator merupakan hasil belajar yang lebih spesifik dan terukur dalam satu kompetensi dasar. Apabila serangkaian indikator dalam satu kompetensi dasar sudah tercapai, berarti target kompetensi dasar tersebut sudah terpenuhi.

b.      Fungsi Dan Tujuan

Fungsi pendidikan Taman Kanak-kanak adalah :
  1. Mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak.
  2. Mengenalkan anak dengan dunia sekitar.
  3. Menumbuhkan sikap dan perilaku yang baik.
  4. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi.
  5. Mengembangkan keterampilan, kreatifitas dan kemampuan yang dimiliki anak.
  6. Menyiapkan anak untuk memasuki pendidikan dasar.
Tujuannya adalah:
Membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial-emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar.

c.       Ruang Lingkup

Ruang lingkup kurikulum TK meliputi aspek perkembangan :
1.      Moral dan Nilai-nilai Agama
2.       Sosial, Emosional dan Kemandirian
3.       Kemampuan Berbahasa
4.       Kognitif
5.       Fisik / Motorik
6.       Seni


Untuk menyederhanakan lingkup kurikulum dan menghindari tumpang tindih, serta untuk memudahkan guru menyusun program pembelajaran yang sesuai dengan pengalaman, maka aspek-aspek perkembangan tersebut dipadukan dalam bidang pengembangan yang utuh mencakup :
1.      Bidang Pengembangan Pembentukan Perilaku Melalui Pembiasaan
2.      Bidang Pengembangan Kemampuan Dasar.
3.       Kemampuan Berbahasa
4.       Kognitif
5.      Fisik / Motorik
6.       Seni

2.      Proses Belajar Pembelajaran dan Kelas
Berikut  dijelaskan secara umum dan singkat kegiatan belajar pembelajaran  yang dilakukan di KB dan TK Labschool
  1. Berbaris Saat Masuk Kelas
    Tujuan :
    Leadership : setiap anak diberi kesempatan untuk memimpin kelas secara bergiliran sehingga tumbuh rasa percaya diri dan keberanian
    Kedisiplinan : melatih untuk datang tepat waktu
  2. Meeting Morning ( Pertemuan Pagi )
    Ice breaking : saling berbagi dan menghidupkan suasana melalui nyanyi, do’a dan berbagi cerita
    Greeting : bertegur sapa dengan guru dan teman-teman
    News : penjelasan tema, materi dan pembagian area
  3. Kegiatan Dalam Area
    1. Area Baca Tulis
      Mengembangkan kemampuan berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan.
    2. Area Balok
      Melatih anak untuk mengekspresikan diri, berkreasi, berimajinasi membentuk/membuat bangunan sederhana dengan menggunakan berbagai media seperti lego, puzzle, lasy, howblok, dll.
    3. Area Matematika
      Mengenalkan konsep sederhana matematik, seperti membilang, mengurutkan, membuat konsep permasalahan sehingga mampu memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
    4. Area Drama
      Melatih anak berimajinasi dan mengekspresikan diri secara bebas dan spontan dengan bermain peran seperti dalam kehidupan sebenarnya.
    5. Area Seni
      Untuk menumbuh kembangkan kreatifitas, rasa ingin tahu, daya khayal dan inisiatif anak-anak melalui proses percobaan, penjelajahan berbagai media sehingga mampu menciptakan pengalaman yang kreatif dan berkualitas.
    6. Area Agama
      Mengenalkan Tuhan melalui ciptaan-ciptaan-Nya sehingga tumbuh rasa sayang anak pada sesama makhluk-Nya. Selain itu anak diharapkan mampu mengucapkan bacaan do’a sehari-hari dalam setiap kegiatan beribadahnya.
    7. Area IPA
      Menyeimbangkan rasa ingin tahu alami anak-anak untuk mencari informasi tentang apa yang ada di lingkungan sekitarnya, dengan melalui proses pengamatan – mengukur – membandingkan – memperkirakan dan menjelaskan.
    8. Area Pasir + Air
      Melatih kemampuan koordinasi fisik (seperti jari-tangan-mata-kaki), kekuatan otot dan daya pikir yang dapat diaplikasikan melalui permainan bebas.
    9. Area Musik
      Mengenalkan berbagai macam lagu anak-anak dan alat musik sederhana.
    10. Area Masak
      Menumbuh kembangkan kemampuan motorik halus anak agar dapat membuat makanan / minuman yang dikonsumsi setiap hari secara sederhana.

3.      Pengembangan  Kecerdasan Jamak yang Dilakukan TK Labschool melalui Penilaian Portofolio
Berikut ini kami lampirkan kisi-kisi dan hasil análisis tindakan yang dilakukan oleh TK labschool mengenai identifikasi  kecerdasan jamak yang dimiliki oleh siswa. Data kami peroleh melalui observasi langsung ke TK labschool pada hari kamis tanggal 04 februari 2010

  Tabel 3.21 Kisi-kisi Instrumen Kemampuan Kecerdasan Jamak
Aspek Kecerdasan Jamak
Indikator

Tindakan
Linguistik
1. Menggunakan kalimat yang terdapat kata ”dan, jadi, tetapi, atau”
Praktek
2. Menggunakan kata sambung pada objek kata benda
Praktek
3. Menggunakan kata sambung pada subjek kata benda
Praktek
4. Menggunakan kata kerja dasar (infinitif)
Praktek
5. Menggunakan kata keterangan (adverb) dengan, sebab, hingga, jika, sebelum, dan sesudah
Praktek
6. Menggunakan objek tak langsung, seperti ”menurut saya gambar itu bangus”
Praktek
7. Menggunakan kalimat yang menunjukkan tingkat perbandingan
Praktek
8. Mengikuti tiga perintah yang tidak berhubungan sekaligus
Praktek
9. Mendengarkan cerita yang panjang
Praktek
10. Menggabungkan perintah kata kerja (verbal) kedalam aktivitas bermain
Praktek
11. Memahami urutan suatu kejadian atau aktivitas yang diperintahkan
Praktek
12. Bertanya dengan menggunakan kata tanya kapan, bagaimana, dan mengapa
Praktek
13. Menggunakan kata kerja bantu seperti dapat, akan, mungkin
Praktek
14. Menggabung kalimat
Praktek
15. Mengatakan tentang sesuatu sebab akibat dengan menggunakan kata sebab dan jadi
Praktek
16. Bercerita
Praktek
17. Mengetahui kata dalam syair/puisi dan nyanyian
Praktek
18. Mulai membaca
Praktek
19. Mengajukan pertanyaan yang relevan dengan topik yang ada
Praktek
20. Mulai menulis
Portofolio
Logika Matematik
1. Memberi nama empat sampai enam warna dengan cara menunjuk
Praktek
2. Mencocokkan gambar berdasarkan kesamaan
Portofolio
3. Menggambar orang dan menyebutkan bagian yang digambar melalui bagian tubuh sendiri
Praktek
4. Menghitung luar kepala sampai bilangan lima
Praktek
5. Mengenal posisi tempat tinggal
Praktek
6. Memilih rentang perhatian yang lebih panjang
Praktek
7. Pemahaman konsep fungsi objek yang telah ditetapkan
Praktek
8. Pemahaman konsep waktu dari objek yang telah ditetapkan
Praktek
9. Pemahaman konsep persahabatan secara utuh
Praktek
10. Pemahaman konsep persahabatan berdasarkan bagian-bagian
Praktek
11. Menjelaskan tentang minggu yang lalu
Praktek
12. Menjelaskan tentang sekitar hari ini
Praktek
13. Menjelaskan tentang apa yang akan terjadi besok
Praktek
14. Merencanakan masa depan
Praktek
15. Mengamati dan menghubung-hubungkan informasi yang diperoleh
Praktek
16. Membedakan bentuk bentuk
Portofolio
17. Mencocokkan bagian-bagian bentuk yang berbeda
Praktek
18. Mengetahui ciri-ciri geometris
Praktek
19. Memahami tentang warna dasar
Praktek
20. Berhitung menyelesaikan soal-soal penjumlahan
Portofolio
21. Berhitung menyelesaikan soal-soal pengurangan
Portofolio
Spasial
1. Menggunakan media seni untuk memperoleh informasi
Praktek
2. Menggunakan berbagai peralatan seni
Praktek
3. Menggunakan berbagai teknik berkreasi
Praktek
4. Mengatur unsur-unsur berdasarkan prinsip berkreasi atau struktur berkreasi
Praktek
5. Mengatur unsur-unsur berdasarkan struktur berkreasi
Praktek
6. Mengkomunikasikan gagasan suatu bentuk seni visual
Praktek
7. Mengkomunikasikan sikap melalui suatu bentuk seni visual
Praktek
8. Mengkomunikasikan perasaan melalui suatu bentuk seni visual
Portofolio
9. Mengekspresikan gagasan melalui bentuk seni visual
Praktek
Karakteristik Jasmani
1. Berjalan lurus dengan ayunan langkah yang luwes
Praktek
2. Berlari dengan dapat mengontrol mulai (start), berhenti dan memutar
Praktek
3. Memanjat tangga yang lebih tinggi
Praktek
4. Melempar dengan posisi kaki horisontal dan badan berputar ke kanan dan dengan cepat
Praktek
5. Melempar bola ke kiri
Praktek
6. Melempar dengan posisi melangkahkan kaki kanan ke depan saat bola dilemparkan
Praktek
7. Menggunting bentuk-bentuk lurus
Portofolio
8. Menempel, menggambar, mewarnai
Portofolio
9. Menyusun puzzle
Praktek
10. Berjalan mundur dengan tumit
Praktek
11. Melompat ke depan sepuluh kali tanpa jatuh
Praktek
12. Meroda
Praktek
13. Membuat tanda salib, segi empat
Praktek
14. Mencetak huruf besar
Praktek
15. Memotong makanan yang mudah dipotong dengan pisau
Praktek
16. Mengikat tali sepatu sendiri
Praktek
17. Membantu menyiapkan makanan
Praktek
18. Berpakaian dan mengikat
Praktek
Musikal
1. Bergerak dengan lancar dan luwes mengikuti musik dan ritme
Praktek
2. Gerakan mencongklang, dan melompat untuk memukul dengan bertukar-tukar tempo dan intensitas
Praktek
3. Menikmati musik untuk relaksasi
Praktek
4. Menikmati musik sambil melamun
Praktek
5. Menikmati musik untuk kesenangan
Praktek
6. Menikmati syair/puisi
Praktek
7. Bernyanyi
Praktek
Intrapersonal
1. Melihat dengan perbedaan dan persamaan antara dirinya dengan orang lain
Praktek
2. Memahami dunia ini dari sudut pandang mereka sendiri
Praktek
3. Menikmati kebersamaan dengan orang lain
Praktek
4. Berusaha bersikap menyenangkan dan berempatik dengan orang lain
Praktek
5. Berkompeten melakukan sesuatu
Praktek
6. Menilai kemampuan mereka sendiri dengan tepat dan teliti
Praktek
7. Bersopan santun
Praktek
8. Mengarahkan diri dengan lebih mengendalikan diri
Praktek
9. Menilai (judgement) apakah mereka dapat melakukan sesuatu atau tidak
Praktek
10. Mempunyai perasaan yang kuat, dan perasaan takut yang dapat meningkatkan ketrampilan berimajinasi
Praktek
11. Mulai bertambah kesadaran terhadap realita yang meningkatkan rasa takut
Praktek
Interpersonal
1. Bermain bersama-sama dan berinteraksi
Praktek
2. Berkonsentrasi dalam permainan dramatis sesuai dengan rincian, waktu, dan tempat
Praktek
3. Bermain dengan menghias diri (berdandan)
Praktek
4. Menunjukkan minat untuk mengetahui tentang perbedaan jenis kelamin
Praktek
5. Bergabung dengan satu dan dua orang teman khusus
Praktek
6. Menyukai permainan peran dengan yang lain
Praktek
7. Mempertunjukkan peran tersebut di depan orang yang baru dikenal, bergurau dan menggoda untuk mencari perhatian orang walau kadang-kadang mereka malu-malu
Praktek
8. Menjaga persahabatan dan selalu rindu dengan sebayanya
Praktek
9. Menyadari adanya pengucilan dan akan menolak orang yang tidak disukai
Praktek
10. Bekerjasama
Praktek
11. Berbagi peran
Praktek
12. Mengenali hak atau menghargai pendapat orang lain
Praktek
13. Berpihak
Praktek
14. Gembira bila melakukan sesuatu yang baik
Praktek
Natural
1. Menyenagi hewan peliharaan
Praktek
2. Merawat hewan peliharaan
Praktek
3. Merawat tumbuhan yang ditanam
Praktek
4. Menjaga kebersihan lingkungan
Praktek



Kavale, Kenneth, A., and Steven R. Forness, 19baba

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Sesuai dengan paparan dan analisis data pada  bagian terdahulu, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1.      Dari kisi-kisi yang kami buat ternyata tidak semua kisi-kisi kecerdasan jamak yang kami buat dapat terpenuhi oleh penilaian portofolio. Ini terjadi karena proses belajar dan pembelajaran di TK labschool lebih ditekankan kepada unsur bermain sambil belajar, bukan belajar sambil bermain
2.      Peran Guru, lingkungan dan pola pembelajaran yang diterapkan sangat berpengaruh dalam proses pengembangan kecerdasan jamak yang dimiliki oleh peserta didik
Dengan demikian identifikasi kecerdasan jamak dapat dilakukan dengan menggunakan penilaian portofolio. Walaupun tidak secara utuh dapat terditeksi oleh penilaian portofolio. Walaupun begitu semua itu dapat dijadikan acuan dasar dalam penentuan langkah berikutnya, guna mengoptimalkan potensi anak sampai kepad tiitk optimal. Sehingga tercipta kualitas SDM bangsa Indonesia yang mumpuni.
B.     Saran
Berangkat dari hasil penelitian  sebagaimana dipaparkan di atas, peneliti ingin menyampaikan  beberapa saran sebagai berikut:
1.    Untuk Orangtua agar  menjadikan lembaga TK sebagai wahana yang dapat mengembangkan potensi anak. Sehingga pengajaran di sekolah dengan proses pendidikan di rumah akan berjalan seiring dan sejalan. Sehingga potensi kecerdasan anak akan mencapai titik optimal terlebih lagi anak di usia ini adalah usia golden age
2.     Sekolah diharapkan memberikan kesempatan yang lebih banyak kepada anak untuk bermain. Sehingga proses belajar dan pembelajaran dapat lebih mengasyikkan. Setidaknya tidak ”tergoda” dengan standar yang ditetapkan oleh SD. Sehingga proses pembelajaran di TK dapat terasa betul dengan SD
Bagi penelitian  berikutnya, disarankan pula kiranya dapat mengembangkan hasil penelitian ini dengan melakukan pengembangan metode-metode lain yang bervariasi, lebih menarik dan menyenangkan berdasarkan penggunaan penilaian portofolio  sebagai alat identifikasi kecerdasan jamak siswa dapat lebih meningkat dari sebelumnya.


















Kavale, Kenneth, A., and Steven R. Forness, 19DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zainal. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: CV. Yrama Widya.
Budimansyah, Dasim. 2002. Model Pembelajaran dan Penilaian Berbasis Portofolio. Bandung: PT Genesindo.
Darsono, Max. 2002. Belajar dan Pembelajaran. IKIP Semarang: UNNES Press.
Demetriou, A., & Kazi, Demetriou, A., & Kazi, S. (2006). Self-awareness in g (with processing efficiency and reasoning). Intelligence, 34 , 297-317. Kesadaran diri dalam g (dengan pengolahan efisiensi dan penalaran). Intelijen, 34, 297-317.
Depdiknas, 2004. Praktek Belajar Pengetahuan Sosial Berbasis Portofolio. Bandung: CV. Mini Jaya Abadi.
Dirjen Pendidikan Tinggi. Pendidikan dan Kebudayaan. 1999. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Tim Pelatih Proyek PGSM.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Fajar, Arnie. 2004. Portofolio. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Gardner, Howard.Gardner, Howard. (1983) "Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences." 1983 "Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences." New York: Basic Books . New York: Basic Books.
Gardner, Howard.Gardner, Howard. (1993) "Multiple Intelligences: The Theory In Practice." 1993 "Multiple Intelligences: The Theory Dalam Practice." New York: Basic Books . New York: Basic Books.
Gardner, Howard.Gardner, Howard. (1999) "Intelligence Reframed: Multiple Intelligences for the 21st Century." 1999 "Intelligence Reframed: Multiple Intelligences for the 21st Century." New York: Basic Books . New York: Basic Books.
Gardner, Howard.Gardner, Howard, and Seana Moran.Gardner, Howard, dan Seana Moran. (2006). 2006. The science of Multiple Intelligences theory: A response to Lynn Waterhouse. Ilmu teori Multiple Intelligences: Tanggapan terhadap Lynn Waterhouse. Educational Psychologist, Volume 41, Issue 4, Fall 2006, pp. 227–232. Psikolog pendidikan, Volume 41,
Gardner, H. (2004) Changing minds: The art and science of changing our own and other people's minds.Gardner, H. 2004 Mengubah pikiran: Seni dan ilmu kita sendiri dan mengubah pikiran orang lain. Boston: Harvard Business School Press, p. 196. Boston: Harvard Business School Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar