Selasa, 01 Januari 2013

school management, school climate, community participation, school effectiveness

            HUBUNGAN ANTARA PENGELOLAAN SEKOLAH, IKLIM SEKOLAH, DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN MUTU SEKOLAH DENGAN EFEKTIVITAS SEKOLAH
DI PROVINSI JAWA TIMUR
Oleh : Sediono Abdullah
Editing : Dirgantara Wicaksono

Abstract: The objective of this research is to get information on the relationships among school management, school climate, and community participation in improving educational quality toward school effectiveness at schools which received Piloting School Based Management Program.The research was conducted at the schools in Probolinggo district, East Java Province with n = 100, selected randomly.The research concludes that there is positive correlation between: (1) school management and school effectiveness; (2) school climate and school effectiveness; (3) community participation in improving educational quality and school effectiveness. Furthermore, there is positive correlation between those three independent variables with school effectiveness.Therefore school effectiveness could be improved by enhancing school management, school climate and community participation in improving educational quality.


Keywords: school management, school climate, community participation, school effectiveness

PENDAHULUAN
Penyelenggaraan sekolah yang efektif merupakan tanggungjawab bersama antara Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan Masyarakat sebagai amanat desentralisasi pendidikan. Tujuan penyelenggaraan desentralisasi pendidikan tersebut adalah agar Pemerintah Daerah mampu meningkatkan azas demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. Dengan kebijakan ini, memunculkan bentuk pengelolaan sekolah yang berbasis pada keunggulan lokal dan kekhususan karakteristik sekolah yang disebut dengan manajemen berbasis sekolah  (School Based Management) dan pendidikan yang berbasis masyarakat (Community Based Education). Penerapan  Manajemen Berbasis  Sekolah  (MBS) serta perintisan sekolah yang berbasis masyarakat serta sekolah yang  berbasis keunggulan lokal menuntut  perubahan  dalam   kepemimpinan  Kepala Sekolah dalam mengelola sumberdaya pendidikan di daerah masing-masing. Kepala  Sekolah  harus  mampu  meningkatkan mutu  pendidikan melalui  berbagai pendekatan yang berbasis kepada masyarakat (community based education) dan kebutuhan sekolah (School based management).
Perubahan sistem sentralisasi ke desentralisasi  memberikan   lebih banyak wewenang  kepada  Kepala Sekolah   dan masyarakat   untuk mengembangkan pendidikan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah dalam  mengelola  sumber  dayanya  sendiri. Kenyataan menunjukkan bahwa perjalanan menuju sukses MBS ini tidaklah mudah, ada  sekolah  yang berhasil  menerapkan sistem ini, namun masih ada sebagian juga yang  belum berhasil.  Ciri sekolah yang berhasil menerapkan MBS  adalah  sekolah yang memiliki  Kepala Sekolah, guru, dan masyarakat  yang dapat bekerjasama  secara aktif untuk mengembangkan sekolahnya melalui tiga pilar: pengelolaan sekolah secara mandiri, Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM), dan peranserta masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah. Di sinilah  peran Kepala Sekolah  dituntut adanya  seni memimpin suatu  sekolah sehingga  terjadi kesamaan visi, misi,  dan rencana pengembangan sekolah serta   program-program   yang sinergis antara  warga sekolah  (Kepala Sekolah, guru, tenaga tata usaha dan siswa),  dengan  orang tua  siswa serta  masyarakat.
Dari latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan masalahnya, sebagai berikut: (1) Apakah terdapat hubungan positif antara  pengelolaan sekolah  dengan  efektivitas sekolah? (2) Apakah terdapat  hubungan positif antara  iklim sekolah  dengan  efektivitas  sekolah? (3) Apakah terdapat hubungan positif antara partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah dengan efektivitas  sekolah? (4) Apakah terdapat hubungan positif secara bersama-sama  antara  pengelolaan sekolah, iklim sekolah, dan  partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah dengan  efektivitas  sekolah?
Efektivitas Sekolah. Efektivitas sekolah  merupakan  suatu ukuran yang dapat mengukur seberapa jauh sasaran (baik kuantitas, kualitas, maupun waktu) telah tercapai. Makin besar persentase sasaran atau target yang dicapai, makin tinggi tingkat efektivitasnya. Berdasarkan penelitian di beberapa sekolah, Birmingham (1997) menyebutkan terdapat  tujuh   proses  yang  mempengaruhi   hampir  semua  aktivitas dalam kehidupan sekolah: (1) praktek mengajar dan belajar, (2) latihan  kepemimpinan, (3) praktek manajemen dan  organisasi, (4) praktek dalam review  kolektif, (5) penciptaan lingkungan  yang cocok untuk belajar, (6) promosi dari   pengembangan staf, dan (7) mendorong  keterlibatan   masyarakat dan orang tua. Sekolah yang  efektif pada  pendidikan  dasar  mempunyai  ciri sebagai berikut: (1) Kepemimpinan  yang  bertujuan, (2) keterlibatan  wakil kepala sekolah, (3) keterlibatan guru, (4) konsistensi  diantara  guru, (5) pelajaran yang  terstruktur, (6) intelektual  yang menantang, (7) lingkungan yang  berpusat pada pekerjaan, (8) fokus terbatas dalam sesi, (9) komunikasi yang maksimum antara  guru dan siswa, (10) keterlibatan orang tua, (11) catatan yang teratur, (12) iklim yang  positif. (Paine, et al : 1992).
Terdapat 8 faktor yang mempengaruhi  efektivitas  sekolah  yang disebut juga sebagai  faktor organisasi yaitu: (1) kurikulum yang  terfokus  pada  kepemimpinan sekolah, (2)  iklim yang mendukung  di lingkungan sekolah, (3) menekankan  pada  kurikulum dan pembelajaran, (4) mempunyai tujuan yang jelas dan harapan yang tinggi pada siswa, (5) mempunyai  sistem monitoring terhadap kinerja dan   prestasi, (6) berjalannya pengembangan staf, (7) keterlibatan orang tua dan (8) dukungan dari luar (Schmoker:2006). Selanjutnya dijelaskan kunci untuk mengembangkan  sekolah  secara  berkelanjutan adalah sebagai berikut: (1) bekerja dalam  tim, (2)  mencapai tujuan, (3)  pencatatan data, (4)  hasil yang  cepat, (5)  penelitian, (6)  mendefinisikan ulang hasil, (7)  kesempatan untuk  melaksanakan  tindakan   diantara  daerah  subjek.  Berdasarkan berbagai konsep dan teori di atas, dapat dirumuskan sintesis efektivitas sekolah sebagai berikut: Efektivitas sekolah adalah keberhasilan pencapaian sasaran mutu sekolah dengan  mendayagunakan sumberdaya pendidikan untuk pelaksanaan proses pendidikan, program sekolah dan pencapaian hasil serta tujuan pendidikan di sekolah.
Pengelolaan Sekolah. Menurut Schmoker bahwa proses  pengelolaan sekolah meliputi: (1) perencanaan dan analisis lingkungan sekolah, (2)  perumusan  strategi, (3) implementasi  strategi, (4)  evaluasi  dan pengendalian. Proses pengelolaan sekolah merupakan hasil dari interaksi keempat elemen yaitu  pengamatan dan analisis lingkungan sekolah untuk menyusun perencanaan dan kebijakan sekolah, perumusan strategi, implementasi  strategi dan  evaluasi serta pengendalian. Kepala Sekolah bersama guru dan masyarakat/komite sekolah  mengamati  lingkungan eksternal untuk melihat kesempatan dan ancaman dan mengamati lingkungan internal untuk melihat kekuatan dan   kelemahan.  Faktor-faktor  yang  paling penting untuk  masa depan organisasi sekolah disebut  faktor-faktor strategis yang diringkas dengan S.W.O.T., yaitu  kekuatan (Strengths), kelemahan (Weaknesses), kesempatan (Opportunities),  dan ancaman (Threats). Berdasarkan berbagai konsep dan teori di atas, dapat dirumuskan sintesis pengelolaan sekolah, sebagai berikut: Pengelolaan sekolah adalah sekumpulan  keputusan  dan tindakan   yang menghasilkan  perumusan (formulasi) dan pelaksanaan  (implementasi) kebijakan dan program sekolah  secara bersama-sama untuk  mencapai  sasaran mutu sekolah yang komprehensif.
Iklim Sekolah. Menurut Newell (1978) dikatakan bahwa Iklim organisasi menunjuk pada konsep sistem yang mencerminkan keseluruhan gaya hidup suatu organisasi. Berdasarkan  definisi ini iklim suatu  organisasi  mencakup lingkungan   manusia  di mana pegawai dalam suatu organisasi melakukan pekerjaan.  Owens (1987) menjelaskan lebih lanjut tentang  iklim organisasi “is the study of perceptions that individuals have of various aspects of the environment in the organization” berdasarkan defenisi di atas iklim organisasi dinyatakan sebagai  persepsi yang dimiliki individu tentang aspek lingkungan dalam suatu organisasi. Menurut  Owens iklim sekolah dapat digambarkan sebagai suatu sistem sosial, yang dinyatakan sebagai ”the characteristics of the total environments in school building”. Suatu sistem sekolah  terdiri dari subsistem-subsistem yang saling berinteraksi, dan saling bergantungan satu dengan yang lain untuk mencapai suatu tujuan. Owens lebih lanjut menyatakan empat dimensi yang terkait dengan iklim sekolah sebagai suatu unit organisasi yaitu: (1) ekologi, (2) meliu, (3) sistem sosial dan (4) kebudayaan. Keempat dimensi ini saling berhubungan secara dinamik. Berdasarkan berbagai uraian konsep organisasi dan teori iklim sekolah di atas, dapat dirumuskan sintesis iklim sekolah sebagai berikut: iklim sekolah adalah kondisi dinamis yang mencerminkan karakteristik lingkungan sekolah secara total termasuk penilaian  warga sekolah  dan  hubungan interaksi anggota dalam  organisasi sekolah  yang terdiri dari  dimensi   lingkungan fisik dan lingkungan sosial organisasi.
Partisipasi Masyarakat dalam meningkatkan Mutu Sekolah. Sekolah dalam rintisan program MBS diharapkan dapat berhubungan dengan  keluarga dan masyarakat untuk mendukung  perkembangan  dan pencapaian keberhasilan belajar siswa. Peran masyarakat dalam rintisan manajemen berbasis sekolah diharapkan masyarakat dapat membantu meningkatkan mutu sekolah dengan tetap menyekolahkan anaknya, membiayai keperluan sekolah anaknya, serta bantuan lain yang diperlukan (Hammond:1997,120). Peran  serta masyarakat inipun diatur dalam Peraturan Pemerintah  N0. 39 tahun 1992. Pada pasal 3 berbunyi peran serta masyarakat  adalah  berbagai kegiatan masyarakat  dalam  pendidikan nasional. Adapun Jenis  partisipasi  masyarakat dapat  diuraikan dalam  tujuh komponen yaitu: (1) menggunakan jasa  pelayanan yang  tersedia; (2) peran serta  dengan memberikan  kontribusi  dana,  bahan dan tenaga; (3) peran serta dalam bentuk   keikutsertaan, yang berarti  menerima secara   pasif apa yang   telah diputuskan  oleh pihak lain; (4) peran serta melalui konsultasi  mengenai hal-hal tertentu; (5) keterlibatan dalam   memberikan  pelayanan  tertentu; (6) keterlibatan dalam  pelaksana   kegiatan   yang telah  didelegasikan; (7) peran serta yang sebenarnya  dalam pengambilan keputusan pada berbagai jenjang (Sediono, et al). Berdasarkan berbagai konsep dan teori di atas, dapat dirumuskan sintesis partisipasi masyarakat sebagai berikut: partisipasi masyarakat adalah  kepedulian masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk  kemitraan, penyediaan tenaga, uang dan alat serta bahan, konsultasi dan pelayanan masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah.

METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dengan pendekatan korelasional. Penelitian ini dilaksanakan  pada semua sekolah yang mendapat treatmen rintisan program manajemen berbasis sekolah di  Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur mulai  bulan Agustus sampai  Desember 2008. Adapun sampel sebanyak 100 kepala sekolah yang dipilih secara acak.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan banyaknya variabel dan mengacu pada masalah penelitian, maka deskripsi data dapat dikelompokkan menjadi empat bagian, yaitu: efektivitas sekolah (Y), pengelolaan sekolah (X1), iklim sekolah (X2), dan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah(X3). Data hasil penelitian dideskripsikan pada tabel 1.

Tabel  1
Rangkuman Angka Statistik Data Penelitian

Variabel

Skor Maks.
Skor Min.

Rata2

Median

Modus

SD

Y
X1
X2
X3
214
169
156
115
120
102
102
235
174,54
137,02
129,19
177,75
174
137
130,5
181
170
127
134
142
17,47
13,85
12,37
29,53
                   
Pengujian Persyaratan Analisis
Hasil uji normalitas dan homogenitas data disajikan pada tabel 2 dan 3 sebagai berikut :
Tabel  2
Hasil Pengujian Normalitas
No
Galat Taksiran Regresi
L-hitung
L-tabel
Kesimpulan
1
X1
0,0697  ns
0,0886
Normal
2
X2
0,0764  ns
0,0886
Normal
3
X3
0,0880  ns
0,0886
Normal
            
Keterangan :  ns   : not signifikan 
                         n    : 100, α = 0,05.

Hasil pengujian normalitas di atas menunjukkan bahwa Lhit < Ltab. Hal tersebut berarti bahwa pada a = 0,05 data penelitian berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Uji Homogenitas
Uji homogenitas data dilakukan dengan menggunakan uji Barlett. Pengujian dengan teknik ini dilakukan dengan cara membandingkan harga c²hit dengan harga c²tab. Jika harga c²hit < c²tab, maka varians kedua variabel adalah homogen, dan sebaliknya bila c²hit > c²tab, maka varians kedua variabel tidak homogen. Hasil perhitungan untuk pengujian homogenitas varians skor Y ditinjau dari skor variabel bebas tertera pada tabel 3.

Tabel  3
Hasil Pengujian Homogenitas Varians Kelompok skor Y ditinjau dari Skor Xi

No
Varians Kelompok Skor Y ditinjau dari Xi
c²hit
c²tab
Kesimpulan
1
Y atas X1
36,85
40,1
Homogen
2
Y atas X2
21,82
35,17
Homogen
3
Y atas X3
24,06
37,65
Homogen
Keterangan : n = 100, a  = 0,05

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa pada a = 0,05, varians kelompok skor variabel terikat terhadap skor variabel bebas bersifat homogen.

Pengujian Hipotesis

Hipotesis pertama penelitian ini adalah, terdapat hubungan positif antara pengelolaan sekolah dengan efektivitas sekolah. Pengujian hipotesis pertama dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi Pearson Product Moment. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh koefisien korelasi antara pengelolaan sekolah (X1) dengan efektivitas sekolah(Y), ry1 = 0,76. Angka ini mengisyaratkan bahwa hubungan antara pengelolaan sekolah dengan efektivitas sekolah adalah positif. Uji keberartian koefisien korelasi antara pengelolaan sekolah (X1) dengan efektivitas sekolah dilakukan dengan menggunakan uji-t. Hasil perhitungan pengujian keberartian koefisien korelasi tersebut tertera pada tabel 4.






Tabel  4
Hasil Pengujian Keberartian Korelasi antara X1 dengan Y

n

ry1
thit
ttab α = 0,05
ttab α = 0,01

100


0,76

11,54 **

1,66

2,36
        
Keterangan :
ry1  = koefisien antara X1 dengan Y
**  = koefisien korelasi sangat signifikan (thit = 11,54 > ttab = 2,36  pada  α = 0,01)

Berdasarkan pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara pengelolaan sekolah dengan efektivitas sekolah. Dari koefisien korelasi tersebut dapat dihitung pula koefisien determinasinya (r2y1) yaitu 0,762 = 0,58. Hal ini berarti bahwa 58% dari efektivitas sekolah (Y) dapat dijelaskan oleh pengelolaan sekolah  (X1).
Untuk menjelaskan hubungan antara pengelolaan sekolah dengan efektivitas sekolah, jika variabel iklim sekolah dan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah dikontrol, dilakukan analisis koefisien korelasi parsial. Koefisien korelasi parsial yang diperoleh antara Y dengan X1, dimana X2 dan X3 dikontrol (ry1.23) = 0,325. Uji keberartian koefisien korelasi parsial antara X1 dengan Y, dengan pengontrolan terhadap variabel X2 dan X3 dilakukan dengan uji-t. Hasil uji keberartian korelasi parsial tertera pada tabel 5.

Tabel  5
 Hasil Pengujian Keberartian Koefisien Korelasi Parsial
antara X1 dengan Y

Koefisien Korelasi parsial

rhit
thit
ttab               
α  = 0,05
ttab               
α = 0,01
ry1.2
0,444
4,94 **
1,66
2,36
ry1.3
0,584
7,13 **
1,66
2,36
ry1.23
0,325
3,40 **
1,66
2,36
Keterangan :
**  = koefisien korelasi parsial sangat signifikan (thit = 3,40 > ttab = 2,36 pada    α = 0,01)

Interpretasi dari hasil analisis ini adalah, jika variabel iklim sekolah (X2) dan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah (X3) dikontrol, ternyata variabel pengelolaan sekolah (X1) mempunyai hubungan positif dan berarti dengan efektivitas sekolah (Y).

Hipotesis kedua penelitian ini adalah terdapat hubungan yang positif antara iklim sekolah dengan efektivitas sekolah. Pengujian hipotesis kedua dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi Pearson Product Moment. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh koefisien korelasi antara iklim sekolah (X2) dengan efektivitas sekolah (Y), ry2 = 0,72. Uji keberartian koefisien korelasi antara iklim sekolah (X2) dengan efektivitas sekolah (Y) dilakukan dengan menggunakan uji-t. Hasil perhitungan uji keberartian koefisien korelasi tersebut tertera pada tabel 6.

Tabel  6
Hasil Perhitungan Keberartian Korelasi antara X2 dengan Y
n
ry2
thit
ttabα = 0,05
ttabα = 0,01
100
0,72
10,3 **
1,66
2,36


Keterangan :
ry2   : koefisien korelasi antara X2  dengan Y
**   : koefisien korelasi sangat signifikan (thit = 10,3 > ttab =
         2,36 pada    α = 0,01)

Berdasarkan data pada tabel 6, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan sangat signifikan antara iklim sekolah dengan efektivitas sekolah. Dari koefisien korelasi tersebut dapat dihitung pula koefisien determinasinya (r2y2) sebesar 0,722 = 0,52. Hal ini berarti bahwa 52% dari efektivitas sekolah (Y) dapat dijelaskan oleh iklim sekolah (X2). Untuk menjelaskan hubungan antara iklim sekolah dengan efektivitas sekolah, jika variabel pengelolaan sekolah  dikontrol, dilakukan analisis korelasi parsial. Koefisien korelasi parsial yang diperoleh antara Y dengan X2, dimana X1 dan X3 dikontrol (ry2.13) = 0,296. Uji keberartian koefisien korelasi parsial antara X2 dengan Y, dengan pengontrolan terhadap variabel X1 dan X3 dilakukan dengan uji-t. Hasil uji keberartian korelasi parsial tertera pada tabel 7.

Tabel  7
Hasil Pengujian Keberartian Koefisien Korelasi Parsial antara X2 dengan Y

Koefisien Korelasi parsial
thit
thit
ttab      
 α = 0,05
ttab    
  α = 0,01
ry2.1
0,300
3,11 **
1,66
2,36
ry2.3
0,572
6,91 **
1,66
2,36
ry2.13
0,296
3,08 **
1,66
2,36
Keterangan :
**  : koefisien korelasi parsial sangat signifikan (thit = 3,08 >
      ttab = 2,36 pada         α = 0,01)

Interpretasi dari hasil analisis di atas adalah, jika variabel pengelolaan sekolah (X1) dan partisipasi masyarakat (X3) dikontrol, ternyata variabel iklim sekolah (X2) mempunyai hubungan positif dengan efektivitas sekolah (Y).
Hipotesis ketiga penelitian ini adalah terdapat hubungan yang positif antara partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah dengan efektivitas sekolah. Pengujian hipotesis ketiga dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi Pearson Product Moment. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh koefisien korelasi antara partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah (X3) dengan efektivitas sekolah (Y), ry3 = 0,63. Uji keberartian koefisien korelasi antara partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah (X3) dengan efektivitas sekolah (Y) dilakukan dengan menggunakan uji-t. Hasil perhitungan uji keberartian koefisien korelasi tersebut tertera pada tabel 8.

Tabel  8
Hasil Perhitungan Keberartian Korelasi antara X3 dengan Y
n
ry3
thit
ttab α = 0,05
ttabα = 0,01
100
0,63
7,96 **
1,66
2,36
Keterangan :
ry3   : koefisien korelasi antara X3    dengan Y
**   : koefisien korelasi sangat signifikan (thit = 7,96 > ttab = 2,36  pada  α = 0,01)

Berdasarkan data pada tabel 8, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan sangat signifikan antara partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah dengan efektivitas sekolah. Dari koefisien korelasi tersebut dapat dihitung pula koefisien determinasinya (ry3)2 sebesar 0,632 = 0,39. Hal ini berarti bahwa 39% dari efektivitas sekolah(Y) dapat dijelaskan oleh partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah (X3). Untuk menjelaskan hubungan antara partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah dengan efektivitas sekolah, jika variabel pengelolaan sekolah dan iklim sekolah dikontrol, dilakukan analisis korelasi parsial. Koefisien korelasi parsial yang diperoleh antara Y dengan X3, dimana X1 dan X2 dikontrol (ry3.12) = 0,229. Uji keberartian koefisien korelasi parsial antara X3 dengan Y, dengan pengontrolan terhadap variabel X1 dan X2 dilakukan dengan uji-t. Hasil uji keberartian korelasi parsial tertera pada tabel 9.

Tabel  9
 Hasil Pengujian Keberartian Koefisien Korelasi Parsial antara  X3   dengan Y
Koefisien Korelasi parsial
rhit
thit
ttab     
 α = 0,05
ttab       
α = 0,01
ry3.1
0,235
 2,39 **
1,66
2,36
ry3.2
0,386
 4,15 **
1,66
2,36
ry3.12
0,229
 2,34 *
1,66
2,36
Keterangan :
*   : koefisien korelasi parsial signifikan (thit = 2,34 > ttab =
       1,66 pada α = 0,05)

Interpretasi dari hasil analisis di atas adalah, jika variabel pengelolaan sekolah (X1) dan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah (X3) dikontrol, ternyata variabel iklim sekolah (X2) mempunyai hubungan positif dengan efektivitas sekolah (Y).
Hipotesis keempat penelitian ini adalah terdapat hubungan positif antara pengelolaan sekolah, iklim sekolah, dan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah secara bersama-sama dengan efektivitas sekolah. pengujian hipotesis keempat dengan menggunakan rumus korelasi Pearson Product Moment. Dari hasil perhitungan, diperoleh koefisien korelasi antara pengelolaan sekolah (X1), iklim sekolah (X2), dan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah (X3) secara bersama-sama dengan efektivitas sekolah (Y), Ry.123 = 0,79. Uji keberartian korelasi jamak dilakukan dengan uji F. Hasil perhitungan uji keberartian korelasi jamak tertera pada tabel  10
Tabel  10
 Hasil Pengujian Keberartian Koefisien Korelasi Jamak
n
Ry.123
Fhit
Ftab α = 0,05
Ftab α = 0,01
100
0,79
54,49 **
3,91
6,90
Keterangan :
Ry.123   :  koefisien antara X1,  X2 dan X3 secara bersama-sama
             dengan Y
**       : koefisien korelasi jamak sangat signifikan (Fhit =
           54,49 > Ftab = 6,90  pada α = 0,01)

Berdasarkan hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa hubungan antara pengelolaan sekolah, iklim sekolah, dan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah secara bersama-sama dengan efektivitas sekolah adalah positif. Berdasarkan angka koefisien korelasi tersebut dapat dihitung pula koefisien determinasinya (Ry.123)2 sebesar 0,792= 63%. Hal ini berarti bahwa 63% dari efektivitas sekolah(Y) dapat dijelaskan secara bersama-sama oleh ketiga variabel bebas dalam penelitian ini, yaitu pengelolaan sekolah (X1), iklim sekolah (X2), dan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah (X3).
            Peringkat hubungan antara setiap variabel bebas dengan variabel terikat dalam penelitian ini didasarkan atas perhitungan koefisien korelasi parsial. Ringkasan hasil perhitungan tersebut disajikan pada tabel 11 di bawah ini:
Tabel 11
Ringkasan Hasil Perhitungan Koefisien Korelasi Parsial
Koefisien Korelasi parsial
rhit
Peringkat
ry1.23
0,325
Pertama
ry2.13
0,296
Kedua
ry3.12
0,229
ketiga

Tabel di atas menunjukkan bahwa variabel bebas yang paling kuat hubungannya secara parsial dengan variabel terikat adalah pengelolaan sekolah (X1) sebagai peringkat pertama, diikuti oleh iklim sekolah (X2) dan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah (X3), masing-masing sebagai peringkat kedua dan ketiga.

PENUTUP
Kesimpulan.
Berdasarkan hasil  analisis data yang dikemukakan  dapat  disimpulkan  sebagai berikut: Pertama: terdapat hubungan positif antara variabel pengelolaan sekolah dengan efektivitas sekolah. Hal ini berarti bahwa efektivitas sekolah dapat ditingkatkan dengan pengelolaan sekolah. Pengelolaan sekolah di suatu sekolah  memiliki pengaruh yang amat signifikan untuk meningkatkan   efektivitas sekolah. Dengan kata lain semakin tinggi pengelolaan sekolah di suatu sekolah  maka akan semakin tinggi pula efektivitas sekolah. edua: terdapat hubungan positif dan sangat signifikan antara iklim sekolah dengan efektivitas sekolah. Hal ini berarti bahwa efektivitas sekolah dapat ditingkatkan dengan iklim sekolah. Iklim sekolah memiliki pengaruh yang signifikan pula terhadap peningkatan efektivitas sekolah. Semakin baik iklim sekolah  maka akan semakin  baik pula  efektivitas sekolah. Ketiga: terdapat hubungan positif dan sangat signifikan antara partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah dengan efektivitas sekolah. Hal ini berarti bahwa efektivitas sekolah dapat dijelaskan oleh partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah. Partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah memiliki pengaruh yang signifikan pula  terhadap efektivitas sekolah. Semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah maka akan semakin  tinggi pula efektivitas sekolah. Keempat: terdapat hubungan positif antara pengelolaan sekolah, iklim sekolah, dan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah secara bersama-sama dengan efektivitas sekolah. Hal ini berarti bahwa efektivitas sekolah dapat dijelaskan secara bersama-sama oleh ketiga variabel bebas dalam penelitian ini, yaitu pengelolaan sekolah, iklim sekolah, dan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah. Kesimpulan ini artinya bahwa efektivitas sekolah mempunyai keterkaitan dengan upaya meningkatkan pengelolaan sekolah, iklim sekolah yang  kondusif dan  partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah.

Saran
beberapa saran yang diberikan, yaitu: 1) Sekolah perlu meningkatkan pelaksanan manjemen sekolah yang transparan, akuntabel, efektif, dan partisipatif dengan menumbuhkan sikap disiplin terhadap para guru, pegawai, dan siswa di sekolah. 2) Kepala sekolah melakukan pengambilan keputusan yang tepat dengan menciptakan iklim sekolah yang dinamis, kondusif, menyenangkan dan mengasyikkan  sesuai dengan legitimasi yang dimiliki.3) Sekolah melakukan komunikasi yang efektif kepada seluruh warga sekolah, untuk mendelegasikan dan mengarahkan seluruh guru, pegawai, dan peserta didik dalam melakukan tugas masing-masing di sekolah. 4) Sekolah perlu menjalin hubungan yang harmonis berdasarkan aspirasi dan kebutuhan yang diharapkan masyarakatnya. 5) Dinas Pendidikan, masyarakat, dan instansi terkait dalam penyelenggaraan pendidikan perlu lebih memperhatikan dan membantu upaya peningkatan mutu sekolah.


DAFTAR RUJUKAN

Birmingham, John West. Managing Quality in Schools: Effective Strategies for Quality-Based School Improvement, London: Prentice Hall, 1997.
Darling, Hammond.  The Right to Learner, San Francisco: Jossey –  Bass  Publishers. 1997.
Newell, Clarence A. Human Behavior in Educational Administration, London: Prentice-Hall International, 1978.
Owens, Robert G. Organizational Behaviour in Education, Instructional Leadership and School Reform, 1987
Paine, et al. Total Quality in Education, London: Ashton Scholastic, 1992.
Schmoker, Mike. School and District Improvement, Assesment, Curriculum and Staff Development, Education Leadership, 2006
Taylor, Frederic. Principles of Scientific Management. http://choo.fis.utoronto.ca/FIS/courses/LIS1230/LIS1230Osharma/motive7.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar